Adam ( The First Human )
September 12th, 2005 by photokuAdam tidak tinggal di Syurga !
(Pengupasan ilmiah tentang Jannah dan penerbangan antar planet)
AlQur’an banyak sekali bercerita masalah penciptaan manusia yang
pertama oleh Allah Swt, yaitu Adam hingga kronologi turunnya Adam
bersama sang istri, Siti Hawa, untuk menjadi khalifah dibumi.
Dalam banyak ayat, AlQur’an mengatakan bahwa tempat mula-mula Adam dan Hawa adalah disuatu tempat bernama "Jannah", yang oleh kebanyakan ahli tafsir diterjemahkan sebagai "surga", sebagaimana surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang beriman pada hari kemudian.
Tetapi … benarkah demikian adanya ?
Tidakkah akan dijumpai beberapa kejanggalan dan menimbulkan masalah
yang irrasional dan bertentangan dengan akal pikiran manusia, begitu
memasuki pemahaman AlQur’an lebih jauh lagi ?
Bukankah Allah sendiri mengatakan bahwa
AlQur’an itu adalah kitab petunjuk bagi orang yang bertakwa dan suatu
kitab yang isinya mudah dipahami ?
"Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa."
(QS. 2:2)"Sesungguhnya Kami menjadikan AlQur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)."
(QS. 43:3)
Dan memang, pilihan Allah terhadap bahasa
Arab sebagai bahasa Qur’an agar mudah dipahami rasanya sangat tepat
sekali, karena bahasa Arab adalah bahasa yang kaya akan makna dan gaya
bahasa serta memiliki seni keindahan tersendiri, baik dari tata
bahasanya, cara pelafazannya dan lain sebagainya. Apalagi memang Rasul
Muhammad Saw sendiri diutus dari kalangan bangsa Arab, yang secara
otomatis bahasa Arab menjadi bahasa ibunya.
"Dan jika Kami jadikan dia /sebagai/ bacaan
asing tentulah mereka bertanya : "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya
?". Apakah /patut bahasanya/ asing dan /Rasul adalah orang/ Arab ?"
(QS. 41:44)
Kembali kita pada permasalahan semula,
yaitu mengenai kata-kata Jannah yang disebut didalam AlQur’an sebagai
tempat tinggal Adam dan istrinya sebelum diturunkan kebumi, tidaklah
tepat kita artikan sebagai surga.
Ada pengertian lain yang lebih tepat untuk penafsiran kata Jannah ketimbang dari penafsiran surga, yaitu Kebun yang subur !
Dan memang Jannah dalam bahasa Arab dapat berarti kebun dan dapat juga diartikan sebagai surga.
Dalam hal ini, A. Hassan untuk tafsir Al-Furqan-nya tetap memakai istilah Jannah untuk
tempat tinggal Adam yang pertama kali, dengan menggunakan catatan kaki
pada hal. 10 …."tinggallah di Jannah (kebun atau surga) ini…."
Sementara banyak pula tafsiran lain, termasuk versi Depag RI yang menggunakan pengertian surga untuk tafsiran kata Jannah
Untuk itu, mari kita bahas lebih jauh lagi dengan berdasarkan dalil-dalil Qur’an, logika dan Science modern.
Adam diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah dibumi
Dan sementara itu Adam tinggal di jannah yang terletak disuatu tempat
lalu Adam dan Hawa melanggar atas skenario yang sudah ditentukan Tuhan
selanjutnya Adam dan Hawa dipindahkan atau diturunkan dari Jannah itu
menuju kedunia sebagaimana yang sudah dikehendaki oleh Allah semula.
"Ketika Tuhan-mu berkata kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
jadikan seorang khalifah dibumi !". Mereka bertanya: "Apakah Engkau mau
menjadikan padanya makhluk yang akan membuat bencana padanya dan akan
menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan
memuliakan Engkau ?"
Dia menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui !".
(QS. 2:30)
"Hai Adam ! tinggallah engkau dan istrimu di Jannah serta makanlah oleh kamu berdua apa-apa yang disukai, tetapi janganlah kamu mendekati Syajaratu, karena kamu akan termasuk golongan mereka yang zhalim".
(QS. 7:19)
Mungkinkah Adam saat itu tinggal disurga bersama dengan Jin dan malaikat ?
Ingat … Iblis adalah segolongan dari Jin
Hanya saja saat itu mereka belum ingkar, sampai pada saat perintah sujud kepada Adam
Setan dan Iblis itu adalah dua nama untuk satu mahkluk jahat
Dan Makhluk jahat ini kita klasifikasikan atas 2 :
- Golongan Jin
- Golongan manusia
"Dan ingatlah, ketika Kami memerintah kepada malaikat: "Sujudlah kepada Adam !", lalu mereka sujud kecuali iblis.
Dia adalah dari golongan jin, maka ia durhaka kepada perintah Tuhannya !"
(QS. 18:50)"Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, syaitan-syaitan /dari/ manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kebohongan kepada sebahagian yang lain sebagai tipu daya."
(QS. 6:112)
Sekarang jika kita memahami pengertian Jannah sebagai Surga yang akan kita tempati pula pada hari akhir nanti :
Apakah Adam tinggal disurga bersama jasad kasarnya ?
Apakah dia juga bisa melihat Tuhan ? melihat malaikat ? melihat Jin ?
Bukankah Tuhan berfirman ataupun berkata-kata kepada Adam ? hal ini
mengingat dalam Qur’an tidak ada disebutkan bahwa Tuhan mewahyukan
kepada Adam selama dia masih didalam Jannah melalui perantara Jibril.
Bukankah juga Adam melihat akan sujudnya para malaikat kepada dirinya ? atau tidak ?
Iblis jelas sudah ingkar, tapi kenapa masih ada dalam surga yang suci ?
Buktinya dia masih bisa merayu Adam dan istrinya untuk mendekati Syajarah
dalam terjemahan Indonesia, biasanya ditafsirkan sebagai "pohon terlarang dalam surga"
Adakah hubungan antara Jannah
tempat tinggal Adam pada mulanya itu dengan Jannah yang dikatakan
terletak didekat Sidratul Muntaha, dimana Rasulullah Muhammad Saw
melakukan perjalanan Mi’rajnya seperti pada surah 53:15 ?
Dalam hal ini saya akan mencoba mengupas
semua pertanyaan ini dengan gamblang dan logis, berdasarkan hal-hal
yang dapat diterima oleh akal dan pikiran manusia wajar dan dapat pula
dianalisis dengan ilmu pengetahuan, baik sekarang apalagi dimasa yang
akan datang, InsyaAllah.

Pemahaman & Pendapat Saya
Adam pada mulanya tinggal disebuah kebun yang sangat subur yang terletak disuatu tempat yang tinggi,
Adam memang bisa melihat malaikat dan Jin namun Adam tidak bisa melihat
Tuhan karena halusnya zat dari Tuhan itu sendiri dan bersesuaian dengan
ayat 6:103
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat
melihat segala penglihatan itu karena Dia amat Halus lagi Mengetahui."
(QS. 6:103)
Percakapan yang terjadi antara Tuhan
dengan Adam as dibatasi oleh penghalang yang dalam AlQur’an disebut
dengan tabir/hijab sebagaimana pada ayat 42:51
"Dan tidak bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata kepadanya
melainkan dengan ilham atau dari belakang tabir (hijab) atau Dia
mengirim utusan /malaikat/ lalu dia mewahyukan dengan seizin-Nya
apa-apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha
Bijaksana.
(QS. 42:51)
Dialog dan sujudnya para malaikat dan Jin
terhadap Adam terjadi secara real, juga terhadap ingkarnya Iblis
terjadi secara nyata dihadapan Adam as dengan kata lain disaksikan oleh Adam as.
Hal ini dapat kita terima secara logis,
Dalam ilmu agama, batin atau tenaga dalam, ada yang disebut dengan kasyaf atau tembus pandang
dimana seseorang dapat melihat tembus hal-hal ghaib yang orang lain tidak mampu melihatnya
hal ini seringkali kita temukan dalam dunia sehari-hari
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa itu benar. Dan tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menyaksikan segala sesuatu ?"
(QS. 41:53)
Ayat diatas dapat dipergunakan secara
umum, karena memang amat sangat banyak tanda-tanda kekuasaan dan ilmu
Tuhan itu didalam diri kita selaku manusia ini, baik itu dimulai dari
bentuk jasmani/phisik sampai pada anatomi tubuh bagian dalam, yang
melingkupi sel-sel, tulang, darah dan sebagainya.
Mari kita baca ayat berikut ini :
"Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu – DAN DIKELUARKAN DARI KEADAAN SEMULA – dan Kami berfirman: "Turunlah kamu ! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain,
dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kelengkapan hidup sampai waktu yang ditentukan".
(QS. 2:36)
Keadaan semula ini bisa juga diterjemahkan dengan terkeluar dari keadaan yang mereka sudah ada padanya.
Sekarang yang menjadi pertanyaan…….keluar dari keadaan semula atau
keadaan yang sudah ada pada mereka yang bagaimanakah maksudnya ?
Apakah ini bisa diartikan bahwa Adam dan
Hawa dikeluarkan dari kesucian mereka, bukankah mereka sebelumnya
makhluk yang suci sebelum akhirnya melanggar ?
Ataukah merupakan keluarnya mereka dari
keadaan kasyaf mereka mula-mula yang dapat melihat segala sesuatu
selain zat Allah yang Maha Halus.
Namun, jika kita mengatakan bahwa maksud dari dikeluarkan dari keadaan semula adalah dikeluarkannya Adam dan istrinya dari Jannah, maka hal itu kurang tepat,
sebab pernyataan yang demikian, yaitu masalah pengeluaran Adam ini
disebutkan pada kalimat berikutnya, pada saat Allah berfirman menyuruh
mereka pergi (setelah kesalahannya diampuni oleh Allah).
Silahkan melihat kembali ayat 2:36 tersebut dengan lebih teliti dan lihat juga Surah 20:122 dan 123 !
"Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu !
Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat
kediaman di bumi, dan kelengkapan hidup sampai waktu yang ditentukan".
(QS. 2:36)"Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.
Allah berfirman:Turunlah kamu berdua dari Jannah bersama-sama, sebagian
kamu menjadi musuh sebahagian yang lain. Maka jika datang kepadamu
petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia
tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka."
(QS. 20:122-123)
Pada surah 20:122 dikatakan bahwa Tuhan memilihnya (Adam),
ini bisa kita tafsirkan bahwa Allah memilih Adam atau dalam hal ini
berperan sebagai makhluk manusia yang dekat denganNya dan merupakan
makhluk yang paling mulia dari semua makhluk Allah yang ada yang sudah
diciptakan oleh Allah.
Namun kata Tuhan memilihnya ini
juga bisa kita tafsirkan dengan terpilihnya Adam dari makhluk-makhluk
Allah yang telah lebih dulu ada dan tercipta untuk mendiami planet bumi.
Dan memang benar tidak dijelaskan secara
nyata bahwa Allah akan menunjuk manusia sebagai penghuni bumi, tetapi
pendapat yang demikian kiranya bisa dibantah oleh surah 2:30-34 yang
jelas menunjukkan bahwa Allah telah menjadikan Adam sebagai makhluk
yang akan memegang tampuk kekhalifahan Tuhan dibumi.
"Ketika Tuhan-mu berkata kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
jadikan seorang khalifah dibumi !". Mereka bertanya: "Apakah Engkau mau
menjadikan padanya makhluk yang akan membuat bencana padanya dan akan
menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan
memuliakan Engkau ?"
Dia menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui !".
(QS. 2:30)
"Lalu Dia mengajarkan kepada Adam keterangan-keterangan itu semuanya,
kemudian Dia menunjukkan benda-benda itu kepada para Malaikat seraya
berkata: "Sebutkanlah kepada-Ku keterangan-keterangan ini jika memang
kamu makhluk yang benar !" Mereka menjawab:"Maha Suci Engkau ! tiada
yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
sesungguhnya Engkaulah Yang Mengetahui, Bijaksana."
(QS. 2:31-32)
Catatan :
Sebenarnya terjemahan "Hakim" dengan "Maha bijaksana" pada ayat terakhir 32 (Innaka Antal ‘alimul Hakim) kuranglah tepat, karena arti Hakim ialah Yang mempunyai Hikmah.
Hikmah adalah penciptaan dan penggunaan sesuatu yang sesuai dengan
sifat, guna dan faedahnya. Tetapi disini diartikan dengan "Maha
Bijaksana" karena dianggap arti tersebut hampir mendekati pengertian
"Hakim".
Sekarang jika benar bahwa Adam dapat melihat Iblis, kenapa Adam dapat terpedaya oleh Iblis ?
Bukankah Adam dapat melihat Iblis ?
Benar Adam dapat melihat Iblis pada waktu itu,
tapi Iblis sendiri sejak dia menolak untuk hormat kepada Adam, sudah
bersumpah kepada Tuhan untuk menyesatkan mereka dan keturunannya kelak
dikemudian hari.
Iblis sendiri dan juga Adam, tidak mengetahui bahwa semuanya itu sudah diatur oleh Allah.
Allah menyatakan bahwa Dia akan menjadikan
Adam khalifah dibumi hanya kepada malaikat, bukan kepada Adam dan bukan
juga kepada Jin/Iblis !
Selanjutnya, Allah menciptakan Adam dan disuruhlah malaikat dan Jin untuk bersujud, hormat kepadanya.
Salah satu golongan dari Jin, yaitu Iblis, menolak perintah Allah
tersebut dengan bersombong diri bahwa dia lebih mulia ketimbang Adam
dalam hal kejadiannya.
Allah menegur Iblis dan Iblis memintakan
penangguhan dirinya hingga hari kiamat kelak. Permintaan Iblis
dikabulkan oleh Allah dan jadilah Adam diberikan ujian terhadap Iblis,
sedang Iblis sendiri tidak sadar bahwa dengan godaannya itulah justru
kehendak Allah akan tercapai, yaitu menjadikan Adam dan keturunannya
khalifah dibumi, bukan diJannah tersebut.
Inilah sedikit bukti bahwa Adam dapat melihat para Malaikat, Jin dan Iblis :
Dan dia bersumpah kepada keduanya: "Sesungguhnya aku ini bagi kamu, termasuk dari mereka yang memberi nasehat."
(QS. 7:21)
Bagaimanakah Iblis dapat mengucapkan sumpah pada keduanya jika dia tidak dapat dilihat oleh Adam dan istrinya ?
Belum lagi pada waktu Allah mengingatkan
kepada Adam pada waktu Iblis menyatakan keingkarannya terhadap perintah
Tuhan agar dia sujud, menghormat kepada Adam as, tentunya Adam
menyaksikan peristiwa penolakan Iblis itu dan langsung Allah
mewanti-wanti Adam terhadap makhluk itu :
Lalu Kami berkata: "Hai Adam ! sesungguhnya ini musuh bagimu dan bagi
isterimu, maka janganlah ia mengeluarkan kamu berdua dari Jannah,
karena engkau akan menjadi susah."
(20:117)
Selanjutnya, akan saya ketengahkan satu Hadits Qudsi yang mendukung pendapat bahwa Adam dapat melihat mereka:
Abdullah bin Muhammad bercerita kepada kami, Abdur Razaq bercerita
kepada kami dari Ma’mar dari Hammam dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi
Saw bersabda : "Allah menciptakan Adam, tingginya 60 hasta", kemudian
Allah berfirman: "Pergilah, berilah salam kepada malaikat itu, dan
dengarkan penghormatan mereka kepadamu itulah penghormatanmu dan
penghormatan keturunanmu". Adam berkata: "Assalamu’alaikum /semoga
kesejahteraan tetap atasmu/". Mereka menjawab: "Assalamu’alaikum
warahmatullah /semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu/". Mereka
menambah wa rahmatullah /dan rahmat Allah/. Setiap manusia yang masuk
surga dengan bentuk seperti Adam, penciptaan itu senantiasa berkurang
sampai sekarang."
Ditahrijkan oleh Al Bukhari dalam kitab Bad’ul Khalqi, Bab Khalqu Adam jilid IV, hal 131 dan termaktub dalam buku Kelengkapan Hadist-Qudsi terbitan CV. Toha Putra Semarang yang
aslinya diterbitkan oleh Lembaga AlQur’an dan AlHadist Majelis Tinggi
Urusan Agama Islam Kementrian Waqaf Mesir, Bab 10 : Tentang Penciptaan
Adam halaman 158 s.d 175.
Dan Adam memang berhasil diperdaya oleh Iblis untuk mendekati pohon terlarang
Tapi …. benarkah didalam Jannah atau kebun itu terdapat sebuah pohon
yang terlarang untuk dimakan buahnya oleh Adam dan istri ?
Mari kita tinjau dulu arti pohon terlarang ini dari ayat aslinya :
Istilah yang dipakai oleh Qur’an untuk menyatakannya adalah dengan Syajaratu atau Syajarah yang selalu ditafsirkan oleh para penafsir Qur’an dengan kata pohon.
Padahal tidak demikian adanya.
Istilah Syajaratu memiliki pengertian Pertumbuhan, dan istilah Syajarah berarti Bertumbuh bukan = pohon.
Adapun yang berarti pohon ialah Syajaruh, seperti yang tercantum pada ayat 16/68, 27/60, 36/80 dan 55/6.
Istilah Syajarah atau Syajaratu yang juga berarti ‘Pertumbuhan’ akan kita dapati pada surah 48:18 sbb :
Sesungguhnya Allah telah ridho terhadap orang-orang yang beriman itu ketika mereka berjanji setia kepadamu dibawah ‘Pertumbuhan’,
Dia mengetahui apa yang dihati mereka lalu Dia menurunkan ketentraman
atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang
dekat."
(QS. 48:18)
Pertumbuhan pada terjemahan diatas ini
adalah perkembangan iman atau pertumbuhan Islam sewaktu AlQur’an
diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Waktu itu Allah memberikan
ketenangan dalam hati orang-orang Islam walaupun ketika itu keadaan
musuh sangat membahayakan.
Hal semacam ini terjadi sebagaimana juga pada perjanjian Aqabah pertama /Bai’atul Aqabatil Ula/ yang sering disebut juga dengan nama Bai’atun Nisaa’ /Perjanjian wanita/ karena dalam ba’iat itu ikut seorang wanita bernama ‘Afra binti ‘Abid bin Tsa’labah serta Ba’iatul Aqabah ats Tsaaniyah /Perjanjian Aqabah kedua/
yang masing-masing menyatakan kesiapan dan kesanggupan penduduk Yatsrib
/Madinah/ untuk setia terhadap Nabi dan membela beliau walaupun umat
Islam saat itu masih bisa dihitung dengan jari alias masih dalam
tingkat pertumbuhan.
Dan dengan pengertian serta perbedaan
kedua arti kata itu, maka sekarang bisa diartikan sebagai dilarangnya
Adam oleh Tuhan untuk melakukan persetubuhan/pertumbuhan dengan Hawa
didalam Jannah tersebut, meskipun waktu itu Hawa sudah menjadi istri
dari Adam.
Pertumbuhan itu adalah kata lain untuk pembuahan yang terjadi akibat hubungan suami istri
Karena
itulah ayat AlQur’an tidak melarang Adam ‘Jangan memakan’ atau ‘Jangan
mengambil buah pohon’ tetapi yang dinyatakan kepada Adam adalah ‘Jangan
mendekati pertumbuhan’.
Ingat, sewaktu pertama diciptakan, Adam telah diberitahukan oleh Allah mengenai hakekat segala sesuatunya.
AlQur’an memang melukiskan kejadian
tersebut sedemikian rupanya melalui kalimat-kalimat yang halus dan baik
sehingga menjadi sopan dan indah dengan perkataan Syajarah atau Syajaratu yang oleh para penafsir selama ini diartikan dengan pohon.
Mereka dapat dibujuk oleh Iblis agar
melakukan persetubuhan tersebut lalu keduanya terjebak dan terbuai akan
kenikmatan tersebut sehingga ketika mereka sadar mereka mendapati bahwa
tubuh mereka sudah tidak lagi terbungkus dengan pakaian karena pakaian
mereka sudah terlempar kesana kemari.
Dan ini bersesuaian dengan ayat 7:22 yang
menyatakan bahwa setelah mereka merasakan "buah dari pohon itu" yang
bisa diartikan "hasil /buah/ dari perbuatan mereka tersebut", mereka
tersentak karena menyadari telah dapat melihat aurat masing-masing.
Dan mereka mulai menutupi aurat mereka
dengan daun-daun yang ada dikebun tersebut secara refleks, sebab mereka
tidak sempat lagi berpikir kemana pakaian mereka sebelumnya terlempar
… refkesi ini dapat saja terjadi karena begitu sadar mereka telah
melanggar ketentuan dari Tuhan, saking paniknya mengambil apa saja
untuk menutupi keadaan diri masing-masing, untuk selanjutnya Adam
meminta ampun kepada Allah atas pelanggarannya itu.
Perbuatan Adam ini dinilai oleh Tuhan
sebagai orang yang tidak memiliki kemauan yang kuat untuk memenuhi
perintah Allah sebagaimana ayat 20:115, meskipun memang semuanya itu
adalah kehendak dari Allah agar Adam turun kebumi dan menjadi khalifah
disana.
Apa yang dilakukan oleh Adam dan istrinya
itu, bukan suatu dosa sehingga semua manusia harus mewarisi dosa
turunan mereka itu, Allah memang sebaik-baiknya perencana, jauh sebelum
penciptaan Adam, Allah sudah berfirman akan menjadikannya sebagai
khalifah dibumi, bukan di Jannah, dan Iblis tidak tahu itu sehingga dia
menganggap bahwa dengan turunnya Adam kebumi, Adam akan dibenci oleh
Tuhan dan akan berdosa seumur hidupnya serta akan diwarisi pula oleh
keturunannya.
Sama sekali TIDAK !
Allah sudah mengampuni perbuatan Adam dan istrinya itu.
Adapun turunnya Adam kebumi adalah atas kehendak dan rencana Allah sendiri, bukan rencana Iblis !
Makanya hawa nafsu adalah salah satu dari
sekian banyak hal yang amat berbahaya bagi manusia, dari peradaban dulu
hingga jaman kita sekarang ini dan telah pula diingatkan oleh
Rasulullah Muhammad Saw kepada umatnya sewaktu pulang dari peperangan
Badar serta banyaknya ayat AlQur’an yang mengingatkan manusia perihal
pengendalian hawa nafsu ini.
Dan ini menjadi semacam peringatan keras
sekaligus pelajaran berharga bagi kita sebagai anak cucu Adam, bahwa
betapa sukarnya untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama kepada
perempuan alias nafsu syahwat.
Selanjutnya Adam bersama istrinya itu diberi amanat oleh Allah agar turun kebumi
Itu membuktikan bahwa saat itu mereka tidak berada di Bumi !
Coba perhatikan ulang surah 2:36
"Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman:"Turunlah!"
(QS: 2:36)
"Turunlah" itu adalah kalimah perintah, dan dalam bahasa Qur’annya adalah "ih bithu" , dan arti sebenarnya adalah : "Turun dari tempat yang tinggi.", seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti "Pindah dari satu tempat kesatu tempat lain."
Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Qur’an pada turunnya Nabi Nuh
dari kapal kedaratan, jatuhnya batu dari tempat tinggi dan lain
sebagainya.
Sebagian dari ulama juga berpendapat bahwa
mengenai turunnya Adam ini bukan dari suatu tempat tinggi, katakanlah
suatu planet yang ada diluar bumi ini, tetapi turun derajat dari yang
tinggi kepada yang rendah didasarkan atas keadaan Adam yang telah
berdosa. Sebenarnya pendapat demikian telah ditentang oleh Qur’an dalam
surah 17:70 yang menyatakan bahwa Adam dan keturunannya tetap dipandang
sebagai makhluk ciptaan Allah yang mulia, begitupun oleh surah 20:122
yang menjelaskan bahwa Allah telah memilihnya dan juga memberikan
ampunan dan petunjuk.
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami beri mereka
kendaraan di darat dan di laut, Kami beri mereka rezki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
(QS. 17:70)
Kita melihat bahwa AlQur’an disini juga
tidak menjelaskan secara jelas, dimana Adam dan istrinya itu turun dan
bertempat tinggal setelah diperintah oleh Allah keluar dari Jannah
tersebut. Sehingga tetap akan selalu ada kemungkinan bahwa sebelum Adam
berdiam di planet bumi kita ini, Adam dan istrinya telah terlebih
dahulu turun dan mendiami bumi-bumi lainnya disemesta alam ini dan
berketurunan disana, yang mana keturunan dari mereka ini akan menjadi
Adam-adam pertama ditempat-tempat tersebut untuk selanjutnya mereka
melanjutkan perjalanan mereka keplanet bumi ini sebagai bumi terakhir
yang belum mereka kunjungi, dan merupakan tempat mereka tinggal
selama-lamanya, hingga wafatnya.
AlQur’an sendiri menyatakan bahwa ada banyak sekali terdapat bumi-bumi lainnya diluar planet bumi yang kita diami ini:
Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.
Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya
benar-benar meliputi segala sesuatu.
(QS. 65:12)Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi-bumi itu semuanya
dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dalam
kekuasaanNya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka
persekutukan.
(QS. 39:67)
Kedua ayat yang kita muatkan diatas
menunjukkan dengan pernyataan Allah bahwa bumi ini digandakan,
sedangkan istilah "Ardhu" yang tercantum pada ayat 39:67 adalah Isim
jamak atau noun plural yang dibuktikan dengan istilah "Jamii’aa" yang
berarti semuanya. !
Adapun angka 7 yang
dipakai didalam AlQur’an sebanyak 24 kali adalah untuk maksud yang
bermacam-macam. Angka 7 ini sendiri dalam kaidah bahasa Arab dapat
diartikan untuk menerangkan jumlah "Banyak" atau Tidak terhitung.
Hal ini sama halnya dengan orang-orang Yunani dan orang-orang Romawi yang menyatakan bahwa angka 7 mempunyai arti "Banyak" dalam makna jumlah yang tidak ditentukan.
Dalam Qur’an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada
langit (Sama’), angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan adanya 7
jalan diatas manusia.
Jadi cukup logis jika kita TIDAK
menganggap bahwa Jannah itu sebagai surga yang dijanjikan kepada kita
kelak, sebab jika tidak demikian, akan muncul beragam pertanyaan yang
tidak terpecahkan.
Adapun beberapa pertanyaan tersebut adalah :
- Mungkinkah Adam dan Hawa tinggal disurga bersama Iblis penggoda dengan jasad kasar ?
- Lalu dimana surga tersebut ? Abstrakkah ? Konkretkah ?
- Apakah didunia ini ?
sehingga begitu disuruh turun kedunia mereka seolah hanya tinggal
menjejakkan kaki melangkah seolah Doraemon yang memiliki pintu ajaibnya
? - Lalu bila syurga itu
abstrak, bagaimana bisa Adam dan Hawa tinggal dalam suatu lingkungan
abstrak sementara mereka sendiri terdiri dari materi atau benda yang
berwujud ? - Lalu bagaimana Iblis bisa keluar dari surga pada saat Adam diusir ?
- Jika Iblis memang sudah
diusir dari surga oleh Allah sewaktu pertama kali ia ingkar atas
perintah Allah bagaimana tahu-tahu Iblis bisa menggoda Adam dan Hawa
yang masih disurga ?
- Sedemikian tipisnyakah shelter dari surga itu sehingga bisa ditembus oleh Iblis ?
- Apakah mereka juga makan dan minum dengan benda abstrak ?
- Apakah pakaian mereka juga abstrak ? termasuk daun-daun Jannah yang untuk menutupi tubuh kasar mereka ?
- Apakah benda-benda yang dikenal oleh Adam yang diajarkan oleh Allah 2:31 adalah abstrak ?
Sementara surga itu sendiri sebagaimana
yang disyaratkan oleh Qur’an sebagai suatu tempat yang kekal, dimana
tidak satupun dari makhluk yang bisa keluar dari dalamnya dan tidak
akan ada larangan apa-apa disana karena statusnya adalah sebagai tempat
yang suci dan tempat kebebasan.
"Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya."
(QS. 2:82)
Lainnya lagi, Adam sudah diajarkan oleh Allah perihal nama-nama benda
yang ada pada Jannah tersebut dan itu adalah konkret sebagaimana pula
dengan diri dan keberadaan Adam, Hawa dan lingkungannya adalah nyata
Lalu ketika mereka ada dibumi, toh Adam
dan istrinya terbukti tidak terlalu kaget dengan lingkungan barunya
sebab dia sudah mengenal lingkungan itu karena memang lingkungan bumi
tidak berbeda jauh dengan Jannah tempatnya tinggal pertama kali.
Masalah udara contoh lainnya … jelas
bahwa udara ditempat Adam tinggal dulu adalah sama dengan udara dibumi
ini sebagai zat pernafasannya, begitupula keadaan tanah tempat mereka
berpijak.
Mengenai keadaan Jannah ini, mari kita lihat petunjuk Allah dalam AlQur’an :
"Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh
bagimu dan bagi isterimu, janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua
dari Jannah, yang menyebabkan kamu menjadi aniaya.
Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak
akan telanjang. dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan
tidak akan ditimpa kepanasan".
(QS. 20:117-119)
Apakah dalam surga ada matahari sehingga Adam dapat merasa panas ?
Jelasnya bahwa Jannah itu terletak disuatu tempat diluar planet bumi
dan tempat dimana orang tidak akan pernah merasa lapar dan haus sebab
didalam Jannah alias kebun yang subur itu ada banyak buah-buahan
pengusir rasa lapar dan dahaganya serta tidak akan terkena panas
matahari yang mengorbit didekatnya akibat kerindangan dari pohon-pohon
yang ada didalam kebun itu sendiri. Juga tidak akan telanjang karena
banyak sekali bahan yang dapat dijadikan sebagai pakaian penutup aurat.
Selanjutnya, Adam dan istrinya dikirim
kebumi dengan kendaraan tertentu dari Jannah tersebut yang juga
dikitari oleh Barkah disekeliling mereka sebagaimana juga terjadi pada
Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin pada waktu peristiwa Mi’rajnya.
Masalah Barkah dan perjalanan Nabi Saw ini kita bahas secara panjang lebar pada Mi’raj Nabi Muhammad ke Muntaha (Pengupasan surah An Najm 1 s.d 18) serta Mi’raj Nabi Muhammad ke Muntaha (Pengupasan surah Al Israa 1) yang juga akan diikuti denganMengungkap tentang Buroq, kendaraan penjelajah inter dimensi.
Kita kembali pada Adam dan Hawa, ketika
mereka tiba diplanet bumi kita ini, pesawat/kendaraan mereka itu
dikandaskan oleh Allah disuatu tempat sehingga terpisahlah Adam dan
Hawa untuk sekian lamanya sehingga akhirnya mereka kembali berjumpa di padang Arafah, berjarak 25 Km dari kota Mekkah dan 18 Km dari Mina. (Arti dari Arafah sendiri adalah pertemuan.)
Atau bisa juga jika kita tetap beranalogi
bahwa dari Jannah itu Adam dan istrinya langsung diturunkan keplanet
bumi kita ini tanpa adanya persinggahan dibumi-bumi lainnya, mereka
didaratkan terpisah oleh Allah sebagai pelajaran untuk mereka berdua
agar dapat belajar mengendalikan hawa nafsu mereka masing-masing
sekaligus memberikan kesempatan kepada Adam dan Hawa untuk dapat
beradaptasi dengan lingkungan barunya dibumi ini yang tidak jauh
berbeda dengan keadaan sewaktu mereka masih di Jannah. Hal ini dapat
kita selami dari lamanya waktu mereka berpisah begitu mereka diturunkan
dibumi dari Jannah (menurut salah satu riwayat sekitar 200 tahunan; Wallahu’alam)
Jelasnya saya berpendapat bahwa semuanya terjadi secara logis, sesuai dengan sifat dari AlQur’an yang mengutamakan kelogisannya
Memang benar, bahwa manusia sudah
mengalami penerbangan antar planet atau tata surya, jauh sebelum apa
yang disebut dengan Apollo atau Stasiun Mir dibuat oleh Amerika dan
Rusia
Nabi Adam as bersama istrinya (Siti Hawa),
adalah dua orang manusia ciptaan pertama Tuhan yang juga merupakan
manusia pertama kalinya melakukan perjalanan antar planet atau juga
antar dimensi, yang selanjutnya diteruskan oleh Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin
sebagai Nabi dan Rasul Allah sekaligus sebagai manusia pilot pelopor
penjelajahan ruang angkasa di masa lalu dari keturunan Bani Adam.
Tentunya, penjabaran saya ini akan semakin
membuat kontroversi yang berkepanjangan dari semua rekan-rekan, tetapi
cobalah anda menyimak dengan teliti satu persatu secara perlahan semua
apa yang saya tuliskan disini, dan anda ikuti alur pemikiran saya
dengan cermat.
Dan untuk sementara ini saya baru
menggunakan satu Hadist yang berupa Hadist Qudsi sebagai dalil
pendukung, sebab saya masih melakukan penggalian terhadap AlQur’an
sebagai satu-satunya sumber ilmu yang pasti karena merupakan wahyu
Allah yang terjaga kesuciannya serta berfungsi sebagai dalil yang tidak
terbantahkan !
Sampai saat ini, rasanya masih belum
begitu banyak rahasia-rahasia yang terkandung didalam Qur’an dapat
dipecahkan oleh manusia, meskipun wahyu Allah itu diturunkan sudah
lebih daripada 14 abad yang lalu !!!
Qur’an masih tetap berupa kitab yang penuh
misteri, baik ditinjau dari sudut ilmiah apalagi dari sudut ayat yang
menerangkan tentang hal-hal ghaib.
Jadi makanya saya lebih condong mengatakan bahwa arti Jannah disana adalah kebun yang terletak disuatu tempat diluar bumi alias outer space !
Dan ini tidak bertentangan dengan semua
ayat Qur’an manapun juga, sebab sebagai suatu tempat yang nyata yang
terletak diluar planet bumi, Jannah alias kebun yang subur itu tentunya
siapapun masih dapat memasukinya, karena dia tidak bersifat kekal.
Satu hal lainnya yang semakin menguatkan pendapat ini adalah pernyataan pada surah Al-Jin 72:9 :
"…Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu." (QS. 72:9)
Ayat ini dapat kita hubungkan dengan
pembahasan kita ini bahwa pada masa lalu, memang benar kaum Malaikat,
kaum Jin serta manusia (yang waktu itu Adam dan istrinya) berkumpul
dalam suatu tempat yang bernama Jannah yang terletak di suatu tempat dilangit
Tetapi dengan diturunkannya Adam bersama Hawa kebumi dan diusirnya Iblis dari sana maka tempat tersebut diberikan penjagaan seperti yang termuat dalam ayat ke-8,9 dan 10 dari surah 72 tersebut.
"…kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api." (QS. 72:8)"…Tetapi sekarang barang siapa yang mencoba mendengarkan tentu akan menjumpai panah api yang mengintai." (QS. 72:9)
Ayat-ayat tersebut bersesuaian dengan surah Al-Mulk ayat 5, sekaligus menjadi penjelas apakah panah-panah api itu :
"Sesungguhnya telah Kami hiasi angkasa dunia itu dengan bintang-bintang menyala dan Kami jadikan dia hal yang diancamkan untuk syaitan, dan Kami sediakan semua itu untuk mereka selaku siksaan yang membakar."
(QS. 67:5)
Mari sekarang kita berbicara sedikit mengenai masalah bintang yang menyangkut pengetahuan dan science modern.
Bintang-bintang adalah seperti matahari, benda-benda samawi yang
menjadi wadah fenomena fisik bermacam-macam, yang diantaranya yang
paling mudah dilihat adalah pembuatan cahaya.
Bintang-bintang berbeda ukuran dan
sifatnya, beberapa buah bintang lebih kecil daripada bumi, yang lainnya
beribu kali lebih besar. Karena bintang memancarkan panas dan cahaya,
astronom pernah salah menduga dengan mengira adanya pembakaran dalam
bintang (pendapat ini dikemukakan oleh William Thomson, ahli fisika
Skotlandia yang juga memiliki gelar Lord Kelvin).
Energi bintang dihasilkan karena pengubahan hidrogen (dalam AlQur’an disebut dengan istilah ALMAA’ yang sering diartikan orang dengan Air) menjadi helium. Proses semacam ini yang menghasilkan sejumlah besar energi (dinamai Reaksi Nuklir),
reaksi semacam itu terdapat dalam bom hidrogen. Tetapi reaksi dalam
bintang berlangsung dengan laju tetap, karenanya energi yang terpancar
keluar dapat dikatakan konstan sepanjang jutaan tahun.
Bintang, bahasa Arabnya Najm disebutkan dalam Qur’an 13 kali, kata jamaknya adalah Nujum; akar kata dari berarti Nampak. Sementara gugusan bintang sendiri yang disebut oleh manusia jaman sekarang dengan galaksi, oleh Qur’an disebut sebagai Al-Buruj (tertuang sebagai nama surah ke-85), dan bintang pada waktu malam diberi sifat dalam Qur’an dengan kata Thaariq, artinya yang membakar, dan membakar diri sendiri serta yang menembus. Disini menembus kegelapan waktu malam. Kata yang sama Thaariq, juga dipakai untuk menunjukkan bintang-bintang yang berekor; ekor itu adalah hasil pembakaran didalamnya.
Untuk memberi gambaran yang tepat mengenai bintang yang disifati oleh AlQur’an sebagai Thaariq, bisa kita perhatikan dalam ayat berikut :
"Demi langit dan yang datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang
datang pada malam hari itu ? yaitu bintang yang cahayanya menembus."
(QS. 86:1-3)
Bintang-bintang terbentuk dalam
kabut-kabut debu dan gas yang amat besar (Nebula), permulaan
terbentuknya bintang diawali dengan penumpukan debu dan gas yang
tertarik oleh gaya tarik kesuatu tempat dalam nebula. Gaya yang kuat
itu mendorong debu dan gas menjadi sebuah bola raksasa; ditiap tempat
gaya itu mendorong kearah pusat bola. Walhasil, tekanan dipusat
membesar, dan akibatnya suhu meninggi pula. (Alasan ini pula yang
membuat pompa angin memanas setelah dipergunakan memompa ban sepeda).
Karena itulah pusat bola menjadi panas.
Dan dengan makin mengecilnya bola akibat gaya tarik yang terus menerus
menekan debu dan gas kepusat, menaiklah tekanan dan suhu dipusat bola.
Selang beberapa waktu kemudian gas tersebut menjadi panas menyala dan
lahirlah bintang baru.
Ini pulalah kiranya yang diartikan oleh AlQur’an dalam 67:5 dengan kata bintang menyala.
Jika hidrogen sebuah bintang habis
terpakai, reaksi gaya baru segera mengikutinya dan suhu ditengah
bintang naik, karenanya bintang menggelembung hingga menjadi raksasa
atau maha raksasa. Bersamaan dengan itu terjadi pula perubahan lain.
Bintang besar dapat meledak, bercahaya 100 juta kali lebih terang dari
matahari. Dan bintang yang meledak itu dinamakan dengan Supernova.
Nah, sekarang, mari kita mulai membahas
…… dimanakah letaknya Jannah atau kebun tempat Adam dan istrinya
dulu itu tinggal diluar bumi ? Apakah dalam planet-planet diatas orbit
bumi (seperti Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto dan
planet-planet lainnya yang kedudukannya berada diatas orbit bumi yang
belum diketahui/ditemukan) ? Atau juga terletak diluar galaksi Bima
Sakti kita ini ? Adakah disebutkan oleh Qur’an ? dan bisakah kita
kesana ?
Hal ini mengingat bahwa Bima Sakti
hanyalah satu dari sekian banyaknya (ribuan juta) galaksi yang ada
didalam alam semesta (Pustaka Pengetahuan Modern : Bintang dan Planet
hal.13)
Judul asli : Stars and Planets By Keith Wicks, Grolier International
Inc 1989 dan dialih bahasakan oleh Prof. Dr. Bambang Hidayat (Guru
besar Astronomi di ITB dan Direktur Observatorium Bosscha, ITB),
Editing oleh Ganaco NV, Bandung dan penerbitan oleh PT. Widyadara,
Jakarta.
by : Armasyad
Pada suatu malam :
