Adam ( The First Human )

September 12th, 2005 by photoku

Adam tidak tinggal di Syurga !
(Pengupasan ilmiah tentang Jannah dan penerbangan antar planet)



AlQur’an banyak sekali bercerita masalah penciptaan manusia yang
pertama oleh Allah Swt, yaitu Adam hingga kronologi turunnya Adam
bersama sang istri, Siti Hawa, untuk menjadi khalifah dibumi.

Dalam banyak ayat, AlQur’an mengatakan bahwa tempat mula-mula Adam dan Hawa adalah disuatu tempat bernama "Jannah", yang oleh kebanyakan ahli tafsir diterjemahkan sebagai "surga", sebagaimana surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang beriman pada hari kemudian.

Tetapi … benarkah demikian adanya ?
Tidakkah akan dijumpai beberapa kejanggalan dan menimbulkan masalah
yang irrasional dan bertentangan dengan akal pikiran manusia, begitu
memasuki pemahaman AlQur’an lebih jauh lagi ?

Bukankah Allah sendiri mengatakan bahwa
AlQur’an itu adalah kitab petunjuk bagi orang yang bertakwa dan suatu
kitab yang isinya mudah dipahami ?

 


"Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa."
(QS. 2:2)

"Sesungguhnya Kami menjadikan AlQur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)."
(QS. 43:3)

Dan memang, pilihan Allah terhadap bahasa
Arab sebagai bahasa Qur’an agar mudah dipahami rasanya sangat tepat
sekali, karena bahasa Arab adalah bahasa yang kaya akan makna dan gaya
bahasa serta memiliki seni keindahan tersendiri, baik dari tata
bahasanya, cara pelafazannya dan lain sebagainya. Apalagi memang Rasul
Muhammad Saw sendiri diutus dari kalangan bangsa Arab, yang secara
otomatis bahasa Arab menjadi bahasa ibunya.

 


"Dan jika Kami jadikan dia /sebagai/ bacaan
asing tentulah mereka bertanya : "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya
?". Apakah /patut bahasanya/ asing dan /Rasul adalah orang/ Arab ?"
(QS. 41:44)

 

Kembali kita pada permasalahan semula,
yaitu mengenai kata-kata Jannah yang disebut didalam AlQur’an sebagai
tempat tinggal Adam dan istrinya sebelum diturunkan kebumi, tidaklah
tepat kita artikan sebagai surga.

Ada pengertian lain yang lebih tepat untuk penafsiran kata Jannah ketimbang dari penafsiran surga, yaitu Kebun yang subur !
Dan memang Jannah dalam bahasa Arab dapat berarti kebun dan dapat juga diartikan sebagai surga.

Dalam hal ini, A. Hassan untuk tafsir Al-Furqan-nya tetap memakai istilah Jannah untuk
tempat tinggal Adam yang pertama kali, dengan menggunakan catatan kaki
pada hal. 10 …."tinggallah di Jannah (kebun atau surga) ini…."

Sementara banyak pula tafsiran lain, termasuk versi Depag RI yang menggunakan pengertian surga untuk tafsiran kata Jannah

Untuk itu, mari kita bahas lebih jauh lagi dengan berdasarkan dalil-dalil Qur’an, logika dan Science modern.

Adam diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah dibumi
Dan sementara itu Adam tinggal di jannah yang terletak disuatu tempat
lalu Adam dan Hawa melanggar atas skenario yang sudah ditentukan Tuhan
selanjutnya Adam dan Hawa dipindahkan atau diturunkan dari Jannah itu
menuju kedunia sebagaimana yang sudah dikehendaki oleh Allah semula.

 


"Ketika Tuhan-mu berkata kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
jadikan seorang khalifah dibumi !". Mereka bertanya: "Apakah Engkau mau
menjadikan padanya makhluk yang akan membuat bencana padanya dan akan
menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan
memuliakan Engkau ?"
Dia menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui !".
(QS. 2:30)


"Hai Adam ! tinggallah engkau dan istrimu di Jannah serta makanlah oleh kamu berdua apa-apa yang disukai, tetapi janganlah kamu mendekati Syajaratu, karena kamu akan termasuk golongan mereka yang zhalim".
(QS. 7:19)

 

Mungkinkah Adam saat itu tinggal disurga bersama dengan Jin dan malaikat ?
Ingat … Iblis adalah segolongan dari Jin
Hanya saja saat itu mereka belum ingkar, sampai pada saat perintah sujud kepada Adam
Setan dan Iblis itu adalah dua nama untuk satu mahkluk jahat
Dan Makhluk jahat ini kita klasifikasikan atas 2 :

  1. Golongan Jin
  2. Golongan manusia


"Dan ingatlah, ketika Kami memerintah kepada malaikat: "Sujudlah kepada Adam !", lalu mereka sujud kecuali iblis.
Dia adalah dari golongan jin, maka ia durhaka kepada perintah Tuhannya !"
(QS. 18:50)

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh,  syaitan-syaitan /dari/ manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kebohongan kepada sebahagian yang lain sebagai tipu daya."
(QS. 6:112)

 

Sekarang jika kita memahami pengertian Jannah sebagai Surga yang akan kita tempati pula pada hari akhir nanti :

Apakah Adam tinggal disurga bersama jasad kasarnya ?
Apakah dia juga bisa melihat Tuhan ? melihat malaikat ? melihat Jin ?
Bukankah Tuhan berfirman ataupun berkata-kata kepada Adam ? hal ini
mengingat dalam Qur’an tidak ada disebutkan bahwa Tuhan mewahyukan
kepada Adam selama dia masih didalam Jannah melalui perantara Jibril.
Bukankah juga Adam melihat akan sujudnya para malaikat kepada dirinya ? atau tidak ?

Iblis jelas sudah ingkar, tapi kenapa masih ada dalam surga yang suci ?
Buktinya dia masih bisa merayu Adam dan istrinya untuk mendekati Syajarah
dalam terjemahan Indonesia, biasanya ditafsirkan sebagai "pohon terlarang dalam surga"

Adakah hubungan antara Jannah
tempat tinggal Adam pada mulanya itu dengan Jannah yang dikatakan
terletak didekat Sidratul Muntaha, dimana Rasulullah Muhammad Saw
melakukan perjalanan Mi’rajnya seperti pada surah 53:15  ?

Dalam hal ini saya akan mencoba mengupas
semua pertanyaan ini dengan gamblang dan logis, berdasarkan hal-hal
yang dapat diterima oleh akal dan pikiran manusia wajar dan dapat pula
dianalisis dengan ilmu pengetahuan, baik sekarang apalagi dimasa yang
akan datang, InsyaAllah.

 


Pemahaman & Pendapat Saya

Adam pada mulanya tinggal disebuah kebun yang sangat subur yang terletak disuatu tempat yang tinggi,
Adam memang bisa melihat malaikat dan Jin namun Adam tidak bisa melihat
Tuhan karena halusnya zat dari Tuhan itu sendiri dan bersesuaian dengan
ayat 6:103

 


"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat
melihat segala penglihatan itu karena Dia amat Halus lagi Mengetahui."
(QS. 6:103)

 

Percakapan yang terjadi antara Tuhan
dengan Adam as dibatasi oleh penghalang yang dalam AlQur’an disebut
dengan tabir/hijab sebagaimana pada ayat 42:51

 


"Dan tidak bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata kepadanya
melainkan dengan ilham atau dari belakang tabir (hijab) atau Dia
mengirim utusan /malaikat/ lalu dia mewahyukan dengan seizin-Nya
apa-apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha
Bijaksana.
(QS. 42:51)

 

Dialog dan sujudnya para malaikat dan Jin
terhadap Adam terjadi secara real, juga terhadap ingkarnya Iblis
terjadi secara nyata dihadapan Adam as dengan kata lain disaksikan oleh Adam as.

Hal ini dapat kita terima secara logis,
Dalam ilmu agama, batin atau tenaga dalam, ada yang disebut dengan kasyaf atau tembus pandang
dimana seseorang dapat melihat tembus hal-hal ghaib yang orang lain tidak mampu melihatnya
hal ini seringkali kita temukan dalam dunia sehari-hari

 


"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa itu benar. Dan tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menyaksikan segala sesuatu ?"
(QS. 41:53)

 

Ayat diatas dapat dipergunakan secara
umum, karena memang amat sangat banyak tanda-tanda kekuasaan dan ilmu
Tuhan itu didalam diri kita selaku manusia ini, baik itu dimulai dari
bentuk jasmani/phisik sampai pada anatomi tubuh bagian dalam, yang
melingkupi sel-sel, tulang, darah dan sebagainya.


Mari kita baca ayat berikut ini :

 


"Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu – DAN DIKELUARKAN DARI KEADAAN SEMULA – dan Kami berfirman: "Turunlah kamu ! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain,
dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi,  dan kelengkapan hidup sampai waktu yang ditentukan".
(QS. 2:36)

 

Keadaan semula ini bisa juga diterjemahkan dengan terkeluar dari keadaan yang mereka sudah ada padanya.
Sekarang yang menjadi pertanyaan…….keluar dari keadaan semula atau
keadaan yang sudah ada pada mereka yang bagaimanakah maksudnya ?

Apakah ini bisa diartikan bahwa Adam dan
Hawa dikeluarkan dari kesucian mereka, bukankah mereka sebelumnya
makhluk yang suci sebelum akhirnya melanggar ?

Ataukah merupakan keluarnya mereka dari
keadaan kasyaf mereka mula-mula yang dapat melihat segala sesuatu
selain zat Allah yang Maha Halus.

Namun, jika kita mengatakan bahwa maksud dari dikeluarkan dari keadaan semula adalah dikeluarkannya Adam dan istrinya dari Jannah, maka hal itu kurang tepat,
sebab pernyataan yang demikian, yaitu masalah pengeluaran Adam ini
disebutkan pada kalimat berikutnya, pada saat Allah berfirman menyuruh
mereka pergi (setelah kesalahannya diampuni oleh Allah).

Silahkan melihat kembali ayat 2:36 tersebut dengan lebih teliti dan lihat juga Surah 20:122 dan 123 !

 

"Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu !
Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat
kediaman di bumi, dan kelengkapan hidup sampai waktu yang ditentukan
".
(QS. 2:36)

"Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.
Allah berfirman:Turunlah kamu berdua dari Jannah bersama-sama, sebagian
kamu menjadi musuh sebahagian yang lain. Maka jika datang kepadamu
petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia
tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka."
(QS. 20:122-123)

 

Pada surah 20:122 dikatakan bahwa Tuhan memilihnya (Adam),
ini bisa kita tafsirkan bahwa Allah memilih Adam atau dalam hal ini
berperan sebagai makhluk manusia yang dekat denganNya dan merupakan
makhluk yang paling mulia dari semua makhluk Allah yang ada yang sudah
diciptakan oleh Allah.

Namun kata Tuhan memilihnya ini
juga bisa kita tafsirkan dengan terpilihnya Adam dari makhluk-makhluk
Allah yang telah lebih dulu ada dan tercipta untuk mendiami planet bumi.

Dan memang benar tidak dijelaskan secara
nyata bahwa Allah akan menunjuk manusia sebagai penghuni bumi, tetapi
pendapat yang demikian kiranya bisa dibantah oleh surah 2:30-34 yang
jelas menunjukkan bahwa Allah telah menjadikan Adam sebagai makhluk
yang akan memegang tampuk kekhalifahan Tuhan dibumi.

 


"Ketika Tuhan-mu berkata kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
jadikan seorang khalifah dibumi !". Mereka bertanya: "Apakah Engkau mau
menjadikan padanya makhluk yang akan membuat bencana padanya dan akan
menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan
memuliakan Engkau ?"
Dia menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui !".
(QS. 2:30)


"Lalu Dia mengajarkan kepada Adam keterangan-keterangan itu semuanya,
kemudian Dia menunjukkan benda-benda itu kepada para Malaikat seraya
berkata: "Sebutkanlah kepada-Ku keterangan-keterangan ini jika memang
kamu makhluk yang benar !" Mereka menjawab:"Maha Suci Engkau ! tiada
yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
sesungguhnya Engkaulah Yang Mengetahui, Bijaksana."
(QS. 2:31-32)

 


Catatan :
Sebenarnya terjemahan "Hakim" dengan "Maha bijaksana" pada ayat terakhir 32 (Innaka Antal ‘alimul Hakim) kuranglah tepat, karena arti Hakim ialah Yang mempunyai Hikmah.
Hikmah adalah penciptaan dan penggunaan sesuatu yang sesuai dengan
sifat, guna dan faedahnya. Tetapi disini diartikan dengan "Maha
Bijaksana" karena dianggap arti tersebut hampir mendekati pengertian
"Hakim".

Sekarang jika benar bahwa Adam dapat melihat Iblis, kenapa Adam dapat terpedaya oleh Iblis ?
Bukankah Adam dapat melihat Iblis ?

Benar Adam dapat melihat Iblis pada waktu itu,
tapi Iblis sendiri sejak dia menolak untuk hormat kepada Adam, sudah
bersumpah kepada Tuhan untuk menyesatkan mereka dan keturunannya kelak
dikemudian hari.
Iblis sendiri dan juga Adam, tidak mengetahui bahwa semuanya itu sudah diatur oleh Allah.

Allah menyatakan bahwa Dia akan menjadikan
Adam khalifah dibumi hanya kepada malaikat, bukan kepada Adam dan bukan
juga kepada Jin/Iblis !

Selanjutnya, Allah menciptakan Adam dan disuruhlah malaikat dan Jin untuk bersujud, hormat kepadanya.
Salah satu golongan dari Jin, yaitu Iblis, menolak perintah Allah
tersebut dengan bersombong diri bahwa dia lebih mulia ketimbang Adam
dalam hal kejadiannya.

Allah menegur Iblis dan Iblis memintakan
penangguhan dirinya hingga hari kiamat kelak. Permintaan Iblis
dikabulkan oleh Allah dan jadilah Adam diberikan ujian terhadap Iblis,
sedang Iblis sendiri tidak sadar bahwa dengan godaannya itulah justru
kehendak Allah akan tercapai, yaitu menjadikan Adam dan keturunannya
khalifah dibumi, bukan diJannah tersebut.

Inilah sedikit bukti bahwa Adam dapat melihat para Malaikat, Jin dan Iblis :

 


Dan dia bersumpah kepada keduanya: "Sesungguhnya aku ini bagi kamu, termasuk dari mereka yang memberi nasehat."
(QS. 7:21)

 

Bagaimanakah Iblis dapat mengucapkan sumpah pada keduanya jika dia tidak dapat dilihat oleh Adam dan istrinya ?

Belum lagi pada waktu Allah mengingatkan
kepada Adam pada waktu Iblis menyatakan keingkarannya terhadap perintah
Tuhan agar dia sujud, menghormat kepada Adam as, tentunya Adam
menyaksikan peristiwa penolakan Iblis itu dan langsung Allah
mewanti-wanti Adam terhadap makhluk itu :

 


Lalu Kami berkata: "Hai Adam ! sesungguhnya ini musuh bagimu dan bagi
isterimu, maka janganlah ia mengeluarkan kamu berdua dari Jannah,
karena engkau akan menjadi susah."
(20:117)

 

Selanjutnya, akan saya ketengahkan satu Hadits Qudsi yang mendukung pendapat bahwa Adam dapat melihat mereka:

 


Abdullah bin Muhammad bercerita kepada kami, Abdur Razaq bercerita
kepada kami dari Ma’mar dari Hammam dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi
Saw bersabda : "Allah menciptakan Adam, tingginya 60 hasta", kemudian
Allah berfirman: "Pergilah, berilah salam kepada malaikat itu, dan
dengarkan penghormatan mereka kepadamu itulah penghormatanmu dan
penghormatan keturunanmu". Adam berkata: "Assalamu’alaikum /semoga
kesejahteraan tetap atasmu/". Mereka menjawab: "Assalamu’alaikum
warahmatullah /semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu/". Mereka
menambah wa rahmatullah /dan rahmat Allah/. Setiap manusia yang masuk
surga dengan bentuk seperti Adam, penciptaan itu senantiasa berkurang
sampai sekarang."

 

Ditahrijkan oleh Al Bukhari dalam kitab Bad’ul Khalqi, Bab Khalqu Adam jilid IV, hal 131 dan termaktub dalam buku Kelengkapan Hadist-Qudsi terbitan CV. Toha Putra Semarang yang
aslinya diterbitkan oleh Lembaga AlQur’an dan AlHadist Majelis Tinggi
Urusan Agama Islam Kementrian Waqaf Mesir, Bab 10 : Tentang Penciptaan
Adam halaman 158 s.d 175.

Dan Adam memang berhasil diperdaya oleh Iblis untuk mendekati  pohon terlarang
Tapi …. benarkah didalam Jannah atau kebun itu terdapat sebuah pohon
yang terlarang untuk dimakan buahnya oleh Adam dan istri ?

Mari kita tinjau dulu arti pohon terlarang ini dari ayat aslinya :

Istilah yang dipakai oleh Qur’an untuk menyatakannya adalah dengan Syajaratu atau Syajarah yang selalu ditafsirkan oleh para penafsir Qur’an dengan kata pohon.

Padahal tidak demikian adanya.

Istilah Syajaratu memiliki pengertian Pertumbuhan, dan istilah Syajarah berarti Bertumbuh bukan = pohon.
Adapun yang berarti pohon ialah Syajaruh, seperti yang tercantum pada ayat 16/68, 27/60, 36/80 dan 55/6.

Istilah Syajarah atau Syajaratu yang juga berarti ‘Pertumbuhan’ akan kita dapati pada surah 48:18 sbb :

 


Sesungguhnya Allah telah ridho terhadap orang-orang yang beriman itu ketika mereka berjanji setia kepadamu dibawah
‘Pertumbuhan’,
Dia mengetahui apa yang dihati mereka lalu Dia menurunkan ketentraman
atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang
dekat."
(QS. 48:18)

Pertumbuhan pada terjemahan diatas ini
adalah perkembangan iman atau pertumbuhan Islam sewaktu AlQur’an
diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Waktu itu Allah memberikan
ketenangan dalam hati orang-orang Islam walaupun ketika itu keadaan
musuh sangat membahayakan.

Hal semacam ini terjadi sebagaimana juga pada perjanjian Aqabah pertama /Bai’atul Aqabatil Ula/  yang sering disebut juga dengan nama Bai’atun Nisaa’ /Perjanjian wanita/ karena dalam ba’iat itu ikut seorang wanita bernama ‘Afra binti ‘Abid bin Tsa’labah serta Ba’iatul Aqabah ats Tsaaniyah /Perjanjian Aqabah kedua/
yang masing-masing menyatakan kesiapan dan kesanggupan penduduk Yatsrib
/Madinah/ untuk setia terhadap Nabi dan membela beliau walaupun umat
Islam saat itu masih bisa dihitung dengan jari alias masih dalam
tingkat pertumbuhan.

Dan dengan pengertian serta perbedaan
kedua arti kata itu, maka sekarang bisa diartikan sebagai dilarangnya
Adam oleh Tuhan untuk melakukan persetubuhan/pertumbuhan dengan Hawa
didalam Jannah tersebut, meskipun waktu itu Hawa sudah menjadi istri
dari Adam.

Pertumbuhan itu adalah kata lain untuk pembuahan yang terjadi akibat hubungan suami istri
Karena
itulah ayat AlQur’an tidak melarang Adam ‘Jangan memakan’ atau ‘Jangan
mengambil buah pohon’ tetapi yang dinyatakan kepada Adam adalah ‘Jangan
mendekati pertumbuhan’.

Ingat, sewaktu pertama diciptakan, Adam telah diberitahukan oleh Allah mengenai hakekat segala sesuatunya.

AlQur’an memang melukiskan kejadian
tersebut sedemikian rupanya melalui kalimat-kalimat yang halus dan baik
sehingga menjadi sopan dan indah dengan perkataan Syajarah atau Syajaratu yang oleh para penafsir selama ini diartikan dengan pohon.

Mereka dapat dibujuk oleh Iblis agar
melakukan persetubuhan tersebut lalu keduanya terjebak dan terbuai akan
kenikmatan tersebut sehingga ketika mereka sadar mereka mendapati bahwa
tubuh mereka sudah tidak lagi terbungkus dengan pakaian karena pakaian
mereka sudah terlempar kesana kemari.

Dan ini bersesuaian dengan ayat 7:22 yang
menyatakan bahwa setelah mereka merasakan "buah dari pohon itu" yang
bisa diartikan "hasil /buah/ dari perbuatan mereka tersebut", mereka
tersentak karena menyadari telah dapat melihat aurat masing-masing.

Dan mereka mulai menutupi aurat mereka
dengan daun-daun yang ada dikebun tersebut secara refleks, sebab mereka
tidak sempat lagi berpikir kemana pakaian mereka sebelumnya terlempar
… refkesi ini dapat saja terjadi karena begitu sadar mereka telah
melanggar ketentuan dari Tuhan, saking paniknya mengambil apa saja
untuk menutupi keadaan diri masing-masing, untuk selanjutnya Adam
meminta ampun kepada Allah atas pelanggarannya itu.

Perbuatan Adam ini dinilai oleh Tuhan
sebagai orang yang tidak memiliki kemauan yang kuat untuk memenuhi
perintah Allah sebagaimana ayat 20:115, meskipun memang semuanya itu
adalah kehendak dari Allah agar Adam turun kebumi dan menjadi khalifah
disana.

Apa yang dilakukan oleh Adam dan istrinya
itu, bukan suatu dosa sehingga semua manusia harus mewarisi dosa
turunan mereka itu, Allah memang sebaik-baiknya perencana, jauh sebelum
penciptaan Adam, Allah sudah berfirman akan menjadikannya sebagai
khalifah dibumi, bukan di Jannah, dan Iblis tidak tahu itu sehingga dia
menganggap bahwa dengan turunnya Adam kebumi, Adam akan dibenci oleh
Tuhan dan akan berdosa seumur hidupnya serta akan diwarisi pula oleh
keturunannya.

Sama sekali TIDAK !
Allah sudah mengampuni perbuatan Adam dan istrinya itu.
Adapun turunnya Adam kebumi adalah atas kehendak dan rencana Allah sendiri, bukan rencana Iblis !

Makanya hawa nafsu adalah salah satu dari
sekian banyak hal yang amat berbahaya bagi manusia, dari peradaban dulu
hingga jaman kita sekarang ini dan telah pula diingatkan oleh
Rasulullah Muhammad Saw kepada umatnya sewaktu pulang dari peperangan
Badar serta banyaknya ayat AlQur’an yang mengingatkan manusia perihal
pengendalian hawa nafsu ini.

Dan ini menjadi semacam peringatan keras
sekaligus pelajaran berharga bagi kita sebagai anak cucu Adam, bahwa
betapa sukarnya untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama kepada
perempuan alias nafsu syahwat.

Selanjutnya Adam bersama istrinya itu diberi amanat oleh Allah agar turun kebumi
Itu membuktikan bahwa saat itu mereka tidak berada di Bumi !

Coba perhatikan ulang surah 2:36


"Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman:"Turunlah!"
(QS: 2:36)

"Turunlah" itu adalah kalimah perintah, dan dalam bahasa Qur’annya adalah "ih bithu" , dan arti sebenarnya adalah : "Turun dari tempat yang tinggi.", seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti "Pindah dari satu tempat kesatu tempat lain."
Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Qur’an pada turunnya Nabi Nuh
dari kapal kedaratan, jatuhnya batu dari tempat tinggi dan lain
sebagainya.

Sebagian dari ulama juga berpendapat bahwa
mengenai turunnya Adam ini bukan dari suatu tempat tinggi, katakanlah
suatu planet yang ada diluar bumi ini, tetapi turun derajat dari yang
tinggi kepada yang rendah didasarkan atas keadaan Adam yang telah
berdosa. Sebenarnya pendapat demikian telah ditentang oleh Qur’an dalam
surah 17:70 yang menyatakan bahwa Adam dan keturunannya tetap dipandang
sebagai makhluk ciptaan Allah yang mulia, begitupun oleh surah 20:122
yang menjelaskan bahwa Allah telah memilihnya dan juga memberikan
ampunan dan petunjuk.

 


Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami beri mereka
kendaraan di darat dan di laut, Kami beri mereka rezki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
(QS. 17:70)

 

Kita melihat bahwa AlQur’an disini juga
tidak menjelaskan secara jelas, dimana Adam dan istrinya itu turun dan
bertempat tinggal setelah diperintah oleh Allah keluar dari Jannah
tersebut. Sehingga tetap akan selalu ada kemungkinan bahwa sebelum Adam
berdiam di planet bumi kita ini, Adam dan istrinya telah terlebih
dahulu turun dan mendiami bumi-bumi lainnya disemesta alam ini dan
berketurunan disana, yang mana keturunan dari mereka ini akan menjadi
Adam-adam pertama ditempat-tempat tersebut untuk selanjutnya mereka
melanjutkan perjalanan mereka keplanet bumi ini sebagai bumi terakhir
yang belum mereka kunjungi, dan merupakan tempat mereka tinggal
selama-lamanya, hingga wafatnya.

AlQur’an sendiri menyatakan bahwa ada banyak sekali terdapat bumi-bumi lainnya diluar planet bumi yang kita diami ini:

 


Allah lah yang menciptakan tujuh langit
dan seperti itu pula bumi.
Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya
benar-benar meliputi segala sesuatu.
(QS. 65:12)

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi-bumi itu semuanya
dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dalam
kekuasaanNya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka
persekutukan.
(QS. 39:67)

Kedua ayat yang kita muatkan diatas
menunjukkan dengan pernyataan Allah bahwa bumi ini digandakan,
sedangkan istilah "Ardhu" yang tercantum pada ayat 39:67 adalah Isim
jamak atau noun plural yang dibuktikan dengan istilah "Jamii’aa" yang
berarti semuanya. !

Adapun angka 7 yang
dipakai didalam AlQur’an sebanyak 24 kali adalah untuk maksud yang
bermacam-macam. Angka 7 ini sendiri dalam kaidah bahasa Arab dapat
diartikan untuk menerangkan jumlah "Banyak" atau Tidak terhitung.

Hal ini sama halnya dengan orang-orang Yunani dan orang-orang Romawi yang menyatakan bahwa angka 7 mempunyai arti "Banyak" dalam makna jumlah yang tidak ditentukan.
Dalam Qur’an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada
langit (Sama’), angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan adanya 7
jalan diatas manusia.

Jadi cukup logis jika kita TIDAK
menganggap bahwa Jannah itu sebagai surga yang dijanjikan kepada kita
kelak, sebab jika tidak demikian, akan muncul beragam pertanyaan yang
tidak terpecahkan.

Adapun beberapa pertanyaan tersebut adalah  :

 

  1. Mungkinkah Adam dan Hawa tinggal disurga bersama Iblis penggoda dengan jasad kasar ?
  2. Lalu dimana surga tersebut ? Abstrakkah ? Konkretkah ?
  3. Apakah didunia ini ?
    sehingga begitu disuruh turun kedunia mereka seolah hanya tinggal
    menjejakkan kaki melangkah seolah Doraemon yang memiliki pintu ajaibnya
    ?

     

  4. Lalu bila syurga itu
    abstrak, bagaimana bisa Adam dan Hawa tinggal dalam suatu lingkungan
    abstrak sementara mereka sendiri terdiri dari materi atau benda yang
    berwujud ?

     

  5. Lalu bagaimana Iblis bisa keluar dari surga pada saat Adam diusir ?
  6. Jika Iblis memang sudah
    diusir dari surga oleh Allah sewaktu pertama kali ia ingkar atas
    perintah Allah bagaimana tahu-tahu Iblis bisa menggoda Adam dan Hawa
    yang masih disurga ?
  7. Sedemikian tipisnyakah shelter dari surga itu sehingga bisa ditembus oleh Iblis ?

     

  8. Apakah mereka juga makan dan minum dengan benda abstrak ?
  9. Apakah pakaian mereka juga abstrak ? termasuk daun-daun Jannah yang untuk menutupi tubuh kasar mereka ?
  10. Apakah benda-benda yang dikenal oleh Adam yang diajarkan oleh Allah 2:31 adalah abstrak ?

     

Sementara surga itu sendiri sebagaimana
yang disyaratkan oleh Qur’an sebagai suatu tempat yang kekal, dimana
tidak satupun dari makhluk yang bisa keluar dari dalamnya dan tidak
akan ada larangan apa-apa disana karena statusnya adalah sebagai tempat
yang suci dan tempat kebebasan.

"Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya."
(QS. 2:82)


Lainnya lagi, Adam sudah diajarkan oleh Allah perihal nama-nama benda
yang ada pada Jannah tersebut dan itu adalah konkret sebagaimana pula
dengan diri dan keberadaan Adam, Hawa dan lingkungannya adalah nyata

Lalu ketika mereka ada dibumi, toh Adam
dan istrinya terbukti tidak terlalu kaget dengan lingkungan barunya
sebab dia sudah mengenal lingkungan itu karena memang lingkungan bumi
tidak berbeda jauh dengan Jannah tempatnya tinggal pertama kali.

Masalah udara contoh lainnya … jelas
bahwa udara ditempat Adam tinggal dulu adalah sama dengan udara dibumi
ini sebagai zat pernafasannya, begitupula keadaan tanah tempat mereka
berpijak.

Mengenai keadaan Jannah ini, mari kita lihat petunjuk Allah dalam AlQur’an :

 


"Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh
bagimu dan bagi isterimu, janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua
dari Jannah, yang menyebabkan kamu menjadi aniaya.
Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak
akan telanjang. dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan
tidak akan ditimpa kepanasan".

(QS. 20:117-119)

 

Apakah dalam surga ada matahari sehingga Adam dapat merasa panas ?


Jelasnya bahwa Jannah itu terletak disuatu tempat diluar planet bumi
dan tempat dimana orang tidak akan pernah merasa lapar dan haus sebab
didalam Jannah alias kebun yang subur itu ada banyak buah-buahan
pengusir rasa lapar dan dahaganya serta tidak akan terkena panas
matahari yang mengorbit didekatnya akibat kerindangan dari pohon-pohon
yang ada didalam kebun itu sendiri. Juga tidak akan telanjang karena
banyak sekali bahan yang dapat dijadikan sebagai pakaian penutup aurat.

Selanjutnya, Adam dan istrinya dikirim
kebumi dengan kendaraan tertentu dari Jannah tersebut yang juga
dikitari oleh Barkah disekeliling mereka sebagaimana juga terjadi pada
Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin pada waktu peristiwa Mi’rajnya.

Masalah Barkah dan perjalanan Nabi Saw ini kita bahas secara panjang lebar pada Mi’raj Nabi Muhammad ke Muntaha (Pengupasan surah An Najm 1 s.d 18) serta Mi’raj Nabi Muhammad ke Muntaha (Pengupasan surah Al Israa 1) yang juga akan diikuti denganMengungkap tentang Buroq, kendaraan penjelajah inter dimensi.

Kita kembali pada Adam dan Hawa, ketika
mereka tiba diplanet bumi kita ini, pesawat/kendaraan mereka itu
dikandaskan oleh Allah disuatu tempat sehingga terpisahlah Adam dan
Hawa untuk sekian lamanya sehingga akhirnya mereka kembali berjumpa di padang Arafah, berjarak 25 Km dari kota Mekkah dan 18 Km dari Mina. (Arti dari Arafah sendiri adalah pertemuan.)

Atau bisa juga jika kita tetap beranalogi
bahwa dari Jannah itu Adam dan istrinya langsung diturunkan keplanet
bumi kita ini tanpa adanya persinggahan dibumi-bumi lainnya, mereka
didaratkan terpisah oleh Allah sebagai pelajaran untuk mereka berdua
agar dapat belajar mengendalikan hawa nafsu mereka masing-masing
sekaligus memberikan kesempatan kepada Adam dan Hawa untuk dapat
beradaptasi dengan lingkungan barunya dibumi ini yang tidak jauh
berbeda dengan keadaan sewaktu mereka masih di Jannah. Hal ini dapat
kita selami dari lamanya waktu mereka berpisah begitu mereka diturunkan
dibumi dari Jannah (menurut salah satu riwayat sekitar 200 tahunan; Wallahu’alam)

Jelasnya saya berpendapat bahwa semuanya terjadi secara logis, sesuai dengan sifat dari AlQur’an yang mengutamakan kelogisannya

Memang benar, bahwa manusia sudah
mengalami penerbangan antar planet atau tata surya, jauh sebelum apa
yang disebut dengan Apollo atau Stasiun Mir dibuat oleh Amerika dan
Rusia

Nabi Adam as bersama istrinya (Siti Hawa),
adalah dua orang manusia ciptaan pertama Tuhan yang juga merupakan
manusia pertama kalinya melakukan perjalanan antar planet atau juga
antar dimensi, yang selanjutnya diteruskan oleh Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin
sebagai Nabi dan Rasul Allah sekaligus sebagai manusia pilot pelopor
penjelajahan ruang angkasa di masa lalu dari keturunan Bani Adam.

Tentunya, penjabaran saya ini akan semakin
membuat kontroversi yang berkepanjangan dari semua rekan-rekan, tetapi
cobalah anda menyimak dengan teliti satu persatu secara perlahan semua
apa yang saya tuliskan disini, dan anda ikuti alur pemikiran saya
dengan cermat.

Dan untuk sementara ini saya baru
menggunakan satu Hadist yang berupa Hadist Qudsi sebagai dalil
pendukung, sebab saya masih melakukan penggalian terhadap AlQur’an
sebagai satu-satunya sumber ilmu yang pasti karena merupakan wahyu
Allah yang terjaga kesuciannya serta berfungsi sebagai dalil yang tidak
terbantahkan !

Sampai saat ini, rasanya masih belum
begitu banyak rahasia-rahasia yang terkandung didalam Qur’an dapat
dipecahkan oleh manusia, meskipun wahyu Allah itu diturunkan sudah
lebih daripada 14 abad yang lalu !!!

Qur’an masih tetap berupa kitab yang penuh
misteri, baik ditinjau dari sudut ilmiah apalagi dari sudut ayat yang
menerangkan tentang hal-hal ghaib.

Jadi makanya saya lebih condong mengatakan bahwa arti Jannah disana adalah kebun yang terletak disuatu tempat diluar bumi alias outer space !

Dan ini tidak bertentangan dengan semua
ayat Qur’an manapun juga, sebab sebagai suatu tempat yang nyata yang
terletak diluar planet bumi, Jannah alias kebun yang subur itu tentunya
siapapun masih dapat memasukinya, karena dia tidak bersifat kekal.

Satu hal lainnya yang semakin menguatkan pendapat ini adalah pernyataan pada surah Al-Jin 72:9 :


"…Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu." (QS. 72:9)

Ayat ini dapat kita hubungkan dengan
pembahasan kita ini bahwa pada masa lalu, memang benar kaum Malaikat,
kaum Jin serta manusia (yang waktu itu Adam dan istrinya) berkumpul
dalam suatu tempat yang bernama Jannah yang terletak di suatu tempat dilangit

Tetapi dengan diturunkannya Adam bersama Hawa kebumi dan diusirnya Iblis dari sana maka tempat tersebut diberikan penjagaan seperti yang termuat dalam ayat ke-8,9 dan 10 dari surah 72 tersebut.


"…kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api."  (QS. 72:8)

"…Tetapi sekarang barang siapa yang mencoba mendengarkan tentu akan menjumpai panah api yang mengintai." (QS. 72:9)

Ayat-ayat tersebut bersesuaian dengan surah Al-Mulk ayat 5, sekaligus menjadi penjelas apakah panah-panah api itu :

 


"Sesungguhnya telah Kami hiasi angkasa dunia itu dengan bintang-bintang menyala dan Kami jadikan dia hal yang diancamkan untuk syaitan, dan Kami sediakan semua itu untuk mereka selaku siksaan yang membakar."
(QS. 67:5)

Mari sekarang kita berbicara sedikit mengenai masalah bintang yang menyangkut pengetahuan dan science modern.
Bintang-bintang adalah seperti matahari, benda-benda samawi yang
menjadi wadah fenomena fisik bermacam-macam, yang diantaranya yang
paling mudah dilihat adalah pembuatan cahaya.

Bintang-bintang berbeda ukuran dan
sifatnya, beberapa buah bintang lebih kecil daripada bumi, yang lainnya
beribu kali lebih besar. Karena bintang memancarkan panas dan cahaya,
astronom pernah salah menduga dengan mengira adanya pembakaran dalam
bintang (pendapat ini dikemukakan oleh William Thomson, ahli fisika
Skotlandia yang juga memiliki gelar Lord Kelvin).

Energi bintang dihasilkan karena pengubahan hidrogen (dalam AlQur’an disebut dengan istilah ALMAA’ yang sering diartikan orang dengan Air) menjadi helium. Proses semacam ini yang menghasilkan sejumlah besar energi (dinamai Reaksi Nuklir),
reaksi semacam itu terdapat dalam bom hidrogen. Tetapi reaksi dalam
bintang berlangsung dengan laju tetap, karenanya energi yang terpancar
keluar dapat dikatakan konstan sepanjang jutaan tahun.

Bintang, bahasa Arabnya Najm disebutkan dalam Qur’an 13 kali, kata jamaknya adalah Nujum; akar kata dari berarti Nampak. Sementara gugusan bintang sendiri yang disebut oleh manusia jaman sekarang dengan galaksi, oleh Qur’an disebut sebagai Al-Buruj (tertuang sebagai nama surah ke-85), dan bintang pada waktu malam diberi sifat dalam Qur’an dengan kata Thaariq, artinya yang membakar, dan membakar diri sendiri serta yang menembus. Disini menembus kegelapan waktu malam. Kata yang sama Thaariq, juga dipakai untuk menunjukkan bintang-bintang yang berekor; ekor itu adalah hasil pembakaran didalamnya.

Untuk memberi gambaran yang tepat mengenai bintang yang disifati oleh AlQur’an sebagai Thaariq, bisa kita perhatikan dalam ayat berikut :


"Demi langit dan yang datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang
datang pada malam hari itu ? yaitu bintang yang cahayanya menembus."
(QS. 86:1-3)

Bintang-bintang terbentuk dalam
kabut-kabut debu dan gas yang amat besar (Nebula), permulaan
terbentuknya bintang diawali dengan penumpukan debu dan gas yang
tertarik oleh gaya tarik kesuatu tempat dalam nebula. Gaya yang kuat
itu mendorong debu dan gas menjadi sebuah bola raksasa; ditiap tempat
gaya itu mendorong kearah pusat bola. Walhasil, tekanan dipusat
membesar, dan akibatnya suhu meninggi pula. (Alasan ini pula yang
membuat pompa angin memanas setelah dipergunakan memompa ban sepeda).

Karena itulah pusat bola menjadi panas.
Dan dengan makin mengecilnya bola akibat gaya tarik yang terus menerus
menekan debu dan gas kepusat, menaiklah tekanan dan suhu dipusat bola.
Selang beberapa waktu kemudian gas tersebut menjadi panas menyala dan
lahirlah bintang baru.

Ini pulalah kiranya yang diartikan oleh AlQur’an dalam 67:5 dengan kata bintang menyala.

Jika hidrogen sebuah bintang habis
terpakai, reaksi gaya baru segera mengikutinya dan suhu ditengah
bintang naik, karenanya bintang menggelembung hingga menjadi raksasa
atau maha raksasa. Bersamaan dengan itu terjadi pula perubahan lain.
Bintang besar dapat meledak, bercahaya 100 juta kali lebih terang dari
matahari. Dan bintang yang meledak itu dinamakan dengan Supernova.

Nah, sekarang, mari kita mulai membahas
…… dimanakah letaknya Jannah atau kebun tempat Adam dan istrinya
dulu itu tinggal diluar bumi ? Apakah dalam planet-planet diatas orbit
bumi (seperti Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto dan
planet-planet lainnya yang kedudukannya berada diatas orbit bumi yang
belum diketahui/ditemukan) ? Atau juga terletak diluar galaksi Bima
Sakti kita ini ? Adakah disebutkan oleh Qur’an ? dan bisakah kita
kesana ?

Hal ini mengingat bahwa Bima Sakti
hanyalah satu dari sekian banyaknya (ribuan juta) galaksi yang ada
didalam alam semesta (Pustaka Pengetahuan Modern : Bintang dan Planet
hal.13)
Judul asli : Stars and Planets By Keith Wicks, Grolier International
Inc 1989 dan dialih bahasakan oleh Prof. Dr. Bambang Hidayat (Guru
besar Astronomi di ITB dan Direktur Observatorium Bosscha, ITB),
Editing oleh Ganaco NV, Bandung dan penerbitan oleh PT. Widyadara,
Jakarta.

by : Armasyad
 

Keutamaan Lailat al Qodr

September 9th, 2005 by photoku

Sesudah disyariatkannya ibadah shaum, dan agar umat Islam dapat
merealisasikan nilai taqwa, Allah SWT melengkapi nikmat-Nya dengan
memberikan adanya "Lailat al qodr". Allah berfirman : "Sesungguhnya
Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada "Lailat al qodr". Tahukah kalian
apakah "Lailat al qodr"? Itulah malam yang lebih utama dari pada seribu
bulan." (QS. Al Qodr : 1-3).


Keutamaan Lailat al Qodr

Ayat yang dikutip di atas jelas
menunjukkan nilai utama dari "Lailat al qodr". Mengomentari ayat di
atas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan
disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur’an, dan
dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan
pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan
(tentu di luar malam lailat al qodr sendiri). Dalam riwayat lain Anas
bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW bahwa
sesungguhnya Allah mengkaruniakan "Lailat al qodr" untuk umatku, dan
tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.
Sementara berkenaan dengan ayat 4 surat al qodr, Abdullah bin Abbas ra
menyampaikan sabda Rasulullah bahwa pada saat terjadinya lailat al
qodr, para malaikat turun kebumi menghampiri hamba-hamba Allah yang
sedang qiyam al lail, atau melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan
salam kepada mereka. Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan
Allah menerima taubat dari para hambaNya yang bertaubat.
Dalam riwayat Abu Hurairah ra, seperti dilaporkan oleh Bukhori, Muslim
dan al Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan, "Barangsiapa
melakukan qiyam (shalat malam) pada lailat al qodr, atas dasar iman
serta semata-mata mencari keridloan Allah, maka Allah akan mengampuni
dosa-dosa yang pernah dilakukannya."
Demikian banyaknya keutamaan lailat al qodr, sehingga Ibnu Abi Syaibah
pernah menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya : "Saya tidak
pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang
lainnya, kecuali ‘ Lailat al qodr’, karena lailat al qodr lebih utama
dari (amalan) seribu bulan."

Hukum "Menggapai" Lailat al Qodr
Memperhatikan pada arahan
(taujih) Rasulullah SAW, serta contoh yang beliau tampilkan dalam upaya
"menggapai" lailat al qodr, dalam hal ini misalnya Umar pernah
menyampaikan sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa mencari lailat al qodr,
hendaknya ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh." (HR. Ahmad).
Maka para ulama’ berkesimpulan bahwa berupaya menggapai lailat al qodr hukumnya sunnah.

Kapankah terjadinya Lailat al Qodr
Sesuai dengan firman
Allah pada awal surat Al Qodr, serta pada ayat 185 surat Al Baqoroh,
dan hadits Rasulullah SAW. Maka para ulama’ bersepakat bahwa "Lailat al
qodr" terjadi pada malam bulan Ramadhan. Bahkan seperti diriwayatkan
oleh Ibnu Umar, Abu Dzar, dan Abu Hurairah, lailat al qodr bukannya
sekali terjadi pada masa Rasulullah SAW saja, malainkan ia terus
berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad,
sampai terjadinya hari qiyamat. Adapun tentang penentuan kapan persis
terjadinya lailat al qodr, para ulama berbeda pendapat disebabkan
beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para shahabat
tentang hal tersebut. Sebagaimana tersebut dibawah ini :
1. Lailat al qodr terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya
Al Qur’an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin
Zubair ra. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).
2. Lailat al qodr terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah
SAW: "Carilah lailat al qodr pada malam-malam ganjil disepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan." (HR. Bukhori, Muslim dan Baihaqi).
3. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan
hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan
Muslim.
4. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan,
berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti
dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.
5. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan,
berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan
seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al
Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa
lailat al qodr terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan.
Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah
menyampaikan kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam
berlama-lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa
mendapatkan lailat al qodr, Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia
mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan. (HR. Thabroni dan Baihaqi).

6. Seperti difahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang
dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya lailat al qodr mungkin
berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan. Sesuai dengan informasi terakhir ini, dan
karena langka dan pentingnya lailat al qodr, maka selayaknya setiap
muslim berupaya selalu mendapatkan lailat al qodr pada sepanjang
sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Tanda-tanda terjadinya Lailat al qodr
Seperti diriwayatkan
Oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW
pernah bersabda: "Pada saat terjadinya lailat al qodr itu, malam terasa
jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga
dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang
benderang tanpa tertutup sesuatu awan".
             Apa yang perlu dilakukan pada lailat al qodr dan agar dapat menggapai lailat al qodr:
1. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada
hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat
mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan
ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu
dicontohkan Rasulullah SAW.
             2. Melakukan i’tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
3. Melakukan qiyamu al lail berjama’ah, sampai dengan rekaat terakhir
yang dilakukan imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.
4. Memperbanyak do’a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah
dengan lafal : "Allahumma innaka ‘afuwun tuhibul afwa fa’fu ‘anni".
Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika
beliau bertanya : "Wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailat
al qodr, apa yang mesti aku ucapkan?" (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan
Tirmidzi).

Menggapai "Lailat al qodr" bagi Muslimah
Sebagaimana
tersirat dari dialog Rasulullah SAW dengan Aisyah, istri beliau itu,
maka mudah disimpulkan bahwa kaum muslimah-pun disyari’atkan dan
diperbolehkan menggapai lailat al qodr . Dengan melakukan maksimalisasi
ibadah yang memang diperbolehkan untuk dilakukan seorang muslimah.

Demikian panduan ringkas ini, mudah-mudahan pada bulan Ramadhan tahun
ini Allah memperkenankan kita meraih "Lailat al qodr", malam yang utama
dari 1000 bulan alias 83 tahun itu.
Sumber :http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=143

14 Alasan Merindukan Ramadhan

September 9th, 2005 by photoku

Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya
tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti
digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, "Andaikan
tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal
berharap satu tahun itu puasa terus." Sesungguhnya, ada apanya di dalam
Ramadhan itu, ikutilah berikut ini:

1. Gelar taqwa
Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba
Allah. Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka
setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya
di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah
sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu.
"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (QS
al-Baqarah: 183)
Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada hambanya yang taqwa, antara lain:

a. Jalan keluar dari semua masalah
Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi
begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang
tua, kantor dan sebagainya.
Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai
persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah pemilik
kehidupan ini.

"..Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. Ath Thalaaq: 2)
"..Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. Ath Thalaaq: 4)

b. Dicukupi kebutuhannya
"Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan
barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya…."(QS. Ath Thalaaq: 3)

c. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati
Bagaimana bisa bersedih hati, bila di dalam dadanya tersimpan Allah. Ia
telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu
sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal
memperoleh ketenangan.

"Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu
yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan
mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. al-A’raaf: 35)

2. Bulan pengampunan
Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia
bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik
adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan bernjanji tidak
mengulangi perbuatan dosa itu lagi.
Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat
penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan. Beberapa
hadis menyatakan demikian, salah
satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu Dawud, "Barangsiapa berpuasa pada bulan
Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni."

3. Pahalanya dilipatgandakan
Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala
berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini.
Rasulullah bersabda, "Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan.
Tiap satu kebaikan sepuluh lipad gandanya hingga tujuh ratus lipat
gandanya." (HR. Bukhari Muslim).
Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya
dianggap sama dengan mengerjakana amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu
Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar
obral pahala.

4. Pintu surga dibuka dan neraka ditutup
"Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu
neraka, dan setan-setan terbelenggu."(HR Muslim) Kenapa pintu surga
terbuka? Karena sedikit saja
amal perbuatan yang dilakuka n, bisa mengantar seseorang ke surga.
Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak
membeli akan merugi. Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya
sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan
amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu
neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda
manusia.

5. Ibadah istimewa
Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadis qudsinya, "Setiap
amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku
yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat
dan makanannya karena Aku." (HR Bukhari Muslim) Menurut Quraish Shihab,
ahli tafsir kondang dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa
dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah.
Itulah subtansi puasa.

Misalnya, dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi
ketika berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak
makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita
tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak
orang berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah.

Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah
adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita teladani. Maka
dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan.
Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar.
Belajar bisa lewat membaca al-Qur’an, membaca kitab-kitab yang
bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.

Allah swt setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia bukan hanya
mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus semut. Dia
mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa meneladani
Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam kesibukan.

Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan kemampuan kita
sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur sepanjang malam,
tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk terus-menerus tidak makan
dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan dan saja.

6. Dicintai Allah
Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya.
Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah
telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadis Qudsi, "Kalau Aku
telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya,
menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan
untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya." (HR Bukhari)

7. Do’a dikabulkan
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah
bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo’a apabila dia
berdo’a, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku." (QS.
al-Baqarah: 186)
Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada orang berdo’a
tapi sebenarnya tidak berdo’a. Yaitu do’anya orang-orang yang tidak
memenuhi syarat. Apa syaratnya? "maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah)Ku."

Benar, berdo’a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti dikatakan
Nabi saw, "Tiga do’a yang tidak ditolak; orang berpuasa hingga berbuka
puasa, pemimpin yang adil dan do’anya orang teraniaya. Allah mengangkat
do’anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit. ‘Demi kebesaranKu,
engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang." (HR Ahmad
dan Tirmidzi)

Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan, kecucian
pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan
pengabulan do’a. Nabi pernah bersabda,
ada seorang yang sudah kumuh pakaiannya, kusut rambutnya berdo’a kepada
Tuhan. Sebenarnya keadaannya yang kumuh itu bisa mengantarkan do’anya
dia diterima. Tapi kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya
yang dipakainya terambil dari barang yang haram, bagaimana bisa
dikabulkan doa’nya?

Jadi do’a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian dan makanan.
Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin bersih jiwa
kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian dan makanan,
semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do’a.

8. Turunnya Lailatul Qodar
Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia.
Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari
seribu bulan (QS. al-Qadr).
Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur’an
diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam
itu.
Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam laulatul qodar itu jatuh pada
sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan Imam Ahmad,
"Lailatul qadar adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di sepuluhb
terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima
atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau
akhir malam Ramadhan. Barangsiapa mengerjakan qiyamullail (shalat
malam) pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni
dosanya yang lampau atau yang akan datang."

Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal Ramadhan? Rupanya
karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan mengasuh jiwa kita.
Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul qodar.

Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur’an menyatakan, "Pada malam itu
turun malaikat-malaikat dan malaikat JIbril dengan izin Tuhan mereka
untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan/kedamaian
sampai terbit fajar. (QS al-Qadr: 4-5)

Malaikat bersifat gaib, kecuali bila berubah bentuk menjadi manusia.
Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh Muhammad Abduh
menggambarkan, "Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat berharga, di
dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, ‘Ambil barang itu!’ Ada
bisikan lain berkata, ‘Jangan ambil, itu bukan milikmu!’ Bisikan
pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan malaikat."
Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang untuk
melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari hari demi
hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka yakinlah bahwa
ia telah bertemu dengan lailatul qodar.

9. Meningkatkan kesehatan
Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan.
Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat.
Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras.
Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan
kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam
lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur dilakukan
pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai
bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama
enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih
meningkat dengan pesat sekali.
Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker.
Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan
minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit
seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan
hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang
telah mati dan toksin.

Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran
dan ampas, mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan
elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan
fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi
sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan
meningkatkan fungsi susunan syaraf.

10. Penuh harapan
Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu kian besar
menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu datang waktu
buka, wah… rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah harapan yang
terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya’ Allah, menjadikan hidup
lebih bermakna. "Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan,
yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya." (HR.
Bukhari).

11. Masuk surga melalui pintu khusus, Rayyaan
"Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang
akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti,
tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka
dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian
ditutup." (HR. Bukhari)

Minum air telaganya Rasulullah saw :
"Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang
berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat
pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain. Mereka
(para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah,
tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang
berbuka puasa.’ Beliau berkata, ‘Allah memberikan pahala kepada orang
yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau
sesisip susu…Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah
akan memberinya minum seteguk dari telagak dimana ia tidak akan haus
hingga masuk surga." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

12. Berkumpul dengan sanak keluarga
Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam merayakan Hari Raya Idhul Fitri.
Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan
selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk
merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai
melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain.
Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang
bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama
kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan
khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan
mudik ke kampung halaman.
Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa
berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga
tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa
kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi
menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang lain.
Padahal silahturahim itu dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan
hadis, "Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya
dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi!" (HR.
Bukhari)

13. Qaulan tsaqiilaa
Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat
malam dan tadarus al-Qur’an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam
sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS Al Muzzammil:
3). Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan
melakukan terawih pada awal malam setelah
shalat isya’ dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer disebut
shalat tarawih. Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah
siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya.
Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur’an
secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci itu
seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas dan mendalam, karena
al-Qur’an memang sumber pengetahuan dan ilham.

Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian
mengaruniai qaulan tsaqiilaa (perkataan yang berat).
Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa.
Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka
melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.

14. Hartanya tersucikan
Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan
zakat. Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5
kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat
maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai
batas nisab dan waktunya. Zakat disamping
dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya.
Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan
pemiliknya dari siksa api neraka. Harta yang barakah akan mendatangkan
ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak
barakah akan mengundang kekhawatiran dan
ketidaksejahteraan.

5 Harapan Allah Tentang Puasa

September 9th, 2005 by photoku

5 Harapan Allah Tentang Puasa

Mungkin ada yang bertanya, mengapa ALLAH Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya
masih berharap kepada manusia, bukankah DIA tidak memerlukan apa-apa
dari makhluk-NYA? Namun, ternyata ALLAH menaruh harapan atas kaum
beriman. Lima harapan ALLAH itu terungkap dalam rangkaian ayat tentang
puasa dan Ramadhan (al-Baqarah : 183-189), yaitu dalam bentuk ‘kalimat
harapan’ (la’alla) yang terdapat pada akhir beberapa ayat tersebut.

Dalam perspektif Bahasa Arab, la’alla, secara harfiah berarti
mudah-mudahan atau semoga, merupakan harapan faktual dan potensial,
yakni bahwa harapan itu berdasarkan fakta-fakta yang ada dalam diri
yang diharapkan dan karenanya sangat mungkin terlaksana.

Harapan pertama, (akhir ayat 183), la’allakum tattaqun, semoga kamu
menjadi orang bertakwa, dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah puasa.
Bahwa, shaimin dan shaimat diharapkan dapat meraih predikat ketakwaan,
tentu melalui proses aktif dan dinamis dalam suatu keberagaman yang
berorientasi pada sikap menjadi (to be) daripada sekadar memiliki (to
have).

Harapan kedua (akhir ayat 185), la’allakum tasykurun, semoga kamu
menjadi orang bersyukur, berhubungan antara lain dengan wahyu Al-Qur’an
yang diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan. Alquran adalah
hidayah ALLAH berupa petunjuk, nilai dan ajaran yang sangat penting
bagi manusia untuk mencapai derajat kemanusiaan tertinggi, karenanya
harus disyukuri melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an
tersebut.

Harapan ketiga, la’allahum yarsyudun, semoga mereka menjadi orang yang
terbimbingkan, dikaitkan dengan komunikasi intensif melalui doa kepada
ALLAH. Doa adalah medium yang sangat efektif untuk memperoleh tambahan
kekuatan dari sumber-NYA, yaitu Sang Pencipta yang sesungguhnya sangat
dekat dengan manusia ciptaan-NYA, bahkan lebih dekat dari urat nadinya
sendiri.

Harapan keempat (akhir ayat 187), la’allahum yattaqun, semoga mereka
menjadi orang bertakwa, merupakan pengulangan dan penekanan dari
harapan pertama, yang kali ini dikaitkan dengan pengindahan terhadap
ketentuan dan batas-batas yang telah ditentukan ALLAH dalam kehidupan
muamalat. Sikap ketaatan seperti inilah yang akan membawa kaum beriman
kepada ketakwaan.

Harapan terakhir (akhir ayat 189), la’allakum tuflihun, semoga kamu
menjadi orang yang menang dan berbahagia, berkaitan dengan sikap hidup
yang berorientasi kepada kebaikan dan kebenaran sebagai pangkat
kemenangan dan kebahagiaan.

Sumber :http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=134

Kesempurnaan Puasa

September 9th, 2005 by photoku

Langkah-langkah yang dikerjakan Rasulullah dalam menyikapi ibadah puasa, antara lain:

1. Memantapkan Niat
Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa yang
tidak menetapkan akan berpuasa sebelum fajar, maka tiada sah puasanya."
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu
Majah.

2. Melaksanakan Makan Sahur
Dari Anas bin Malik r.a. ia
berkata: "Telah bersabda Rasulullah SAW., ‘Sahurlah kalian, maka
sesungguhnya dalam sahur itu ada berkahnya. (HR Bukhari, Muslim dari
Anas bin Malik r.a.). Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, yang dimaksud
dengan berkah (barakah) ialah ganjaran dan pahala. Dikatakan sahur itu
mengandung barakah, karena sahur menguatkan dan menambah semangat dalam
berpuasa serta dapat membantu meringankan beban beratnya.

3. Imsak Rasulullah
Telah bersabda Rasulullah SAW: "Apabila
salah seorang di antara kalian mendengar adzan subuh padahal bejana
masih berada di tangannya, maka janganlah ia meletakkan (bejana itu)
sampai ia menyelesaikan kebutuhannya itu." (HR Abu Dawud, Ibnu Jarir,
Abu Muhammad Al Jauhari, Al Hakim, Baihaqi dan Ahmad dari Abu
Hurairah).
Hadits di atas menegaskan bahwa bila seseorang yang sedang sahur
mendengar adzan subuh, maka ia dibolehkan meneruskan sahurnya. Hal ini
tentunya ditujukan untuk orang yang tidak sengaja menunggu atau
mengetahui bahwa adzan subuh segera akan tiba.

4. Mempercepat Berbuka Apabila Telah Tiba Waktunya
Sahl bin
Sa’ad berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,"Manusia tidak
henti-hentinya mendapat kebaikan selama mereka mempercepat berbuka
puasa." (HR Bukhari dan Muslim).
Abu Hurairah r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Telah
berfirman Allah Yang Mahamulia dan Maha Agung: "Hamba-hamba Ku yang
lebih aku cintai ialah mereka yang paling segera berbukanya." (HR
Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dilukiskan sebab dan
rahasia menyegerakan puasa: "Agama akan senantiasa tampak syi’arnya
dengan nyata selama orang Islam berbuka puasa dengan segera (tepat pada
waktunya), sebab orang-orang Yahudi dan Nasrani melambatkannya." (HR
Abu Daud yang bersumber dari Abu Hurairah).
Pada waktu berbuka puasa dianjurkan untuk membaca doa sebagai berikut:
"Telah hilang dahaga, dan telah basah (segar) urat, dan telah tetap
ganjaran. Insya Allah." (HR Abu Daud, nasa’i, dan Hakim dari Ibnu Umar
r.a.).
Berbuka yang lebih baik ialah berbuka dengan buah-buahan manis seperti
kurma, pisang, mangga, rambutan, dan sebagainya. Dalam sebuah hadits
disebutkan, Dari Sulaiman bin Amir Ad-Dhabbi r.a. dari Nabi SAW, beliau
bersabda, "Apabila seseorang di antara kamu berbuka puasa, berbukalah
dengan kurma. Apabila tidak ada, berbukalah dengan air, karena air itu
suci." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad).

5. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
Rasulullah SAW bersabda:
"Orang-orang yang berkumpul di masjid dan membaca Al-Qur’an, maka
kepada mereka Allah akan menurunkan ketenangan batin dan limpahan
rahmat." (HR Muslim).
Namun, membaca dalam konteks hadits di atas, tidak perlu diartikan
secara harfiah. Ketenangan batin dan limpahan rahmat akan mungkin lebih
bisa dicapai bila tadarusan diartikan dengan mempelajari, menelaah, dan
mengamalkan Al-Qur’an. Sudah saatnya kita tidak lagi mengandalkan
"pengaruh psikologi magnetis" dalam membaca Al-Qur’an (tanpa mengetahui
maknanya). Karena bagi kita sudah saatnya untuk mendapatkan arti
limpahan rahmat tersebut dari telaah kandungan isi Al-Qur’an.

6. Memperbanyak Sedekah
"Sedekah yang paling utama adalah
sedekah pada bulan Ramadhan." (HR Tirmidzi). Bersedekah bukan hanya
memberi uang, tetapi termasuk di dalamnya memberi pertolongan, mengajak
berbuka puasa kepada fakir miskin, memberi perhatian, bahkan memberi
seulas senyum pun sudah termasuk suatu sedekah.
Dapat dibayangkan jika konsep "memberi" (secara luas) ini diterapkan
secara maksimal, selama Ramadhan, akan luar biasa pengaruhnya pada
pribadi kita. Sikap kikir menyingkir, sikap ketergantungan menghilang.
Dengan memberi sedekah setahap demi setahap harga diri akan meningkat.
Karena, sesungguhnya ketika kita memberi, seseorang akan memperoleh.
Dengan demikian, dalam konsep memberi terkandung esensi cinta-kasih.

7. Membayar Zakat Fitrah
Zakat fitrah (zakatul fitri)
disebut juga Shadaqatul Fitri, yaitu zakat atau sedekah yang
dihubungkan dengan Idul Fitri. Pada saat itu, tiap-tiap orang Islam
harus membayar zakat berupa bahan makanan yang jumlahnya telah
ditentukan (2,5 kg), baik berupa gandum, juwawut, beras, atau apa saja
yang menjadi bahan makanan pokok daerah setempat, dan dihitung menurut
jumlah keluarga, termasuk orang tua, anak-anak, lelaki dan perempuan
(HR Bukhari). Jumlah ini harus dikumpulkan oleh masyarakat Islam , lalu
dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
Aturan pembagian zakat fitrah itu sebagai berikut. Zakat itu harus
diberikan kepada yang berhak sebelum shalat Ied, dan ini merupakan
kewajiban bagi orang yang mampu. Sebagaimana diuraikan dalam hadits,
zakat fitrah harus diorganisasikan seperti zakat mal, sebagai berikut:
"Mereka memberikan sedekah (fitrah) untuk dikumpulkan, dan tidak untuk
dibagi-bagikan kepada para pengemis." (HR Bukhari). Menurut hadits lain
yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW memberi tugas
kepadanya untuk mengumpulkan zakat bulan Ramadhan (HR Bukhari).

Semoga kita bisa meneladani segala perbuatan dan tingkah laku
Rasulullah SAW dan melaksanakannya dengan Ikhlas sehingga segala amal
perbuatan kita diterima dan diridhoi oleh Allah SWT.

Sumber :http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=135

Marhaban ya Ramadhan

September 9th, 2005 by photoku

Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandung arti bahwa
kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak
dengan keluhan. Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap
datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para
sahabatnya seraya bersabda: "Sungguh telah datang kepadamu bulan
Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah memfardhukan atas
kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan
dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada
suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak
diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah
dijauhkan dari kebajikan." (HR. Ahmad).

Marhaban Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita
mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan
perjalanan menuju Allah SWT. Kerinduan itu terekspresi dalam doa yang
diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin
Malik berkata: Rasulullah SAW jika sudah masuk bulan Rajab senantiasa
berdo’a: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan
sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” (HR At-Tirmidzi dan Ad-Darimi).

Kerinduan akan datangnya bulan Ramadhan inilah yang juga dirasakan oleh
salafu shalih. Karena begitu banyaknya kebaikan yang diberikan oleh
Allah di bulan Ramadhan. Tentu saja tidak cukup hanya dengan perasaan
gembira saja dalam menyambut Ramadhan. Hal-hal lain yang perlu kita
perhatikan adalah :

1. Menyiapkan diri dengan baik, persiapan hati, persiapan akal dan
fisik. Persiapan hati dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak
tilawah Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, do’a, dll. Persiapan akal dengan
mendalami ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Dan persiapan fisik
dengan menjaga kesehatan, kebersihan rumah dan lingkungan. Dan
menyiapkan harta yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan.

2. Merencanakan aktifitas di bulan Ramadhan nanti. Seperti tilawah,
hafalan, pemahaman dan pengamalan Al-Qur’an karena Ramadhan sebagai
Syahrul Qur’an.

3. Mengutamakan ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat Islam dalam
penentuan awal dan akhir Ramadhan. Jangan sampai perbedaan penentuan
awal dan akhir Ramadhan menimbulkan perpecahan ummat.

4. Menghindari pola hidup konsumtif dan berlebihan. Di bulan Ramadhan
biasanya tempat-tempat belanja memberikan banyak potongan harga
sehingga ramai dikunjungi. Seyogyianya kita tidak terpancing dengan
keadaan ini, belanjakan uang sesuai kebutuhan, tidak berlebihan karena
masih banyak orang yang membutuhkan. Bagi orang-orang yang beriman
seharusnya masjid menjadi tempat favorit untuk dikunjungi dengan
memperbanyak ibadah di dalamnya.

5. Melaksanakan ibadah puasa (shaum) dengan ikhlas dan memperhatikan
segala adab serta sunnah-sunnahnya. Menghiasi Ramadhan dengan shalat
tarawih, tilawah Al-Qur’an, memperbanyak dzikir dan do’a, membayar
zakat, infak dan melakukan pada sepuluh hari terakhir (asyrul awakhir).

6. Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrul Jihad. Jihad adalah puncak
ajaran Islam, dan rahasia kejayaan umat Islam. Oleh karenannya bulan
Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat untuk menumbuhkan ruhul
jihad dalam tubuh umat Islam. Parang Badar Al-Kubra, Fathu Makkah,
Pembebasan Palestina oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, Perang Ain Jalut yang
dapat menaklukkan tentara mongol, Penaklukkan Andalusia oleh pahlawan
Tariq bin Ziyaad, dan bahkan Kemerdekaan Indonesia, semuanya terjadi
pada bulan Ramadhan.

7. Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat), dengan memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT.

8. Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah dan Syahrud
Da’wah (Bulan Pendidikan dan Da’wah). Di antara ciri khas bulan
Ramadhan adalah timbulnya suasana ke-Islaman di semua tempat dan media.
Umat Islam mempunyai kesempatan lebih banyak untuk beribadah dalam
suasana yang sangat kondusif.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita menjemput Ramadhan dengan
persiapan optimal dan mendapatkan keutamaan-keutamaannya., aamiin.

Sumber :http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=133

Memahami peristiwa Mi’raj Rasulullah Saw ke 2

August 22nd, 2005 by photoku


Subhanallazi Asro bi’abdihi laylam minal masjidil harom mi ilal
masjidil aqshollazi barokna haw lahu linuriyahu min ayatina innahu
huwassami’ul basyir


"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS. 17:1)


Pada ayat suci ini terdapat beberapa istilah yang harus dipahami dengan
sesungguhnya, tidak mungkin diartikan sambil lalu saja. Istilah-istilah
itu ialah :

Maha Suci Allah :
Dalam menyampaikan berita terjadinya peristiwa Mi’raj ini, Allah
memulainya dengan kata-kata "Subhana" (Maha suci) … kata-kata
"Subhana" ini akan memberikan pengertian dalam hati seseorang bahwa
disana ada kekuatan yang jauh dari segala macam perbandingan, kekuatan
yang jauh melampaui segala kekuatan manusia dimuka bumi.

Maka makna kata "Subhanallah"
ialah bahwa Allah itu Maha Suci DzatNya, SifatNya dan PerbuatanNya dari
segala kesamaan. Kalu ada suatu macam perbuatan atau peristiwa yang
disitu Allah mengatakan bahwa "Peristiwa itu Dia melakukan"
maka kita harus mensucikan Dia dari segala undang-undang dan ketentuan
yang berlaku untuk manusia, dan kita tidak boleh mengukur perbuatan
Allah itu dengan perbuatan kita. Oleh karena itulah maka surat ini
dimulaiNya dengan kata-kata "Subhana" (Maha Suci) sehingga akan timbul
kesan didalam hati manusia bahwa peristiwa itu benar-benar peristiwa
ajaib dan diluar jangkauan akal dan kemampuan manusia.

"Subhana" berarti juga "tanzih" (mensucikan).
Apabila Allah mengatakan "Subhana" berarti mensucikan perbuatan-Ku dari perbuatan-mu wahai makhluk.
Maknanya bahwa undang-undang atau ketentuan yang berlaku bagi
"Perbuatan" Allah tidak sama dengan ketentuan yang berlaku bagi
"Perbuatan" makhluk-makhlukNya.

Yang memperjalankan :
Subjek dari "Yang memperjalankan" dalam hal ini adalah Allah, dengan kalimat : "Al-Ladzii asraabi.."
Dalam ayat 8/70 dan 8/67 terdapat pula istilah "Asraa" yang artinya
"tawanan", berupa kata benda, noun atau isim. Dalam konteks ayat 17/1
ini, kita mengartikan "Asraabi" dengan "Memperjalankan dalam penjagaan"
sebagai kata kerja, verb atau fi’il. Hal ini dapat dibandingkan pada
maksud ayat 26/52 dimana terdapat istilah yang sama tetapi fi’il amar
untuk memperjalankan Bani Israil dengan penjagaan untuk menyeberangi
laut merah.

Kalimat ini memberi pengertian
bahwa Nabi Muhammad Saw itu di Asraa kan dalam pengertian di mi’rajkan
oleh Allah, bukan Asraa dengan sendirinya alias kehendak Muhammad
sendiri dan juga bukan atas kepintaran yang ada pada diri Nabi
Muhammad, tetapi dengan keilmuan dan kekuasaan Allah yang
memperjalankannya.

Hamba-Nya :
Dalam ayat ini Allah tidak menyebut lafal "RasulNya" atau lafal "Muhammad", tetapi disebutNya dengan lafal Bi’abdihi, yaitu dengan sifat "Ubudiyah" atau Penghambaan
kepada Allah yang mana hal ini merupakan pintu datangnya karunia Allah,
sebab semua Nabi dan Rasul yang nota bene merupakan panutan umat,
diutus untuk membenarkan atau meluruskan cara penghambaan kita kepada
Allah.

Kata sifat "Ubudiyah" atau
penghambaan ini adalah kata-kata yang pahit, kata-kata yang sulit dan
kata-kata yang dibenci oleh manusia, apabila terjadi antara sesama
makhluk, antara yang satu terhadap yang lain, karena dengan demikian
maka makhluk yang satu akan menjadi hamba bagi makhluk yang lain. Dan
ini mengharuskan sihamba mencurahkan segala baktinya, semua tenaga dan
kemampuannya kepada tuannya.

Tetapi penghambaan dari makhluk
terhadap Al-Khaliq justru sebaliknya, yaitu Al-Khaliq yang dipertuan
itulah yang akan memberi karunia kepada orang yang menghambakan diri
kepadaNya.
Karena itu maka ubudiyah disini adalah suatu kemuliaan, manakala
pengabdian itu meningkat maka pemberian karunia dari Allah Yang Maha
Suci itu ditingkatkan pula.

Ini juga yang terjadi pada diri Nabi Isa as. putra Maryam yang disebutkan oleh Allah dalam surah 4:172 :

Layyastanifa almasihu ayyakuna ‘abda lillahi walal mala’ikatul mukarrobun
"AlMasih tiada enggan menjadi hamba bagi Allah, demikian pula para malaikat yang dekat."
(QS.4:172)

Disamping itu, kata-kata
"Bi’abdihi" ini dapat dipakai untuk memberikan jawaban penolakan atas
orang yang berpendapat bahwa perjalanan malam Nabi Muhammad Saw ini
hanya terjadi dengan ruhnya saja tanpa dengan jasadnya, sebab kata-kata
"abd" (hamba) itu dipakai untuk ruh beserta jasadnya sekaligus, bukan
untuk ruh saja atau jasad saja, sehingga tidak ada orang yang
mengatakan ruh itu sebagai "abd" atau jasad yang tidak ber-ruh sebagai
‘abd.

Pada suatu malam :
Jelas sudah, bahwa Nabi Muhammad Saw telah diperjalankan oleh Allah pada waktu malam hari.
Lalu kenapa mesti malam hari Rasul diberangkatkan ? Dapatkah kita jelaskan secara ilmiah, logis dan kejiwaan ?
Disini kita sudah sepakat bahwa Rasulullah diperjalankan secara logis,
secara nyata dan real, maka sekarang kita akan berangkat pada
keterangan yang juga logis dan ilmiah serta mengena kepada ilmu
kejiwaan.

Sekarang coba anda perhatikan kembali ayat ke-14 dan ke-15 dari surah An Najm (53) yang telah saya cantumkan pada bagian awal :

14. Di Sidratil Muntaha.
15. Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal,

Dan kemudian silahkan juga
memperhatikan ayat-ayat berikut yang sudah pernah kita kemukakan pada
pembahasan masalah Adam yang lalu :

"Maka Kami berkata:"Hai Adam,
sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka
sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari Jannah,
yang menyebabkan kamu menjadi aniaya. Sesungguhnya kamu tidak akan
kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan kamu tidak akan
merasa dahaga dan tidak akan kepanasan".
(QS. 20:117-119)

Rasanya cocok sekali jika kita
menghubungkan antara Jannah yang termaktub dalam ayat ke-15 surah 53
itu dengan Jannah dimana dulunya Adam dan istri pernah tinggal sebelum
"diterbangkan" keplanet bumi.
Coba perhatikan dengan baik, Jannah tempat dimana Adam berada itu
dikatakan tidak akan merasa kepanasan, dan saya mengasumsikan bahwa
Jannah itu letaknya ada di Muntaha dimana Rasulullah Muhammad Saw
melakukan perjalanannya pada peristiwa Mi’raj.

Jadi, Muntaha itu adalah nama
sebuah tempat yang bisa juga sebuah planet yang berada diluar angkasa
dan untuk sementara bisa kita katakan kedudukannya berada diatas orbit
bumi, seperti halnya dengan kedudukan planet Mars, Jupiter, Saturnus,
Uranus, Neptunus dan Pluto.


Untuk jelasnya mungkin anda bisa melihat didalam "Peta Ruang Angkasa"
yang menggambarkan posisi kedudukan planet-planet dalam tata surya yang
mengelilingi matahari dalam gugusan Bimasakti. Dimana ada dua planet
yang berkedudukan dibawah orbit bumi dan dekat dengan matahari, yaitu
Merkuri dan Venus.

Planet bumi kita ini jaraknya dengan matahari adalah 150 Juta Km dengan lamanya waktu mengelilingi matahari dalam 365,25 hari.

Bandingkan dengan planet Pluto
sebagai planet terjauh yang berhasil diketahui oleh para ahli tahun
1930 sampai hari ini (1998) yang memiliki jarak 5.900 Juta Km dari
matahari, bergaris tengah hanya 6.400 Km.
Jarak rata-rata Pluto dari matahari paling besar dibandingkan dengan
jarak antara matahari dengan planet lainnya. Tetapi lintasan edar Pluto
agak "unik" dan menyilang lintasan planet Neptunus. Akibatnya, Pluto
kadangkala beredar/mengembara disebelah dalam lintasan orbit Neptunus.

Pluto akan mencapai titik
terdekat dengan kita ditahun 1989 yang lalu, kemudian menjauh dan titik
terjauh akan dicapainya pada tahun 2113 yang akan datang.

Sangat sedikit memang yang kita
ketahui mengenai Pluto, namun ada dugaan bahwa planet itu terdiri dari
material yang sangat padat.

Dan para ahli ditahun 1972
memperkirakan bahwa adanya planet diluar lintasan Pluto, pada jarak
kurang lebih 9.660 juta-juta kilometer.
Gaya tarik gravitasi planet tersebutlah yang menyebabkan perubahan
kecil pada lintasan beberapa komet. Dengan cara yang sama pula
kehadiran Pluto telah diduga 15 tahun sebelum penemuannya, yaitu
setelah penelaahan atas perubahan pada lintasan orbit Neptunus



Nazwar syamsu, seorang penulis buku-buku seri Tauhid dan logika
(Sekarang dilarang beredar) yang juga menjadi salah satu buku acuan
saya didalam mengemukakan pendapat, pernah menyimpulan, bahwa planet
tersebut adalah Muntaha yang dimaksudkan oleh Qur’an sebagai tempat
Mi’rajnya Nabi Muhammad Saw.

 

Landasan Nazwar Syamsu
berpendapat begitu karena menurutnya, planet ke-10 tersebut letak
orbitnya yang berada diatas orbit planet bumi kemudian juga jaraknya
yang jauh dari matahari kita yang dicocokkannya dengan bunyi ayat
ke-119 dari surah An Najm yang menyatakan bahwa Adam tidak akan
kepanasan disana (yang diasumsikan sebagai panasnya sinar matahari),
serta pasnya penomoran Qur’an dengan 7 lapis langit yang ada diatas
kita (yang diterjemahkannya dengan 7 buah planet yang mengorbit diatas
bumi).

Masing-masing planet yang ada diatas orbit bumi itu ialah :

  1. Mars
  2. Jupiter
  3. Saturnus
  4. Uranus
  5. Neptunus
  6. Pluto
  7. Muntaha

     

Dan dasar dari pemahaman beliau
adalah dari ayat Qur’an yang memang banyak sekali mengungkapkan tentang
adanya 7 langit atau terkadang disebut dengan tujuh jalan yang
diciptakan oleh Allah Swt.

Satu diantaranya adalah sbb :

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis dan
kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha
Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang,
adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?"
(QS. 67:3)

Dan yang menjadi alasan kenapa
perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw pada malam hari adalah
jika orang berangkat meninggalkan bumi pada siang hari, maka dia akan
mengarah kepada matahari yang menjadi pusat orbit planet-planet. Dan
hal itu bukan berarti "Naik" tetapi "Turun", karena semakin dekat
kepada pusat orbit atau kepusat rotasi, maka itu berarti turun,
sedangkan Muhammad menyatakan beliau telah naik waktu mengalami Asraa
(perjalanan) itu.

Ayat 17/11 yang sedang kita
analisis ini menyatakan bahwa Muhammad dari Masjidil Haraam dibumi naik
ke Muntaha, yang mana untuk sementara ini kita simpulkan dulu bahwa
kedudukan Muntaha itu mengorbit diatas bumi dan bukan dibawah bumi.
Kalau orang naik dari bumi menuju Muntaha hendaklah dia berangkat waktu
malam yaitu bergerak dengan menjauhi matahari selaku titik yang paling
bawah dalam tata surya kita.

Orang mengetahui bahwa semesta, galaksi, tata surya dan planet, masing-masingnya mengalami perputaran.
Setiap putaran tentunya memiliki pusat putaran yang langsung menjadi
pusat benda angkasa itu. Semuanya bagaikan bola atau roda yang
senantiasa berputar. Maka sesuatu yang menjadi pusat putaran dikatakan
paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat putaran dinamakan semakin
atas.

Dalam hal ini keadaan dibumi dapat dijadikan contoh.
Pusat putaran bumi dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat itu dikatakan semakin atas.
Akibatnya, orang yang berdiri di Equador Amerika dan orang yang berdiri
dipulau Sumatera, pada waktu yang sama, akan menyatakan kakinya kebawah
dan kepalanya keatas, padahal kedua orang tersebut sedang mengadu
telapak kaki dari balik belahan bumi, tetapi masing-masingnya ternyata
benar untuk status bawah dan atas yang dipakai dipermukaan bumi ini.

Demikian juga jika contoh itu
dipakai untuk status tata surya dimana matahari sebagai bola api
langsung bertindak jadi pusat kitaran ataupun peredaran.

Karenanya matahari dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari matahari dinamakan semakin atas.
Venus dan Mercury berada dibawah orbit bumi karena keduanya mengorbit
dalam daerah yang lebih dekat dengan matahari, jadi jika ada penduduk
bumi yang pergi ke Venus, Mercury atau Matahari, maka orang tersebut
turun bukan naik, karenanya Venus dan Mercury tidak
mungkin disebut sebagai langit bagi planet bumi kita, sebab yang
dikatakan langit adalah sesuatu yang berada dibahagian atas, tetapi
benar kedua planet itu menjadi langit bagi matahari sendiri.

Dr. Maurice Bucaille, salah seorang pakar Islam yang terkenal dengan bukunya Bibel, Qur-an dan Sains Modern, mengemukakan bahwa AlQur’an menamakan planet dengan kata "KAUKAB", dimana kata jamaknya adalah "KAWAKIB."

Begitupula dengan arti yang
diberikan oleh Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, karangan
Achmad Warson Munawwir terbitan Pustaka progressif, menyatakan Kaukab
(single) dan Kawakib (plural) itu dengan dua arti, yaitu bisa berarti
planet dan bisa juga berarti bintang.

Dr. Maurice Bucaille menambahkan,
bahwa bumi adalah salah satu dari planet-planet tersebut dan jika ada
orang menduga akan adanya planet lain diluar orbit pluto (Dalam hal ini
untuk gugusan Bimasakti), maka planet itu harus ada dalam sistem
matahari juga.

Saya pribadi cenderung menyetujui
pendapat dari Dr. Muhammad Jamaluddin El-Fandy, seorang sarjana Islam
kenamaan yang menuliskan buku Al-Qur’an tentang alam semesta (judul aslinya : On cosmic verses in the Quran) bahwa yang disebut dengan langit atau dalam bahasa Qur’an adalah Sama’, ialah :

Setiap sesuatu
yang kita lihat tentang benda-benda yang berada diangkasa, seperti
matahari, bintang dan planet sampai jauh kedalam ruang alam semesta
raya, yang bersama-sama dengan bumi membentuk satu kesatuan yang kokoh
dan merupakan keseluruhan alam wujud, itulah langit.

Adapun angka 7 yang dipakai didalam AlQur’an sebanyak 24 kali adalah untuk maksud yang bermacam-macam. Seringkali angka 7  ini berartikan "Banyak" tetapi kita umat Islam tidak tahu dengan pasti, apa maksud dengan dipakainya angka tersebut oleh Allah.

Sementara itu, bagi orang-orang Yunani dan orang-orang Romawi, angka 7 ternyata juga mempunyai arti "Banyak" dalam makna jumlah yang tidak ditentukan.
Dalam Qur’an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada
langit (Sama’), angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan adanya 7
jalan diatas manusia.

Rasanya terlalu kaku untuk
mengatakan bahwa Muntaha itu letaknya berada diluar orbit Pluto dan
merupakan planet yang ke-10 dalam lingkungan tata surya kita atau
merupakan planet ke-7 yang berada diatas orbit bumi.
Hal ini akan saya uraikan lagi pada penjelasan mengenai arti "Masjidil Haraam dan Masjidil Aqsha".

Saya lebih cenderung
mengartikannya sebagai sebuah planet yang keadaannya tidak berbeda jauh
dengan bumi tempat kita tinggal saat ini, dimana disana juga ada
peredaran benda-benda langit yang mengelilingi sebuah matahari. Dan
yang jelas, planet "bumi" Muntaha ini letaknya diluar galaksi Bimasakti
kita.

Dia bisa terletak digugusan bintang mana saja didaerah alam semesta yang sangat luas.
Dan pernyataan bahwa Muntaha dan Jannah yang berkedudukan diatas bumi, itu memang benar, memang mereka berkedudukan diluar bumi.

Juga pernyataan Allah pada ayat
2:36 mengenai kata "Ihbithu" seperti yang pernah kita bahas pada waktu
pengupasan masalah Adam pada artikel sebelumnya dan akan kita ulangi
sedikit disini adalah benar.

"Pergilah !" itu adalah kalimah perintah, dan dalam bahasa Qur’annya adalah "ih bithu" , dan arti sebenarnya adalah : "Turun dari tempat yang tinggi.", seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti "Pindah dari satu tempat kesatu tempat lain." Dan karenanya ada juga penafsir yang memakai kata "Turunlah" saja.

Allah menyuruh Adam dan istri
untuk turun dari tempat yang tinggi, yaitu Muntaha (dimana nantinya
juga Muhammad akan kembali kesana dan berada pada ufuk yang tinggi
tersebut), ini bisa kita tafsirkan bahwa saking tingginya, atau saking
jauhnya letak Muntaha yang ada Jannah tersebut, maka Allah menggunakan
kata "Ih bithu" atau Turunlah ! Atau berpindahlah dari sini kesana.

Kembali pada permasalahan kita
semula, yaitu kenapa perjalanan Nabi Muhammad Saw itu dilakukan pada
waktu malam hari dan tidak pada waktu lainnya (pagi, siang, sore).
Saya berpendapat, bahwa salah satu alasan logis lain yang bersifat
kejiwaan disamping alasan yang dikemukakan oleh Nazwar Syamsu adalah
pada malam hari, keadaan diliputi oleh ketenangan, apalagi jika kita
mengilas balik seperti apa kira-kira keadaan Arabia pada masa itu jika
malam menjelang.

Selain itu, suasana malam adalah
suasana yang khyusuk didalam beribadah, suasana dimana manusia
menghentikan kegiatan mereka untuk sementara waktu dan mengistirahatkan
pikiran dan jiwa mereka dari kesibukan sehari-hari, dan merupakan
suasana yang sangat hening yang membantu menciptakan kondisi yang cocok
bagi upaya mendekatkan diri kepada Allah.

AlQur’an memberikan petunjuk yang
jelas bahwa saat terbaik upaya ibadah yang berkualitas ialah pada waktu
malam hari. AlQur’an mencatat suasa malam itu untuk menjalin hubungan
yang terbaik dengan Allah :

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQur-an) pada malam kemuliaan."
(QS. 97:1)

Untuk ibadah, shalat tahajud,
saat-saat terbaik merasakan kelezatan malam sekitar bagian ketiga
menjelang fajar. Jauh dari rasa riya’ dan ujub serta takabur karena
tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

"Berdirilah melakukan shalat malam hari, walau jangan hendaknya seluruh malam itu, separuhnya saja atau kurang dari itu."
(QS. 73:2,3)

"Sesungguhnya bangun waktu malam itu adalah paling baik dan cocok untuk shalat dan paling baik untuk memuji Allah."
(QS. 73:6)

"Sesungguhnya pada pertukaran
malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di
bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertaqwa."
(QS. 10:6)

Dari Masjidil haraam ke Masjidil Aqsha :
Dimulainya perjalanan Nabi Muhammad Saw adalah dari Masjidil Haraam, yaitu kota Mekkah Almukarromah menuju ke Masjid Al-Aqsha.

Seperti yang diketahui bersama,
Masjidil Haraam adalah rumah peribadatan yang pertama kali dibangun
untuk manusia oleh Allah Swt yang akhirnya dasar-dasarnya ditinggikan
oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya, Nabi Ismail as., Tempat tersebut
juga merupakan awal bertolaknya dakwah serta tempat berdomisilinya
Rasulullah Saw.

Tetapi benarkah pendapat umum
yang menyatakan bahwa dari Masjidil Haraam, Mekkah AlMukarromah, Nabi
Muhammad Saw pernah melakukan kunjungan ke Masjidil Aqsha yang terletak
di Palestina ?

Setelah sekian lama saya mencoba
menyelidiki, mendalami, dan menganalisa serta mempertimbangkan dari
beberapa sudut keilmuan modern dan pendapat para alim ulama, akhirnya
saya berkesimpulan bahwa Masjidil Aqsha tempat Nabi Muhammad Saw
melakukan "kunjungan" itu TIDAK TERLETAK DIBUMI.

Masjid Al-Aqsha sendiri waktu itu belumlah ada, yang ada di Bait Al-Maqdis di Palestina adalah Haikal Sulaiman.
Ada sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari yang menyatakan bahwa
ketika kaum Quraisy bertanya kepada Nabi Saw perihal keadaan Bait
Al-Maqdis, Beliau sempat terdiam dan bahkan bimbang, hal ini
membuktikan bahwa memang Rasul tidak pernah pergi kesana malam itu,
melainkan pergi ke "Masjid Al-Aqsha" yang terletak di Muntaha.

 

"Kaum Quraisy menanyakan kepadaku tentang perjalanan Israa’, aku ditanya tentang hal-hal di Bait Al-Maqdis, tidak dapat aku menerangkannya sampai-sampai aku bimbang.
Tatkala kaum Quraisy mendustakanku, aku berdiri di Hijr lalu Allah Swt
menggambarkan dimukaku keadaan di Bait Al-Maqdis dan tanda-tandanya
hingga mampu aku menerangkannya kepada mereka seluruh keadaan.
(Diriwayatkan Bukhari)

 

Mari sekarang sama-sama kita tinjau dulu dari segi bahasa,
Arti dari "Masjid" itu sendiri adalah tempat bersujud, dan sujud ini
adalah merupakan risalah setiap Nabi dan Rasul Allah sebelum periode
Muhammad Saw.

Dari AlQuran beberapa diantaranya
adalah ketika Allah memberikan firmanNya kepada Ibrahim sewaktu
meninggikan Ka’bah bersama puteranya, Ismail (2:125), Siti Maryam
(3:43), Firman Allah kepada Bani Israel (2:58), adanya beberapa
golongan Ahli kitab yang mengEsakan Allah (3:113), Nabi Musa dan
umatnya (4:154), Nabi Daud (38:24) dan lain sebagainya.

Dari Bible :
Mazmur 96:6
"Marilah kita menyembah dan bersujud; marilah kita berlutut kepada Tuhan yang menciptakan kita."

Yoshua/Yusak 5:14
"… maka Yusak pun tersungkur dengan mukanya ketanah sambil menyembah sujud…"

Raja-raja I:18:42
"…tetapi Elia naik keatas kepuncak Karmel, lalu tunduk sampai ketanah dengan mukanya ditengah-tengah lututnya."

Bilangan 20:6
"Maka pergilah Musa dan Harun dari hadapan orang banyak itu kepintu
kemah perhimpunan, lalu keduanya menyembah sujud. Maka kemuliaan Tuhan
kepada mereka itu."

Kejadian 17:3
"Lalu sujudlah Abraham dengan mukanya sampai kebumi…"

Nah, dari itu semua jelas bahwa
para nabi dan umat sebelum Muhammad Saw sudah melakukan penyembahan
kepada Allah dengan cara rukuk dan sujud. Lalu tata cara penyembahan
ini disempurnakan lagi oleh Allah kepada Muhammad Saw serta umatnya
dengan cara ibadah Sholat sebagaimana yang kita lihat sekarang.

Jadi, kata "Masjid" sebenarnya adalah tempat yang digunakan sebagai tempat bersujud.
Mari kita lihat juga pada kisah Ash-habul Kahfi :

La nat takhiizanna ‘alaihim masjida
"Sesungguhnya kami akan mendirikan masjid ditempat mereka itu".
(QS. 18:21)

Padahal kita semua tahu bahwa
masjid dalam pengertian nama bagi suatu bangunan ibadah hanya terdapat
pada periode Nabi Muhammad Saw, sementara itu kisah Ash-habul Kahfi
telah terjadi ratusan tahun sebelumnya.

Aqsha bukanlah nama, arti Masjidil Aqsha adalah Masjid yang jauh atau Tempat sujud yang terjauh.

Dan masih ingatkah anda tentang Jannah dimana disana Adam dihormati oleh semua Malaikat dan Jin dengan cara bersujud ?


Yap, memang itulah tempat yang saya maksudkan.
Masjidil Aqsha yang menjadi tempat tujuan Rasulullah Muhammad Saw
adalah Tempat bersujudnya para Malaikat terhadap Adam sekaligus menjadi
tempat bersujudnya Nabi Muhammad Saw kepada Allah pada saat beliau
menerima perintah shalat yang letaknya sangat jauh dari bumi dan
terdapat di Muntaha.

Adam as., adalah khalifah manusia
yang dipilih oleh Allah untuk planet bumi, sekaligus menjadi nenek
moyang manusia semuanya, dan Muhammad Saw adalah Nabi Allah yang
terakhir untuk manusia yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.


Allah telah mengawali penciptaan Adam selaku khalifah pertama manusia
bumi kita ini sekaligus Nabi pertama dengan meletakkannya di dalam
Jannah yang ada di Muntaha, dan menutupnya dengan pengiriman Muhammad
selaku Nabi terakhir untuk kembali melihat Kampung Halaman kita di Muntaha yang Jannah ada didekatnya.

Cukup logis saya rasa penjelasan saya ini, dan jauh dari sifat yang mengada-ada serta tidak jelas.

Perjalanan Nabi dalam Mi’raj itu
selaku ujian atas kecerdasan manusia dibidang keilmuan dan kehidupan,
ayat 17/1, 53/1 s.d 18 serta ayat 17/60, dan semua itu terbatas hingga
Muntaha dengan pengertian bahwa peradaban manusia ini umumnya sampai
nanti tidak akan menyimpang dan tidak melampaui dari apa yang sudah
dicapai oleh Muhammad Saw dalam Mi’rajnya.

Dan karenanya saya sangat tidak
sependapat dengan Nazwar Syamsu yang mengatakan bahwa Muntaha adalah
planet ke-7 diatas orbit bumi dan hanya sampai disitulah tempat manusia
bisa menjelajahi angkasa raya.

Padahal Allah justru menganjurkan
kepada manusia untuk dapat menjelajahi kebagian mana saja dari langit
dan bumi ini, asalkan mereka memiliki sulthaan yang artinya kekuatan
atau kesanggupan atau juga bisa diartikan tekhnologi.

Hai jama’ah jin dan manusia, jika
kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu
tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan".
(QS. 55:33)

Dalam ayat tersebut Allah menyuruh tidak hanya kepada umat manusia saja, namun juga melingkupi umat Jin.
Dan Allah tidak berkesan membuat pembatasan-pembatasan terhadap
"langit-langit tertentu" yang dapat ditembusi oleh manusia dan Jin.


Makanya saya lebih cenderung berpendapat bahwa Muntaha itu letaknya
diluar galaksi kita sekarang ini, yang jaraknya jutaan tahun cahaya.
Sesungguhnya angkasa raya itu sangatlah luas dan terdiri dari ribuan
juta galaksi.

Matahari kita adalah satu
diantara 100.000 juta bintang yang berada didalam suatu putaran spiral
maha besar yang kita sebut dengan Galaksi kita.
Beberapa ribu buah bintang diantaranya dapat kita saksikan pada malam yang cerah.
Pada bagian langit atau angkasa tertentu, tampak sedemikian banyak
bintang, hingga menyerupai sejalur pita putih yang kita sebut dengan
Bimasakti.

Galaksi kita bergaris tengah satu
juta juta Kilometer. Para astronom lebih senang menyatakan jarak
sebesar itu dalam satuan tahun cahaya, yaitu jarak yang ditempuh oleh
berkas cahaya dalam ruang selama setahun.
Dengan laju 300.000 kilometer tiap detik, berkas cahaya memerlukan
waktu 100.000 tahun untuk melintasi Galaksi kita. Oleh sebab itu garis
tengah Galaksi juga dikatakan sebesar 100.000 tahun cahaya.

"Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.
Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya
benar-benar meliputi segala sesuatu."
(QS. 65:12)

Disini saya cenderung mengambil makna angka 7 dalam ayat Qur’an yang menunjukkan atas langit dan bumi sebagai pengertian "Banyak" .  Dan memang benar begitulah kenyataannya

Galaksi terdekat dengan kita adalah berjarak 170.000 tahun cahaya.
Dan diperkirakan bahwa pada setiap galaksi akan terdapat sistem matahari sebagaimana yang ada pada galaksi bima sakti kita ini.

Dan jika setiap galaksi memiliki
sistem matahari tersebut, maka tentunya keadaan dari planet-planet yang
mengitari galaksi tersebut juga tidak akab berbeda jauh dengan keadaan
planet-planet yang ada dalam wilayah galaksi Bima sakti.

Maka untuk kesekian kalinya,
benarlah firman Allah diatas, bahwa Allah telah menjadikan banyak
sekali (diwakili oleh angka 7) bumi-bumi didalam lingkungan
galaksi-galaksi (7 langit) yang berada diruang angkasa.

Dan dibumi-bumi tersebut juga ada kehidupan layaknya kehidupan yang kita jumpai diplanet bumi kita ini.
Dan dibumi yang paling ujung atau bumi yang terjauh itulah ada Jannah
dimana Nabi Adam dulunya tinggal dan kembali dikunjungi oleh Nabi
Muhammad Saw pada saat Mi’rajnya ke Muntaha.

Setiap bumi pasti memiliki matahari, dan bumi itu sendiri akan bergerak mengelilingi matahari tersebut.
Dan Jannah, yang terdapat diMuntaha, memiliki tumbuh-tumbuhan atau
pepohonan yang sangat rimbun sekali dan subur, dipenuhi oleh
buah-buahan segar, sehingga jika kita berada didalamnya maka kita tidak
akan kepanasan serta kehausan sebagaimana firman Allah kepada Adam as.

"Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak akan kepanasan di dalamnya".
(QS. 20:119)


Pada abad ke-18, William Herschel menyatakan bahwa sebagian dari apa
yang disebut nebula pada kenyataannya adalah pulau alam semesta.
Pulau-pulau tersebut sebenarnya merupakan tatanan bintang paripurna
yang berada jauh dari galaksi kita. Makin banyak pembuktian yang
dikumpulkan oleh Astronom pada abad ke-19 mendukung teori tersebut.
Pada tahun 1917, teleskop raksasa baru di Mount Wilson, California,
memperlihatkan bahwa "nebula" Andromeda terdiri atas kumpulan bintang.

Teori Herschel itu akhirnya dikukuhkan pada tahun 1923.
Kemudian Edwin Hubble menunjukkan bahwa gugusan bintang-bintang itu
terpisah ratusan ribu tahun cahaya dari bumi. Dengan ini terbukti pula
bahwa nebula Andromeda itu sebenarnya merupakan galaksi, yang sama
sekali terpisah dari tatanan bintang kita.

Sekarang manusia telah mengetahui
akan adanya ribuan juta galaksi. Beberapa dari padanya tidak mempunyai
bentuk tertentu; yang lain berbentuk spiral atau elips.
Galaksi kita, bersama 16 buah galaksi lainnya yang terangkum dalam jarak 3 juta tahun cahaya, disebut kelompok lokal.

Disini saya berkeinginan untuk
sedikit mengajak anda membaca sebuah penuturan dari salah satu url atau
site mengenai angkasa luar akan adanya sebuah kehidupan disalah satu
galaksi, dimana digalaksi tersebut ada juga bumi yang mengitari
matahari.

Saya sadar bahwa tulisan dari
site tersebut masih perlu untuk diragukan kebenarannya, namun dalam hal
ini, terlepas dari benar tidaknya apa yang dituliskan disana,
setidaknya kita bisa sedikit menjadikannya sebuah lintas bacaan
semata-mata. Dan tidak ada salahnya kita menghubungkannya dengan Surah
65:12 yang baru saja kita bahas.

Jika saja yang menulisnya seorang
Muslim, tentu saja saya akan berpikir dua tiga kali untuk menyadurnya,
sebab bisa saja itu adalah pendapatnya yang ditujukan untuk memperkuat
dalil-dalil AlQur’an.

Namun tidak, site ini ditulis
oleh seorang yang tidak menganut Islam, malah jangan-jangan orang
tersebut juga meragukan kepercayaan yang diyakininya.
Jadi tertutup kemungkinan bahwa ada unsur-unsur tertentu yang
berhubungan dengan Islam dan upaya penegakan Islam dari penulisan
tersebut.

Yang telah Kami berkahi sekelilingnya :

Dalam lafal Qur’annya adalah barokna haw lahu.
Disini juga orang sering mengartikan bahwa kata haw lahu atau Kami
berkahi sekelilingnya adalah diperuntukkan untuk tempat disekitar
perjalanan Rasulullah tersebut.
Namun saya mengartikannya tidak demikian.

Kata "NYA" atau lafal "HAWLAHU"
pada kata "Kami berkahi sekeliling" atau "Barokna hawlahu", sebenarnya
adalah ditujukan kepada diri Muhammad Saw sendiri.

Dalam bahasa Arab, kata "Haw laha" itu ditujukan untuk yang bergender perempuan.
Kata "Haw lahuma" itu ditujukan untuk menerangkan arti "mereka", yang maknanya lebih dari satu.
Sementara kata "Haw lahu" adalah ditujukan kepada yang bergender
jantan, dan dalam hal ini adalah diri Muhammad Saw, yang memang sebagai
seorang laki-laki.

Jadi, Istilah "disekelilingnya"
dalam ayat 17/1 ini adalah disekeliling Muhammad. Hal ini juga
dibuktikan oleh istilah lain berikutnya "Untuk diperlihatkan kepadanya."

Jadi Barkah telah diadakan disekeliling Muhammad dalam peristiwa Asraa kemasjidil Aqsha di Muntaha.
Apakah Barkah atau Barokna itu ?

Barkah adalah penjagaan, yaitu penjagaan yang melingkupi keluarga
Ibrahim pada ayat 11/73, atau yang menjaga Nabi Nuh dan beberapa
umatnya didalam perahu hingga topan besar tidak membahayakan mereka
sedikitpun pada ayat 11/48, ataupun penjagaan atas kota Mekkah seperti
yang dimaksud ayat 21/71 dan 21/81.
Malah penjagaan atau Barkah yang melingkupi diri Muhammad Saw dalam
Asraa itu, ditinjau dari segi bahasa, maka bisa kita samakan keadaannya
dengan Barkah yang melingkupi bumi ini seperti tercantum pada surah
7/96.
(Lebih jelas, lihat dalam konteks ayat-ayat aslinya)




Kita ketahui bersama, disekeliling bumi terdapat pembungkus gas yang tipis dan bening yang kita sebut dengan nama Atmosfir yang merupakan pelindung guna melindungi kehidupan terhadap kehampaan angkasa.
Tanpa atmosfir, sinar matahari yang menghanguskan akan membakar semua
kehidupan pada siang hari, dan pada malam hari suhu dapat turun jauh
dibawah titik beku.

 Jadi, Barkah ini berupakan sesuatu yang melindungi diri Nabi Muhammad
Saw hingga beliau tidak terbentur pada meteorities yang berlayangan
diangkasa bebas serta memiliki udara cukup untuk pernafasan selama
berada diruang angkasa bebas. Dan dapat dimungkinkan perlindungan ini
berupa lapisan-lapisan Atmosfir seperti yang melingkupi bumi atau juga
semacam sebuah pesawat ruang angkasa.

Jadi
bukanlah Barkah itu ditentukan untuk Palestina sebagaimana pendapat
umum selama ini, apalagi jika dinisbatkan ke Bait Al-Maqdis atau Masjid
Al-Aqsha yang ada di Palestina sekarang.
Dan bukanlah juga Barkah itu sebagai hewan bersayap yang dikendarai Nabi dalam Asraa itu.
Masalah kendaraan yang bernama Boraq ini akan kita uraikan tersendiri secara terperinci pada pembahasan mengenai Buraq.

Sekarang,
mari terus kita lanjutkan pembahasan ayat 17/1 yang telah banyak kita
potong dengan tambahan keterangan-keterangan yang berhubungan dengannya
:

Kami perlihatkan pertanda-pertanda Kami :
Kami perlihatkan disini dapat kita synonimkan dengan "Diperlihatkan".
Yaitu, diperlihatkan kepada Muhammad yang mengandung pengertian melihat
dengan mata sendiri yaitu mata konkrit bukan dalam mimpi atau ruhnya
saja.

Dan
karena Muhammad mi’raj dengan tubuh kasarnya, untuk itu diperlukan
adanya Barkah, maka Barkah ini juga membuktikan bahwa Rasulullah itu
telah berangkat dari bumi dengan jasmani dan rohaninya, sebab itu
pantaslah dia dapat melakukan penglihatan dengan kedua matanya yang
konkrit.

Dalam membicarakan masalah Mi’raj pada surah 17 ayat 1 ini, AlQur’an menggunakan perkataan :
"Linuriyahu min aayatina" yang artinya: "untuk Kami perlihatkan
kepadanya tanda-tanda Kami" yaitu tanda-tanda kebesaran Allah (istilah
Aayat adalah jamak dari Aayah).

Sementara
didalam surah 52 (An Najm) ayat 18 seperti yang kita singgung pada awal
pembahasan, AlQur’an menggunakan perkataan : "Laqod ro-aa min aayati
Robbihi alkubroo." yang artinya: "Sesungguhnya ia telah melihat
sebagian tanda-tanda Tuhannya yang besar-besar/hebat."

Dalam
17/1 disebutkan "Iraa-ah minallah" (Diperlihatkan oleh Allah),
sedangkan didalam 53/18 dikatakan "ra-aa bi nafsihi" (melihat dengan
sendirinya).

Mari kita uraikan :

Aktifitas yang ada didalam 17/1 adalah "iraa-ah".
Apakah artinya ?
Iraa-ah adalah menjadikan orang yang tidak tahu menjadi tahu, baik
dengan merubah sesuatu yang diperlihatkan itu dengan disesuaikannya
dengan qanun (ketentuan yang berlaku) bagi orang yang melihatnya atau
juga dengan mentransfer atau mengalihkan orang yang melihatnya itu agar
ia bisa menembus qanun yang berlaku bagi sesuatu yang hendak dilihatnya
itu.

Kita ambil contoh tentang mikroskop.
Mikroskop tersebut dipakai untuk melihat sesuatu (benda) yang sangat
kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Karena kecilnya maka
seseorang tidak dapat melihat benda tersebut, tetapi setelah
mempergunakan mikroskop lalu ia dapat melihat benda kecil tersebut.

Ini
berarti menjadikan orang yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu karena
adanya lensa yang menampakkan benda-benda yang kecil menjadi besar.

Disini
benda kecil itu disesuaikan dengan qanun mata biasa, dimana menurut
qanun (ketentuan yang berlaku) mata biasa manusia hanya dapat melihat
benda-benda yang tampak (besar) saja.

Dengan
demikian maka "iraa-ah" (memperlihatkan/menampakkan) itu dapat dengan
mengadakan perubahan terhadap benda/sesuatu yang dilihatnya itu sesuai
dengan qanun orang yang melihatnya sehingga ia dapat mengetahuinya,
atau dengan memberikan sesuatu alat pada benda yang dilihatnya itu
sehingga yang bersangkutan dapat melihatnya.

Dalam
17/1 AlQur’an mempergunakan kata-kata "Linuriyahu" (untuk kami
perlihatkan), yaitu dijadikan oleh Allah bahwa Muhammad dapat melihat
sesuatu yang pada asalnya ia tidak dapat melihatnya dengan sendirinya.
Karena Nabi Muhammad Saw sebelumnya berada dimuka bumi dengan qanun
basyariah (manusiawinya) sebagai seorang manusia yang normal, secara
otomatis Nabi Muhammad Saw tidak dapat melihat bagaimana keadaan diluar
angkasa sana yang juga merupakan salah satu kebesaran Allah.

Maka
kepada Nabi Muhammad Saw diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda
kebesaran Allah yang ada diluar planet bumi ini dengan memperjalankan
beliau dengan penjagaan penuh (yang disebut dengan Barkah atau lafal
Qur’annya "Baroqna") ke Muntaha yang terletak disalah satu galaksi
terjauh dari galaksi bima sakti, tempat dimana dulunya Adam dan
istrinya pernah tinggal dan menetap.

Diperlihatkan
kepada Nabi betapa planet bumi yang kita tempati ini terdapat didalam
sebuah tata surya yang bagaikan suatu noktah kecil diantara jutaan
milyar tata surya lainnya yang juga disebut oleh para ahli dengan nama
solar system.

Begitulah perikeadaan Rasulullah Saw dalam peristiwa ardliyah, yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj ini.
Tetapi ketika Nabi Saw naik kepada ufuk (tempat) yang lebih tinggi,
tepatnya ketika beliau sudah berada di Muntaha, maka terjadilah
perubahan pada dzatiyah beliau., seolah-olah beliau telah meninggalkan
basyariahnya bertukar dengan dzatiyah malaikat yang bisa melihat segala
sesuatu disana dengan sendirinya.

Keadaan
semacam itu juga dulunya yang pernah ada pada diri Adam dan istrinya
ketika masih berada di Muntaha sebagaimana yang kita uraikan pada
artikel tersebut. Suatu keadaan dimana Adam dapat melihat para
malaikat, para Jin dan termasuk Iblis.

Makanya
untuk kasus Nabi Muhammad Saw, oleh Qur’an dikatakan : "Laqad ra-aa…
(Sungguh ia telah melihat..).", dan tidak dikatakannya sebagai :
"Ara’ainaahu …(Kami perlihatkan kepadanya)"

Jadi, pada masa perjalanan Rasul dari bumi menuju ke Muntaha, ia diperlihatkan oleh Allah
akan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah yang lainnya didalam
lingkungan semesta, dan begitu ia hampur mendekati tujuan, yaitu
Sidratil Muntaha, Allah berfirman bahwa Muhammad "ra-aa" (melihat
dengan sendirinya) .. seakan-akan Rasulullah Saw dengan qanun basyariah
sebelumnya (dari bumi hingga menjelang tiba) telah mengalami perubahan
dimensi, yaitu suatu penyesuaian terhadap lingkungan barunya sehingga
ia bisa menyaksikan peristiwa-peristiwa yang ada disana (Muntaha)
secara langsung.

Kita
semua tahu, bahwa Rasulullah Muhammad Saw adalah juga manusia biasa
yang memiliki keterbatasan didalam segala hal, karena yang tidak
terbatas itu hanyalah Allah Swt semata.

Sebagai seorang manusia biasa, sebagai keturunan Adam as, keadaan beliau sama seperti kita.
Untuk itu, Allah telah mengadakan penyesuaian atau membuka Ijab
terhadapnya agar dapat memasuki Muntaha yang suci sekaligus
menjadikannya kasyaf, melihat tembus segala sesuatunya, termasuk
melihat wujud malaikat Jibril dalam rupa aslinya sebagaimana yang
dikatakan pada ayat 53:13-14.

Dengan
kata lain, Nabi Muhammad dikembalikan kepada fitrah manusia semula,
yaitu fitrah awal yang diberikan kepada Nabi Adam as waktu itu. Keadaan
dimana Nabi Muhammad dapat melihat semua malaikat-malaikat Allah serta
dapat bercakap-cakap dengan mereka.

Bahkan,
dalam beberapa hadist yang sampai saat ini masih bisa dikatakan shahih
dan diyakini oleh sebagian besar para ulama menyatakan bahwa Nabi Saw
juga telah bertemu dengan ruh para Nabi terdahulu, seperti Adam, Musa,
Ibrahim dan beberapa ruh Nabi-nabi dan Rasul lainnya, dimana beliau
melakukan Shalat sebanyak 2 raka’at, menurut ketentuan shalat para Nabi
itu dulunya, yaitu ruku’ dan sujud.

Memang
tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, termasuk masalah pengimaman
yang dilakukan oleh Rasulullah Saw ini terhadap para ruh, sementara
beliau sendiri berada dalam keadaan hidup, jasmani dan ruhaninya, hal
ini mengingat bahwa kedudukan Nabi Muhammad Saw yang mulia disisi Allah
sekaligus sebagai penutup dari para Nabi dan sesuai pula dengan ayat
yang menyatakan bahwa orang yang sudah mati itu tidaklah mati habis
begitu saja, namun mereka tetap hidup (dialam penantian).


Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan
Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak
menyadarinya."
(QS. 2:154)

"Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati;
bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki."
(QS. 3:169)

"Dia
mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari
yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya; Dan seperti itulah
kamu akan dikeluarkan."
(QS. 30:19)

"Menciptakan
dan membangkitkan kamu tidak lain hanyalah seperti (menciptakan dan
membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat."
(QS. 31:28)

Kemudian,
seperti yang juga banyak kita dapatkan didalam periwayatan hadist,
bahwa Nabi Muhammad selanjutnya di Sidratil Muntaha, menuju suatu
tempat agung yang Jibril sendiri, selama ini sebagai "Tangan Kanan
Allah" tidak mampu menembusnya, (didalam salah satu riwayat dikatakan
sebagai tempat lautan cahaya sekaligus merupakan batas terakhir bagi
Jibril menghantarkan Muhammad) dilukiskan dengan gaya bahasa yang indah
oleh Qur’an, seperti yang dikatakan pada ayat ke-16 hingga ayat ke-18
surah 53 :


Ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.
Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda terbesar dari Tuhannya.
(QS. 53:16-18)

Sungguh,
suatu ungkapan teramat sangat yang dicoba dilukiskan dengan kata-kata
mengenai keindahan yang begitu menawan atas apa yang sudah dilihat oleh
Nabi Muhammad Saw pada waktu itu.

Makanya
tidak heran jika akhirnya ulama kembali terpecah dua didalam memahami
ayat ini, ada sebagian mereka mengatakan bahwa Nabi Saw benar-benar
telah melihat Tuhan pada saat itu, namun sebagian lagi menyatakan
sebaliknya.

Namun
saya sendiri berpendapat bahwa apa yang telah dilihat oleh Nabi besar
Muhammad Saw ketika itu tidak lain hanyalah tabir atau yang disebut
didalam bahasa Qur’annya dengan hijab sebagaimana keterangan dari
Qur’an sendiri :


"Dan tidak bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata kepadanya
kecuali dengan ilham atau di belakang tabir (hijab) atau Dia mengirim
utusan (malaikat) lalu dia mewahyukan dengan seizin-Nya apa-apa yang
Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.
(QS. 42:51)

Adapun
keindahan dari Hijab atau tabir inilah yang membuat Nabi Muhammad Saw
terpesona, kagum dan beribu perasaan lainnya yang menyelimuti perasaan
hatinya, sehingga pemandangan Rasul yang agung ini tidak berpaling dari apa yang dilihatnya namun juga Beliau tidak dapat melihat lebih jauh lagi atau melampaui tabir tersebut, sebab memang hanya sampai disanalah kemampuan mata beliau yang di izinkan Allah untuk dapat melihat.

Benarlah
kiranya pada ayat yang ke-18, AlQur’an menyebutkan bahwa Nabi Muhammad
Saw telah melihat sebagian tanda-tanda yang terbesar dari Tuhannya.
Apa yang sudah dilihat oleh Rasul Saw, adalah suatu karunia yang tidak
terhinggakan, melebihi segala-galanya, suatu rahmat dan nikmat yang
amat sangat diinginkan oleh Nabi Musa as namun tidak kuasa ia dapati
sebagaimana yang disebutkan dalam surah 7 ayat 143.

Namun
karena yang dilihat oleh Nabi Muhammad Saw waktu itu adalah Hijab yang
menutupi Allah, makanya disebutkan pada ayat 17 dan 18, bahwa ia telah
melihat "Sebagian" dari kekuasaan Tuhan, bukan "Semuanya".

Dalam salah satu Hadist shahih riwayat Masruq yang dirawikan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi disebutkan :

"Saya
pernah bertanya kepada ‘Aisyah r.a. demikian: ‘Wahai Ummul Mukminin,
benarkah Nabiyullah Muhammad Saw pernah melihat Tuhannya ?’ Beliau
menjawab, ‘Benar-benar telah berdiri bulu romaku karena mendengar apa
yang engkau katakan itu. Hati-hatilah engkau dari tiga hal ini;
barangsiapa yang memberitahu kepadamu tentang tiga hal ini, pastlah dia
berdusta.


  1. ‘Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa Nabi Muhammad Saw
    pernah melihat Tuhannya, maka ia pasti berdusta.’ Lalu ‘Aisyah membaca
    ayat yang artinya :
    Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata,
    sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha
    Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:103)

  2. ‘Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa ia dapat mengetahui apa
    yang akan terjadi esok hari, pastilah ia berdusta,’ Lalu ‘Aisyah
    membacakan ayat yang artinya :
    Tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakan besok hari. (QS. 31:34)

  3. ‘Barangsiapa yang mengatakan padamu bahwa ia (Rasulullah)
    menyembunyikan sesuatu dari wahyu, maka pastilah ia berdusta.’ Lalu
    ‘Aisyah membacakan ayat yang artinya :
    Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. (QS. 5:67)

Tetapi, katanya meneruskan, ia pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali."
(HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Sekarang, kita akan melanjutkan pembahasan dari bagian terakhir ayat 17/1 :

Sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha melihat :
Innahuu Huassami’ul Basyiir, Bahwa Allah, Tuhan yang Maha Esa,
senantiasa melihat, mendengar, memperhatikan dan menentukan setiap
gerak tindak zahir bathin dari seluruh wujud disemesta raya. Semua itu
senantiasa berjalan dengan cara yang wajar melalui garis kausalita.

Tidak satupun yang terlepas dari ketentuan Allah walaupun gerak hati dalam dada setiap diri.
Ayat ini berhubungan erat pula dengan 3 ayat terakhir dari surah ke-2,
yaitu ayat 284 hingga 286 yang menurut beberapa hadist diberikan kepada
Nabi Saw pada saat beliau menerima perintah shalat langsung dari Allah
Swt.

(284)
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika
kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu
menyembunyikannya, Allah akan memeriksa kamu tentang perbuatanmu itu.
Dia akan mengampuni siapa yang Ia kehendaki dan menyiksa siapa yang Ia
kehendaki; Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(285)
Rasul itu percaya kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
dan orang-orang yang beriman; tiap-tiap seorang daripada mereka percaya
kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasul-Nya.
"Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun dari rasul-rasulNya", dan
mereka berkata:"Kami dengar dan kami ta’at, Ampunilah kami ya Tuhan
kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

(286)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia akan mendapat apa yang diusahakannya serta mendapat apa yang
dikerjakannya. "Hai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami
lupa atau kami keliru. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada
kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang
sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami yang
tak sanggup kami mengerjakannya. Ampunilah kami, lindungilah kami dan
kasihanilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap
kaum yang kafir".
(QS. 2:284-286)

Memahami peristiwa Mi’raj Rasulullah Saw

August 22nd, 2005 by photoku


Diterjemahkan dari AlQur’an surah An Najm ayat 1 s.d 18

 

  1. Demi bintang ketika terbenam,
  2. Kawanmu, (Muhammad), tidak sesat dan tidak keliru,
  3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.
  4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),
  5. yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat (yaitu Jibril),
  6. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli.
  7. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi.
  8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi,
  9. Maka jadilah dia dekat laksana dua busur panah atau lebih dekat.
  10. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah diwahyukan.
  11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
  12. Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?
  13. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya itu pada waktu yang lain,
  14. Di Sidratil Muntaha.
  15. Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal,
  16. ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
  17. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.
  18. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya yang paling hebat.

 




Nabi Allah yang terakhir, yaitu Rasul Allah Muhammad Saw telah
mengadakan perjalanan malam dari masjidil Haraam kemasjidil Aqsha dan
telah menyaksikan sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhan yang hebat dan
dahsyat dengan ditemani oleh Malaikat Jibril yang akan dilihatnya dalam
wujud aslinya pada saat di Muntaha sebagaimana yang pernah dijumpai
Rasulullah pertama kalinya digua Hira ketika mendapatkan wahyu yang
pertama.

 

Peristiwa
itu, bagi Nabi sendiri merupakan pengalaman yang paling tinggi dan
sempurna dalam kehidupan kerohaniannya. Kepergiannya keatas orbit bumi
sampai terus menjulang tinggi melangkahi berjuta bahkan bermilyar
bintang dan benda-benda angkasa lainnya untuk pada akhirnya sampai
dihadapan ‘Arsy Ilahi menyaksikan kebesaran Allah baik dengan mata
kepala, mata batin atau mata hatinya sehingga sangat sulit dilukiskan.

Kaum
alim ulama banyak berbeda pendapat mengenai masalah kejadian yang
dialami oleh Nabi yang agung ini, bahwa apakah peristiwa itu terjadi
secara rohani ataukah secara jasmani alias dengan badan kasar ?

Sejak
jaman permulaan, masalah ini senantiasa menjadi masalah ikhtilafiah,
masalah yang membangkitkan beda pendapat antara alim ulama dan
mufassirin. Dan ini adalah hal yang sangat wajar sekali, bukankah
tingkat pemahaman setiap orang dapat berbeda-beda sesuai dengan cara
berpikir dan pengetahuan masing-masing serta perkembangan peradaban
tekhnologi pada masanya ?

Ada
sementara orang yang menganggap bahwa peristiwa perjalanan Nabi ini
terjadi dalam mimpi, padahal mimpi itu tidak perlu dibantah. Toh itu
cuma mimpi. Misalnya seperti saya yang berada di Palembang, lalu saya
mengatakan bahwa tadi malam saya bermimpi pergi ke London, maka tidak
akan ada seorangpun yang bisa membantah saya, karena hal itu hanyalah
mimpi.

Orang yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi dalam mimpi mencoba mengemukakan dalil AlQur’an :

"Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar ru’yaa)  yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia."
(QS. 17:60)

Menurut mereka, lafal Ru’ya (dalam bahasa Arabnya memakai huruf "ya" saja) adalah berarti penglihatan dalam mimpi, bukan penglihatan dalam sadar. Sebab penglihatan dalam keadaan sadar mempergunakan bentuk masdar Ru’ya(h) (dalam bahasa Arabnya memakai huruf "ta" setelah huruf "ya")

Terhadap alasan ini, kita kemukakan jawaban bahwa apabila Penglihatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah Mimpi, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi Ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada lanjutan ayat 17:60 diatas ?

Sedangkan makna Ujian bagi manusia
ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang
mendustakan. Kalau toh hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka
orang tidak perlu lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau
mendustakannya.

Adakah
anda pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang
karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan perbuatan begini
dan begitu ? Tidak, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi
itu (yang nota bene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan
peristiwa itu tidak akan membantahnya - seandainya peristiwa itu
terjadi dalam mimpi).

Sekarang mari kita bicarakan arti kata "Ru’yaa dari segi bahasa menurut undang-undang kebahasaan Arab yang berlaku.

Coba
lihat kembali ucapan-ucapan jahiliah sebelum diturunkannya Al Qur-an,
juga pada saat Nabi Ibrahim memandang takjub atas bintang-bintang,
bulan, matahari dilangit ketika dalam pencarian jati diri Tuhannya,
maka akan kita dapati bahwa kata-kata "Ru’yaa" juga dipergunakan dalam
arti "melihat dalam keadaan sadar" (melihat dengan mata kepala).

Jadi perkataan "Ru’yaa" dengan arti "melihat dalam keadaan sadar" dipakai untuk perkara-perkara yang aneh-aneh dan menakjubkan yang biasanya terjadi dalam mimpi.

Apabila kita hendak menyatakan bahwa kita melihat sesuatu yang biasa maka kita katakan :
Ro aitu Ru’yah tetapi jika kita mengatakan sesuatu hal yang
dapat dilihat dengan mata kepala (Dalam keadaan sadar) dan kita
mempergunakan kata-kata "ra-aa" dengan bentuk masdar "rukyaa", maka
berarti apa yang kita katakan itu adalah hal yang luar biasa yang
umumnya hanya terjadi dalam mimpi, namun itu tidak berarti kita sedang
dalam mimpi.

Sekarang kita lanjutkan dengan membicarakan kata-kata "Ja’ala", bagaimanakah penggunaannya menurut tata bahasa ?

Saya berpendapat bahwa kata-kata "Ja’ala" ini apabila digunakan untuk sesuatu yang belum ada kemudian menjadi ada, maka kata-kata "Ja’ala" tersebut sama artinya dengan "Khalaqa".
Perhatikan Firman Allah :

"Waja’ala minha zau jaha"
Artinya :"Dan Kami jadikan daripadanya pasangannya."

Maksudnya
adalah : Kami ciptakan istri Adam itu dari padanya yang mana pada waktu
itu si Istri tersebut belum ada lantas kemudian menjadi ada. Tetapi
apabila kata-kata "Ja’ala" ini digunakan untuk sesuatu yang sudah ada,
maka artinya ialah "Merubah". Dari kata-kata "Ja’ala" dengan arti yang
kedua ini maka akan timbul dua hal, yaitu adanya "Maj’ul" (sesuatu yang
dijadikan/yang dibuat) dan "Maj’ul minhu" (sesuatu yang dijadikan
daripadanya akan sesuatu yang lain).

Misalnya kita katakan : Ja’altussinaibrita Artinya :Saya membuat tanah liat menjadi kendi.
Maka tanah liat ini sebagai bahan (Maj’ul minhu) dan kendinya sebagai Maj’ul.

Begitu juga dengan firman Allah terhadap Nabi Ibrahim :Inni Ja’iluka linnasi imama,
Artinya: "Aku akan menjadikan engkau sebagai imam bagi manusia." (QS.
2:124), maka hal itu berarti bahwa Nabi Ibrahim sudah ada, sedangkan
"Keimaman" adalah perkara yang lain lagi.

Lalu kembali lagi pada arti ayat 17:60 :"Dan tidak Kami jadikan penglihatan yang Kami perlihatkan kepadamu itu melainkan…"

Dijadikan apakah penglihatan yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad Saw itu ?
Jawabnya : Dijadikan ujian bagi manusia dimana timbul reaksi-reaksi
dari mereka, yaitu ada yang membenarkan dan ada yang mendustakan. Atau,
kalau kata-kata "Ru’yaa" disini diartikan dengan mimpi, maka mimpi ini dapat dijadikan Ujian bagi orang lain ? Karena mimpi tersebut kemudian menjadi kenyataan, dan dari kenyataan (peristiwa nyata) inilah lantas timbul Ujian.

Sehingga
dengan demikian maka dapat diambil pengertian bahwa peristiwa Mi’raj
itu mula-mula dialami Rasulullah Saw dalam mimpi, kemudian dalam alam
kenyataan sebagaimana hal ini dialami Rasulullah Saw pada peristiwa
yang lain seperti yang difirmankan oleh Allah :

"Sesungguhnya
Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya
dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki
Masjidil Haram.."
(QS. 48:27)

Dimana
peristiwa memasuki Masjidil Haram ini mula-mula berupa impian, kemudian
menjadi kenyataan. Dan tidak ada yang menghalangi Allah untuk
memperlihatkan kepada ruh Muhammad Saw mengenai peristiwa Mi’raj ini
dalam mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Dengan demikian maka dapat
disimpulkan bahwa Rasulullah mengalami Mi’raj dalam mimpi dan oleh
ruhnya, lalu dialaminya dalam alam kenyataan.

A’isyah r.a. pernah mengatakan :
"Sesungguhnya Rasulullah Saw tidak bermimpi sesuatupun melainkan mimpinya itu akan menjadi kenyataan seperti terbitnya fajar."

Sekarang,
mari kita tinjau kembali secara teliti, Surah 53 yang dimulai dari ayat
1 s.d ke-18 yang telah saya cantumkan pada bagian permulaan dari
artikel ini, dan perhatikan ayat-ayat yang telah saya tebalkan dan
miringkan hurufnya dan akan saya kutip kembali beberapa ayat yang
berhubungan erat dengan pembahasan utama kita :

11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. 
12. Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?

 

Ayat 1 s.d 12 itu menceritakan saat pertama kali pertemuan Nabi
Muhammad Saw dengan malaikat Jibril, dimana Muhammad waktu itu sedang
melakukan pengasingan diri lengkap dengan jasad fisiknya (lahir-batin)
didalam gua Hira pada saat menerima wahyu pertama.

Dan penglihatan terhadap Jibril ini dilakukan dengan mata kepala Rasulullah sendiri, lahir batinnya beliau melihat, serta "hati Rasul tidak pula mendustakan penglihatan matanya"

Lalu pada ayat berikutnya (12), kita semua ditanya oleh Allah Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?

Jauh-jauh
hari ternyata Allah sudah mempertanyakan keraguan yang ada didalam diri
kita atas apa yang telah pernah dilihat oleh Rasulullah Muhammad Saw,
sehingga semakin menjelaskan bahwa kejadian di Gua Hira itu adalah
nyata dan kongkrit dan tidak bisa terbantahkan.

Nah,
selanjutnya kejadian digua Hira ini berulang kembali pada saat di
Sidratul Muntaha yang termaktub pada Surah yang sama pada ayat
selanjutnya, 13-18

13. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya itu pada waktu yang lain,
14. Di Sidratil Muntaha.

17. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.
18. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya yang paling hebat.

Rasanya sudah transparan sekali Allah menjelaskan ayat-ayat tersebut
kepada kita untuk dapat dimengerti serta dipahami bahwa semuanya
berlangsung dengan logis dan real.
Tetapi memang, sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, masing-masing
orang dapat berbeda didalam menafsirkan setiap ayat didalam AlQur’an,
mengingat memang kandungan yang ada pada AlQur’an begitu luas, indah
dan mempesona selain juga begitu ilmiah.

Keilmiahan
inilah yang rupa-rupanya masih agak sulit ditangkap oleh para alim
ulama dahulu kala, karena memang perkembangan peradaban tekhnologi pada
masa itu belumlah lagi secanggih sekarang ini, sehingga pernyataan manusia bisa terbang kebulan saja masih banyak yang takjub dan terheran-heran serta tidak percaya.

Memang
bisa dimaklumi, penerbangan keangkasa luar dengan menggunakan pesawat
terbang sendiri sebagai pelajaran struktur jagad raya baru dicapai
sekitar abad 18 Masehi. Sebelum itu cerita manusia terbang tanpa
pesawat hanya dijumpai dalam cerita wayang atau cerita mengenai Nabi
Sulaiman dengan karpet terbangnya atau juga mengenai cerita di Romawi
dengan kuda sembraninya.

Hal
ini juga kiranya yang menyebabkan orang dahulu cenderung mencocokkan
beberapa arti ayat AlQur-an sedemikian rupa, sehingga bagi mereka yang
selalu berkutat dengan bidang ilmiah yang membacanya menjadi berkesan
rancu, lucu dan irrasional. Padahal kita semua tahu dan sadar, AlQur-an
sangat jauh dari sifat-sifat tersebut

Atmosfir sebagai perlindungan planet bumi

August 22nd, 2005 by photoku

Sebagian besar (99%) dari atmosfir terdiri dari zat lemas dan zat asam yang memberi kehidupan.
Kedua gas ini dan gas-gas lainnya ditahan pada bumi oleh gaya tariknya.
Karena gaya tarik ini, semua benda yang ada dibumi dan diatmosfir yang menyelubunginya, mempunyai berat.

Berat atmosfir sungguh menakjubkan, yaitu 6.000 juta ton.
Pada permukaan laut tekanan udara 1,0336 Kg per cm 2.
Walaupun demikian kita tidak merasa tekanan ini, karena tekanan didalam badan kita sama dengan tekanan udara diatas sana.

Atmosfir dibagi dalam beberapa lapisan.
Lapisan paling bawah ialah troposfir, berada antara 6 sampai 16 Km
diatas bumi, mengandung 90% dari seluruh udara. Semua kehidupan dan
hampir semua bentuk cuaca terdapat dalam lapisan ini.
Semakin tinggi, maka tekanan udara makin menipis dengan cepat.

Dipuncak Mount Everest, pada ketinggian 8.700 m, tekanan udara 1/10
daripada permukaan laut, dan sangatlah tidak enak. Gas disini begitu
tipis, sehingga zat asam tidak cukup untuk mempertahankan kehidupan.
Oleh karenanya, pesawat jet yang terbang tinggi memiliki kabin kedap
udara, dengan tekanan yang dipertahankan pada keadaan yang menyenangkan
dan banyak zat asam beredar.

Diatas troposfir terletak stratosfir.
Angin yang amat dingin bertiup kencang pada bagian yang paling bawah
dari lapisan ini, tetapi udara diatasnya tenang sekali dan
kadang-kadang ada juga pesawat udara yang melintasinya.

Distratosfir, makin tinggi tempat, makin naik suhunya.
Hal ini disebabkan oleh sinar ultra ungu matahari yang ganas itu
mengubah zat asam menjadi ozon pada ketinggian antara 24 hingga 48 Km.
Lapisan ozon inilah yang mencegah sinar-sinar berbahaya ini mencapai
bumi.

Diatas stratosfir terletak ionosfir, lapisan atmosfir yang paling luar.
Diluarnya lagi terdapat ruang hampa. Di Ionosfir udara menjadi amat tipis.
Atom disini berubah menjadi ion oleh aliran partikel-partikel yang masuk dari ruang angkasa.
Kadang-kadang, hal ini menyebabkan terjadinya sinar dilangit yang disebut dengan Sinar Kutub atau Aurora.
Ionosfir memungkinkan adanya hubungan radio gelombang panjang dengan memantulkan isyarat-isyarat radio kebumi.

Buraq, kendaraan inter dimensi

August 22nd, 2005 by photoku


Dari peristiwa Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah Muhammad Saw
Al-Amin, banyak hal yang bisa kita
ambil sebagai pelajaran, baik yang
ada hubungannya dengan masalah ritual seperti shalat lima waktu,
peristiwa yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad maupun yang ada
hubungannya dengan ilmu pengetahuan seperti ilmu falak /Astonomi/, ilmu
kedokteran dan sebagainya.

Menurut riwayat, sebelum Nabi berangkat untuk
penerbangan jarak jauhnya dalam peristiwa Mi’raj itu, lebih dahulu Nabi
dibedah dadanya untuk dibersihkan jantungnya oleh malaikat Jibril,
maksud dibersihkan itu sendiri, secara ilmiah sebagai suatu persiapan
kondisi jasmani (phisik)nya agar cukup dan mampu dalam menempuh
penerbangan jarak jauh.

Sebab jantung merupakan alat vital bagi manusia
terutama dalam memacu peredaran darah yang mana jantung ini bekerja
tanpa henti-hentinya sejak dari kandungan sampai dengan akhir hayatnya.

Sepasang dokter Amerika yang terdiri dari suami
istri, Dr. William Fisher & Dr. Anna Fisher mengatakan bahwa
perkembangan ilmu kedokteran antariksa tengah memfokuskan
penyelidikannya sehubungan dengan pembuluh darah jantung para astronot
dan kondisi-kondisi tulang yang makin lemah setelah lama dalam ruang
angkasa, ini membuktikan kebenaran dari peristiwa ‘Pembedahan Dada’
Nabi Muhammad Saw oleh dokter-dokter ahli langit yang ditunjuk oleh Allah Swt, yaitu para malaikat yang diketuai oleh Jibril as.

Dalam peristiwa pembedahan dan pembersihan jantung
Nabi sebelum Mi’raj kiranya merupakan gambaran adanya pengertian bagi
manusia umumnya untuk mempelajari ilmu kedokteran khusunya dalam bidang
bedah dan anatomi serta ilmu kedokteran antariksa. Dan ternyata
kemudian bedah jantung /pencangkokan jantung/ dan ilmu kedokteran
antariksa oleh para ahli mulai diperkenalkan pada abad dua puluh.


Bagi umat Islam, nampaknya bukanlah hal yang baru jika saja mereka mau
menghayati dan mempelajari apa-apa yang telah terjadi dan dialami oleh
Rasul yang mereka cintai, Muhammad Saw.

Pada abad-abad kemajuan Islam dibidang teknologi dan
ilmu pengetahuan, maka jelaslah bagi kita bahwa ahli-ahli kedokteran
muslim telah memperlihatkan kemajuan yang pesat sekali.
Buku-buku/kitab-kitab berbahasa Arab yang berisi ilmu-ilmu Tib
/kedokteran/ benar-benar ilmiah dan orisinil.

Malahan sudah menjadi bahan pelajaran dinegara
Eropah khususnya, ahli-ahli kedokteran yang termasyur misalnya saja
Ibnu Sina /Aviccena/, Qorsh-’Ala’uddin, Ibnu An Nafis /dokter yang
pertama kali mengajarkan peredaran darah/ dimana dalam tulisan itu
dijelaskan secara sistematis bagaimana aliran darah mengalir dari hati
kejantung melalui urat nadi paru-paru dan kemudian kembali lagi kehati.

Dari contoh diatas itulah kita sedikit banyak bisa
mengambil kesimpulan bahwa dalam peristiwa pembedahan Nabi sebelum
Mi’raj dapat diambil pelajaran dan memperoleh ilmu pengetahuan dan
penyelidikan terutama dalam bidang ilmu bedah dan ilmu kedokteran
antariksa. Begitupula misalnya dengan tidak menimbulkan bekasnya pada
‘Bekas Jahitan’ pada dada Nabi setelah pembedahan itu benar-benar
petunjuk bagi manusia agar dapat menciptakan alat bedah yang
benar-benar modern dengan sinar laser yang tercanggih.

Setelah Nabi dikuatkan baik mental maupun phisiknya,
barulah beliau mengadakan perjalanan jauh sampai berjuta-juta tahun
cahaya menempuhnya, namun ditempuh oleh Nabi hanya beberapa jam saja
dalam peristiwa itu dengan berkendaraan Buraq.


Menurut sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Annas, Rasulullah menjelaskan bahwa Buraq itu adalah
"Dabbah",
yang menurut penafsiran bahasa Arab adalah suatu makhluk hidup
berjasad, bisa laki-laki bisa perempuan, berakal dan juga tidak berakal.

Kalau dilihat dalam kamus bahasa, maka kita akan
menemukan istilah "buraq" yang diartikan sebagai "Binatang kendaraan
Nabi Muhammad Saw", dia berbentuk kuda bersayap kiri kanan. Dalam
pemakaian umum "buraq" itu berarti burung cendrawasih yang oleh kamus
diartikan dengan burung dari sorga (bird of paradise).


Sebenarnya "buraq" itu adalah istilah yang dipakai dalam AlQur’an
dengan arti "kilat" termuat pada ayat 2/19, 2/20 dan 13/2 dengan
istilah aslinya "Barqu".

Para sarjana telah melakukan penyelidikan dan
berkesimpulan bahwa kilat atau sinar bergerak sejauh 186.000 mil atau
300 Kilometer perdetik. Dengan penyelidikan yang memakai sistem
paralax, diketahui pula jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil
dan dilintasi oleh sinar dalam waktu 8 menit.

Jarak sedemikian besar disebut 1 AU atau satu
Astronomical Unit, dipakai sebagai ukuran terkecil dalam menentukan
jarak antar benda angkasa. Dan kita sudah membahas bahwa Muntaha itu
letaknya diluar sistem galaksi bimasakti kita, dimana jarak dari satu
galaksi menuju kegalaksi lainnya saja sekitar 170.000 tahun cahaya.
Sedangkan Muntaha itu sendiri merupakan bumi atau planet yang berada
dalam galaksi terjauh dari semua galaksi yang ada diruang angkasa.


Amatlah janggal jika kita mengatakan bahwa buraq tersebut dipahami
sebagai binatang atau kuda bersayap yang dapat terbang keangkasa bebas.
Orang tentu dapat mengetahui bahwa sayap hanya dapat berfungsi dalam
lingkungan atmosfir planet dimana udara ditunda kebelakang untuk gerak maju kemuka atau ditekan kebawah untuk melambung keatas.

Udara begitu hanya berada dalam troposfir yang
tingginya 6 hingga 16 Km dari permukaan bumi, padahal buraq itu harus
menempuh perjalanan menembusi luar angkasa yang hampa udara dimana
sayap tak berguna malah menjadi beban. Dengan kecepatan kilat maka
binatang kendaraan itu, begitu juga Nabi yang menaiki, akan terbakar
dalam daerah atmosfir bumi, sebaliknya ketiadaan udara untuk bernafas
dalam menempuh jarak yang sangat jauh sementara itu harus mengelakkan
diri dari meteorities yang berlayangan diangkasa bebas.

Semua itu membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw
bukanlah melakukan perjalanan mi’rajnya dengan menggunakan binatang
ataupun hewan bersayap sebagaimana yang diyakini oleh orang selama ini.

Penggantian istilah dari Barqu yang berarti kilat
menjadi buraq jelas mengandung pengertian yang berbeda, dimana jika
Barqu itu adalah kilat, maka buraq saya asumsikan sebagai sesuatu
kendaraan yang mempunyai sifat dan kecepatannya diatas kilat atau
sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan sinar.

Menurut akal pikiran kita sehari-hari yang tetap
tinggal dibumi, jarak yang demikian jauhnya tidak mungkin dapat dicapai
hanya dalam beberapa saat saja.

Untuk menerobos garis tengah jagat raya saja
memerlukan waktu 10 milyard tahun cahaya melalui galaksi-galaksi yang
oleh Garnow disebut sebagai fosil-fosil jagad raya dan selanjutnya
menuju alam yang sulit digambarkan jauhnya oleh akal pikiran dan panca
indera manusia dengan segala macam peralatannya, karena belum atau
bahkan tidak diketahui oleh para Astronomi, galaksi yang lebih jauh
dari 20 bilyun tahun cahaya. Dengan kata lain mereka para Astronom
tidak dapat melihat apa yang ada dibalik galaksi sejauh itu karena
keadaannya benar-benar gelap mutlak.

Untuk mencapai jarak yang demikian jauhnya tentu
diperlukan penambahan kecepatan yang berlipat kali kecepatan cahaya.
Sayangnya kecepatan cahaya merupakan kecepatan yang tertinggi yang
diketahui oleh manusia sampai hari ini atau bisa jadi karena parameter
kecepatan cahaya belum terjangkau oleh manusia.



Namun kita mungkin bisa memberikan contoh analogi dari prinsip2 computer networking berikut :

Protocol TCP / IP yang kita gunakan di Internet ini
kita ibaratkan sebagai Buraq & ruh, fisik jasmaniah Nabi adalah
paket data (e-mail misalnya) yang akan kita kirimkan ke ujung belahan
dunia lain (dimensi Muntaha). Melalui proses enkripsi, enkode dan
dekode yang dikapsulkan (capsulated) di dalam protocol TCP / IP
(Buraq), paket data dapat melihat-lihat dan berjalan-jalan menelusuri
jaringan Internet yang berbeda-beda dimensinya: lewat transmisi
terrestrial (dimensi kabel, serat optik) kemudian di up link melalui
transmisi satelit dan micro wave (dimensi radio link) hingga kembali ke
bentuk dimensi asalnya teks di layar komputer.

Dalam AlQur’an kita jumpai betapa hitungan waktu
yang diperlukan oleh para malaikat dan ruh-ruh orang yang meninggal
kembali kepada Tuhan:

 


Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepadaNya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
(QS. 70:4)

Kata "Ar-Ruh" pada ayat ini sering juga diartikan /diterjemahkan/ orang dengan Malaikat Jibril.

Ukuran waktu dalam ayat diatas ada para ahli yang
menyebut bahwa angka 50 ribu tahun itu menunjukkan betapa lamanya waktu
yang diperlukan penerbangan malaikat dan Ar-Ruh untuk sampai kepada
Tuhan.

Namun bagaimanapun juga ayat itu menunjukkan adanya
perbedaan waktu yang cukup besar antara waktu kita yang tetap dibumi
dengan waktu malaikat yang bergerak cepat sesuai dengan pendapat para
ahli fisika yang menyebutkan "Time for a person on earth and time for a
person in hight speed rocket are not the same", waktu bagi seseorang
yang berada dibumi berbeda dengan waktu bagi orang yang ada dalam
pesawat yang berkecepatan tinggi.

Perbedaan waktu yang disebut dalam ayat diatas
dinyatakan dengan angka satu hari malaikat berbanding 50.000 tahun
waktu bumi, perbedaan ini tidak ubahnya dengan perbedaan waktu bumi dan
waktu elektron, dimana satu detik bumi sama dengan 1.000 juta tahun
elektron atau 1 tahun Bima Sakti = 225 juta tahun waktu sistem solar.


Jadi bila malaikat berangkat jam 18:00 dan kembali pada jam 06.00 pagi
waktu malaikat, maka menurut perhitungan waktu dibumi sehari malaikat =
50.000 tahun waktu bumi. Dan untuk jarak radius alam semesta hingga
sampai ke Muntaha dan melewati angkasa raya yang disebut sebagai ‘Arsy
Ilahi, 10 Milyard tahun cahaya diperlukan waktu kurang lebih 548 tahun
waktu malaikat.

Namun malaikat Jibril kenyataannya dalam peristiwa
Mi’raj Nabi Muhammad Saw itu hanya menghabiskan waktu 1/2 hari waktu
bumi /maksimum 12 Jam/ atau = 1/100.000 tahun Jibril.


Kejadian ini nampaknya begitu aneh dan bahkan tidak mungkin menurut
pengetahuan peradaban manusia saat ini, tetapi para ilmuwan mempunyai
pandangan lain, suatu contoh apa yang dikemukakan oleh Garnow dalam
bukunya Physies Foundations and Frontier
antara lain disebutkan bahwa jika pesawat ruang angkasa dapat terbang
dengan kecepatan tetap /cahaya/ menuju kepusat sistem galaksi Bima
Sakti, ia akan kembali setelah menghabiskan waktu 40.000 tahun menurut
kalender bumi. Tetapi menurut sipengendara pesawat /pilot/ penerbangan
itu hanya menghabiskan waktu 30 tahun saja. Perbedaan tampak begitu
besar lebih dari 1.000 kalinya.

Contoh lain yang cukup populer, yaitu paradoks anak
kembar, ialah seorang pilot kapal ruang angkasa yang mempunyai saudara
kembar dibumi, dia berangkat umpamanya pada usia 0 tahun menuju sebuah
bintang yang jaraknya dari bumi sejauh 25 tahun cahaya.

Setelah 50 tahun kemudian sipilot tadi kembali
kebumi ternyata bahwa saudaranya yang tetap dibumi berusia 49 tahun
lebih tua, sedangkan sipilot baru berusia 1 tahun saja. Atau
penerbangan yang seharusnya menurut ukuran bumi selama 50 tahun cahaya
pulang pergi dirasakan oleh pilot hanya dalam waktu selama 1 tahun saja.

Dari contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa jarak
atau waktu menjadi semakin mengkerut atau menyusut bila dilalui oleh
kecepatan tinggi diatas yang menyamai kecepatan cahaya.


Kembali pada peristiwa Mi’raj Rasulullah bahwa jarak yang ditempuh oleh
Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad dengan Buraq menurut ukuran
dibumi sejauh radius jagad raya ditambah jarak Sidratul Muntaha pulang
pergi ditempuh dalam waktu maksimal 1/2 hari waktu bumi (semalam) atau
1/100.000 waktu Jibril atau sama dengan 10-5 tahun cahaya, yaitu kira-kira sama dengan 9,46 X 10 -23 cm/detik dirasakan oleh Jibril bersama Nabi Muhammad (bandingkan dengan radius sebuah elektron dengan 3 X 19-11 cm) atau kira-kira lebih pendek dari panjang gelombang sinar gamma.

Nah, Barkah yang disebut dalam Qur’an yang melingkupi diri Nabi Muhammad Saw,
adalah berupa penjagaan total yang melindungi beliau dari berbagai
bahaya yang dapat timbul baik selama perjalanan dari bumi atau juga
selama dalam perjalanan diruang angkasa, termasuk pencukupan udara bagi
pernafasan Rasulullah Saw selama itu dan lain sebagainya.

Jadi, sekarang kita bisa mendeskripsikan tentang
kendaraan bernama Buraq ini sedemikian rupa, apakah dia berupa sebuah
pesawat ruang angkasa yang memiliki kecepatan diatas kecepatan sinar
dan kecepatan UFO ?
Ataukah dia berupa kekuatan yang diberikan Allah kepada diri Rasulullah
Saw sehingga Rasul dapat terbang diruang angkasa dengan selamat dan
sejahtera, bebas melayang seperti seorang Superman ?


Saya sendiri berpendapat bahwa Buraq itu tentulah sebuah kendaraan
penjelajah inter dimensi yang sempurna, yang seolah hidup sehingga Nabi
Muhammad Saw mengkiaskannya sebagai suatu Dabbah.

Dabbah, sebagai suatu wahana yang sanggup membungkus
dan melindungi jasad Rasulullah sedemikian rupa sehingga sanggup
melawan/mengatasi hukum alam dalam hal perjalanan dimensi. Sekaligus
didalamnya tersedia cukup udara untuk pernafasan Nabi Muhammad Saw dan
penuh dengan monitor-monitor yang memungkinkan Nabi untuk melihat
keluar ataupun juga monitor-monitor yang bersifat "Futuristik", yaitu
monitor yang memberikan gambaran kepada Rasulullah mengenai keadaan
umatnya sepeninggal beliau nantinya.

Bukankah ada banyak juga hadist shahih yang
mengatakan bahwa selama perjalanan menuju ke Muntaha itu Nabi Muhammad
Saw telah diperlihatkan pemandangan-pemandangan yang luar biasa ?

Apakah aneh bagi anda jika Nabi Muhammad Saw telah
diperlihatkan oleh Allah (melalui monitor-monitor futuristik tersebut)
terhadap apa-apa yang akan terjadi dikemudian hari ? Apakah anda akan
mengingkari bahwa jauh setelah sepeninggal Rasul ada banyak sekali
manusia-manusia yang mampu meramalkan ataupun melihat masa depan
seseorang ?


Dalam dunia komputer kita mengenal virtual reality (VR) yaitu
penampakan alam nyata ke dalam dimensi multimedia digital yang sangat
interaktif sehingga bagaikan keadaan sesungguhnya. Apakah tidak mungkin
Rasulullah telah merasakan fasilitas VR dari Allah Swt untuk
mempresentasikan kepada kekasihNya itu surga dan neraka yang
dijanjikanNya ?

Anda pasti pernah mendengar sebutan "Paranormal" bukan ?

Jika anda mempercayai semua itu, maka apalah
susahnya bagi anda untuk mempercayai bahwa hal itupun terjadi pada diri
Rasulullah Saw, hanya saja bedanya bahwa semua itu merupakan gambaran
asli dari Allah Swt yang sudah pasti kebenarannya tanpa bercampur
dengan hal-hal yang batil.

Hal ini juga bisa kita buktikan dengan banyaknya
ramalan-ramalan Nabi terhadap keadaan umat Islam setelah beliau tiada
dan menjadi kenyataan tanpa sedikitpun meleset ?
Darimana Rasulullah dapat melakukannya jika tidak diperlihatkan oleh Allah sebelumnya ?

Mari kita sama-sama menyimak akan firman Allah berikut ini :

 

 Allah memberikan kebijaksanaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang
banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang
yang berakal.
(QS. 2:269)

Sesungguhnya orang-orang yang
beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan
jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.
(QS. 49:15)

Hikmah dalam ayat 2:269 dan ayat-ayat lainnya, saya
artikan sebagai kebijaksanaan yang diberikan oleh Allah kepada
hamba-hambaNya, kebijaksanaan ini berarti sangat luas, baik dalam
bidang ilmu pengetahuan dunia atau akhirat, sebagai perwujudan dari
Rahman dan RahimNya.

Untuk itu, buanglah semua keraguan yang ada didalam
hati kita terhadap semua yang telah dilakukan oleh Allah terhadap Nabi
dan Rasul yang dikasihiNya, baik selama peristiwa Mi’raj, sesudahnya
maupun sebelum itu, semoga kita termasuk orang-orang yang benar
sebagaimana dimaksudkan dalam ayat 49:15 diatas.

Pemandangan yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw
waktu itu juga bisa diklasifikasikan dalam golongan yang saya sebut
sebagai "wahyu visi", dimana pada Rasulullah diberitakan apa-apa yang
bakal terjadi sekaligus langsung diperlihatkan gambarannya secara jelas.

Allah menceritakan kepada Nabi akan keadaan masa depan tanpa memperlihatkan gambaran secara visual kepadanya.

Selanjutnya juga perihal tentang Hadist yang
mengatakan bahwa didalam memasuki setiap lapisan langit, Jibril meminta
izin kepada malaikat penjaga. Hal ini masih bisa diterima dengan akal
pikiran sehat dan logis.

Sekarang mari saya tuntun anda untuk memasuki pemandangan atau pendapat saya :


Didalam Hadist disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw berangkat ke Muntaha
dengan ditemani oleh malaikat Jibril yang didalam AlQur’an surah 53:6
dikatakan memiliki akal yang cerdas.
Dan dalam perjalanan itu Nabi diberikan kendaraan bernama Buraq yang kecepatannya melebihi kecepatan sinar.
Selanjutnya selama perjalanan Nabi banyak bertanya kepada malaikat
Jibril tentang apa-apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya, ini
menunjukkan bahwa Nabi dan Jibril berada dalam jarak yang berdekatan.

Sekarang,
Tidak mungkinkah Jibril ini yang mengemudikan Buraq untuk menuju ke Muntaha ?
Dalam kata lain, Jibril sebagai pilot dan Muhammad sebagai penumpang ?
Bukankah Muhammad sendiri baru pertama kali itu mengadakan perjalanan
ruang angkasa, sementara Jibril telah ratusan atau bahkan jutaan kali
melakukannya didalam mengemban wahyu yang diamanatkan oleh Allah ?

Jika dikatakan Nabi sebagai pilot, dari mana Nabi
mengetahui arah tujuannya berikut tata cara pengemudian Buraq ini,
apalagi ditambah dengan banyaknya visi-visi alias Virtual Reality yang
diberikan oleh Allah kepada beliau selama perjalanan dan
mengharuskannya mengajukan beragam pertanyaan kepada Jibril ?

Ingat, dalam hal ini semua kita pandang sebagai hal yang logis dengan memakai logika manusia biasa.
Untuk dapat mengemudikan pesawat, seseorang diharuskan untuk
mempelajari terlebih dahulu tentang segala sesuatunya, dari persiapan
pesawat, kemampuan mengemudi, kemampuan menghindarkan pesawat dari
bahaya batu ruang angkasa, komet dan benda-benda langit lainnya.

Nabi juga diharuskan konsentrasi penuh didalam
mengemudikan Buraq dan tidak dapat diganggu oleh berbagai pembicaraan
panjang lebar apalagi sampai memperhatikan visi-visi yang ada secara
jelas dan lama.

Namun jika kita kembalikan pada pendapat saya semula
bahwa Jibril dalam hal ini berlaku sebagai pilot dan Nabi sebagai
penumpang, maka semua pertanyaan dan keraguan yang timbul akan hilang.

Dalam hal ini Jibril adalah pilot terbang
berpengalaman, ia juga sangat cerdas, sementara atas diri Nabi sendiri
sudah diberikan oleh Allah Barqah disekeliling beliau, sehingga setiap
perubahan yang terjadi dalam perjalanan, seperti goyangnya pesawat,
tekanan gravitasi yang hilang, udara dan lain sebagainya tidak akan
berpengaruh apa-apa pada diri Nabi yang mulia ini.

Dan keadaan yang tanpa pengaruh apa-apa itu
memungkinkan bagi Nabi untuk mengadakan pertanyaan-pertanyaan atas
visi-visi yang dilihatnya itu sekaligus dapat melihatnya secara
jelas/Virtual Reality .

Kembali pada Jibril yang senantiasa meminta izin
didalam memasuki setiap lapisan langit kepada malaikat penjaga, itu
dikarenakan bahwa mereka tidak mengenali Jibril yang berada didalam
Buraq itu, sehingga begitu Jibril menjawab, mereka baru bisa mengenali
suaranya dan melakukan pendeteksian secara visi keadaan dalam Buraq
sehingga nyatalah bahwa yang datang itu benar-benar Jibril.


Didalam Hadist juga disebutkan bahwa malaikat penjaga langit itu juga
menanyakan tentang identitas sosok manusia yang dibawa oleh malaikat
Jibril, yang tidak lain dari Rasulullah Muhammad Saw. Dan dijelaskan
oleh Jibril bahwa Rasulullah Saw diutus oleh Allah dan telah pula
diperintahkan untuk naik ke Muntaha.
(Hadist mengenai ini diriwayatkan oleh
Bukhari-Muslim dan dinyatakan oleh jumhur ulama dari ahlussunnah
sebagai Hadist yang shahih).

Hal ini memang berkesan lucu bagi sebagian orang,
apalagi mengingat bahwa Nabi adalah manusia yang paling mulia yang
mendapatkan kedudukan terhormat yang bisa dibuktikan dengan
bersandingnya nama Allah dan nama beliau dalam dua buah khalimah
syahadat yang tidak boleh dicampuri, ditambah atau dikurangi dengan
berbagai nama lain karena tiada hak bagi makhluk lainnya mencampuri
masalah ini.

Namun justru saya melihat disitulah letak kebesaran Tuhan.
Semuanya sengaja dipertunjukkan secara ilmiah kepada Nabi agar beliau
dapat membuktikan sendiri betapa ketatnya penjagaan langit itu
sebenarnya.

Muntaha itu terletak digalaksi terjauh, dimana Adam dulunya diciptakan dan ditempatkan pertama kali bersama istrinya.

Tetapi sejak Adam bersama istrinya dan juga Jin
serta Iblis diusir oleh Allah dari sana, maka penjagaan terhadap tempat
tersebut diperketat sedemikian rupanya, sehingga tidak memungkinkan
siapapun juga kecuali para malaikat untuk dapat memasukinya, seperti
yang termuat dalam ayat ke-8,9 dan 10 dari surah 72 tersebut.

 


"…Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu." (QS. 72:9)
"…kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api."  (QS. 72:8)
"…Tetapi sekarang barang siapa yang mencoba mendengarkan tentu akan menjumpai panah api yang mengintai." (QS. 72:9)

Dalam hal ini saya mengasumsikan bahwa yang disebut
dengan lapisan langit pada Muntaha itu adalah berupa planet-planet yang
terdekat dengan "bumi-muntaha", hal ini saya hubungkan dengan
pernyataan Qur’an pada surah 72:9 bahwa Jin atau Iblis itu dapat
menduduki beberapa tempat.

Mampu menduduki tempat disana artinya mampu berdiam
ditempat tersebut, dan karena tempat itu ganda (beberapa tempat), maka
jelas tempat itu bukan Muntaha itu sendiri, namun tempat yang terdekat
dari Muntaha.

Sesuai dengan kajian saya sebelumnya, bahwa Muntaha
itu berupa bumi yang disekitarnya juga terdapat planet-planet, maka
planet-planet itulah tempat atau posisi para syaithan itu berdiam
dahulunya untuk mencuri dengar berita-berita langit.

Muntaha sendiri berarti "Dihentikan"
atau bisa juga kita tafsirkan sebagai tempat terakhir dari semua urusan
berlabuh. Tempat yang menjadi perbatasan segala pencapaian kepada Tuhan.

Sidrah berarti "Teratai"
yaitu bunga yang berdaun lebar, hidup dipermukaan air kolam atau
telaga. Uratnya panjang mencapai tanah dasar air tersebut. Bilamana
pasang naik, teratai akan ikut naik, dan bila pasang surut diapun akan
turun, sementara uratnya tetap terhujam pada tanah dasar tempatnya
bertumbuh.

Teratai yang berdaun lebar menyerupai keadaan planet
yang memiliki permukaan luas, sungguh harmonis untuk tempat kehidupan
makhluk hidup. Teratai berurat panjang mencapai tanah dasar dimana dia
tumbuh tidak mungkin bergerak jauh, menyerupai keadaan planet yang
selalu berhubungan dengan matahari darimana dia tidak mungkin bergerak
jauh dalam orbit zigzagnya dari garis ekliptik. Dan air dimana teratai
berada menyerupai angkasa luas dimana semua planet yang ada mengorbit
mengelilingi matahari.

Atau bisa juga kita tafsirkan bahwa teratai berurat
panjang mencapai tanah dasar adalah sebagai tempat dimana segala urusan
keTuhanan diatur oleh Allah kepada para malaikatNya dan air dimana
teratai berada itu adalah sebagai wilayah kekuasaan Ilahi yang Maha
Luas yang biasa kita sebut sebagai ‘Arsy Allah.

Turun naik teratai dipermukaan air berarti orbit
planet mengelilingi matahari berbentuk oval, bujur telur, dimana ada
titik Perihelion yaitu titik terdekat pada matahari yang dikitarinya,
begitupula ada titik Aphelion, titik terjauh dari matahari. Sewaktu
planet berada di Aphelionnya dia bergerak lambat. Keadaan gerak
demikian membantu kestabilan orbit setiap planet yang mulanya hanya
didasarkan atas kegiatan magnet yang dimilikinya saja.

Titik Perihelion Muntaha bisa kita tafsirkan dengan
titik terdekat semua urusan, termasuk malaikat dengan Allah, dan titik
Aphelion bisa kita tafsirkan sebagai turunnya urusan yang diembankan
oleh Allah itu menuju kepada ketetapanNya yang berarti berada jauh
meninggalkan Muntaha namun tidak berarti jauh dari Tuhan.

Selanjutnya, sebagaimana yang tercantum dalam
AlQur’an, sesampai Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin di Muntaha itu,
beliau bisa melihat malaikat Jibril kembali kedalam bentuknya yang asli
(surah 53:13-14).
Ini berarti bahwa dalam perjalanan dari bumi hingga Muntaha, Jibril masih dalam wujudnya yang lain !

Muncullah berbagai pikiran dalam benak anda, bahwa
dengan pendapat saya ini, seolah saya mengatakan bahwa Allah juga
bertempat tinggal di Muntaha itu. Dan Allah terikat dengan ruang dan
waktu

Sama sekali tidak demikian.
Apakah anda juga akan berpandangan bahwa Allah itu bertempat diatas
awan sebab ada ayat dalam AlQur’an bahwa Allah menampakkan dzatNya
kepada sebuah bukit yang akhirnya hancur luluh dan menyebabkan Nabi
Musa as jatuh pingsan ? (QS. 7:143)

Bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut ?

Tentu anda akan menjawab bahwa Allah tidaklah berada
diawan hanya karena Dia menampakkan dzatNya kepada bukit tersebut atas
permintaan Nabi Musa, nah begitu juga halnya dengan saya.

 


"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa
yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada
urat lehernya."
(QS. 50:16)

Allah tidak berarti berdiam di Muntaha, meskipun
Muntaha itu merupakan bumi terjauh dan terpinggir dalam bentangan alam
semesta sekaligus sebagai dimensi tertinggi, dimana mayoritas malaikat
berada disana sembari memuji dan bertasbih kepada Allah, ia hanyalah
sebagai suatu tempat ciptaan Allah yang pada hari kiamat kelak akan
dileburkan pula dan semua isinya, termasuk para malaikat itu akan mati
kecuali siapa yang dikehendakiNya saja (QS. 27:87), hanya Allah sajalah
satu-satunya dimensi Tertinggi yang kekal dan abadi (QS. 2:255).