Perubahan Iklim Ekstrem, Tanda Kiamat?
Friday, July 29th, 2005Badai dasyat di seluruh dunia akibat perubahan iklim telah mendinginkan
seluruh bumi bagian Utara, bongkahan besar hujan es menyebabkan
kematian di jalan-jalan di Tokyo, badai tropis mengganas di kepulauan
Hawaii dan salju turun di New Delhi. Begitulah gambaran dampak
perubahan iklim dalam film "The Day After Tomorrow."
Film ini mengangkat tema Perubahan Iklim dengan menunjukkan prediksi
dampak yang paling ekstrim dan menyebabkan dunia berada diambang kiamat
menuju jaman es baru. Apakah dampak yang digambarkan dalam film
tersebut mungkin terjadi? Munqkin dan mungkin juga tidak.
Tingkat dan jangka waktu bencana yang digambarkan di film lebih ekstrem
dan lebih cepat daripada prediksi para ahli perubahan iklim dalam
modelnya. Namun ada kisah nyata mengenai perubahan iklim yang
disebabkan ulah manusia didalamnya.
FIKSI vs KENYATAAN
– Pembekuan Seketika dan Berhentinya Arus Teluk
Dalam film digambarkan bahwa belahan bumi Utara mengalami jaman es
baru, akibat terhentinya ‘North Atlantic Current" atau juga dikenal
sebagai Arus Teluk (Gulf Stream).
Arus Teluk tersebut berhenti menghantarkan air dan suhu yang lebih
hangat ke belahan bumi bagian utara karena sejumlah besar air tawar
dingin masuk ke dalam samudra sebagai akibat dari mencairnya es di
daerah artik. Pada kenyataannya tidak mungkin setengah dari dunia akan
membeku seketika.
Namun, sebagian ilmuwan mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa setelah
100 tahun, arus laut dapat terhenti. Kebanyakan model perubahan iklim
menunjukkan arus tersebut akan melambat dan beberapa bahkan mengatakan
arus tersebut akan terhenti secara regional.
– Butiran Es
Dalam film butiran es yang jatuh di Tokyo sebesar buah jeruk. Pada
kenyataannya badai tetap berbahaya, walau butiran es yang dihasilkannya
tidak sebesar itu, Para ahli iklim telah sepakat bahwa badai siklon
tropis akan menjadi lebih intens dan sering. Badai siklon telah
terbukti mengancam stabilitas daerah pantai, ekosistem, kesehatan dan
kehidupan.
– Tornado
Film ini menunjukan bagaimana tornado memporak-porandakan Los Angeles.
Pada kenyataannya bulan Mei 2003, AS mengalami 562 tornado dan
mengakibatkan korban jiwa sebanyak 41 orang. Pada bulan Maret 2004,
badai angin yang pertama kalinya terjadi di Atlantik Selatan telah
melintasi Brazil dengan kecepatan angin sekitar 90 mph.
Di Indonesia sendiri, pada 5 tahun terakhir sering terjadi hujan angin
yang merobohkan pohon-pohon besar di Jakarta. Pada kondisi normal,
seharusnya angin tidak bergerak sedemikian cepatnya. Namun kejadian ini
tidak mengejutkan pada ahli iklim dunia yang telah memprediksikan hal
tersebut sebagai akibat dari perubahan iklim global.
– Kenaikan Permukaan Air Laut
Film menggambarkan New York yang diserang oleh badai gelombang air laut
sebagai akibat naiknya permukaaan air laut yang disebabkan hujan yang
semakin deras dan melelehnya es di daerah kutub.
Para ahli iklim memprediksikan bahwa pencairan lapisan es di Greenland
dan Antartika Barat dapat menaikkan permukaan air laut sebanyak enam
meter dalam waktu 1000 tahun kedepan. Ini menengge1amkan banyak
pulau-pulau kecil dan menggenangi daerah pantai di seluruh dunia. Dalam
kenyataannya banjir akibat meningkatnya frekuensi hujan telah
mengakibatkan bencana yang tidak pemah terbayangkan sebelumnya.
Baru-baru ini kepulauan Haiti dan Dominika mengalami bencana banjir
yang memakan korban ribuan jiwa. Di tahun 2000 sebanyak 10,000 rumah di
Inggris hancur diterjang banjir. Di Indonesia sendiri masih segar dalam
ingatan. Banjir besar yang melanda Jakarta pada awal tahun 2002.
Para ilmuwan dunia memperkirakan bahwa pada tahun 2080 sebanyak 94 juta
orang didunia terancam oleh banjir yang dapat mengakibatkan kerusakan,
erosi tanah, hujan polutan, ancaman kesehatan dan kematian.
– Terbelahnya Lempeng Es Dunia
Dalam film satu lempeng es di Antartika pecah dan terbelah. Tahun 2003
hal tersebut benar-benar terjadi di daerah Artik. Lempeng Ward Hunt di
Pulau Ellesmere, Canada mendadak terbelah menjadi dua. Kenaikan
temperatur sebesar 0.4°C setiap dekadenya sejak 1967 di daerah tersebut
dipercaya para ahli iklim dunia sebagai penyebab pecahnya lempeng
tersebut sebagai akibat percepatan perubahan iklim.
Pada tahun 2002, pada saat pembuatan film "The Day After Tomorrow",
lempeng es Larsen B sebesar kira-kira 1250 meter persegi pecah mendadak
dan menambah daftar dampak perubahan iklim dunia. (tekno/tutut)