Archive for August, 2005

Memahami peristiwa Mi’raj Rasulullah Saw ke 2

Monday, August 22nd, 2005


Subhanallazi Asro bi’abdihi laylam minal masjidil harom mi ilal
masjidil aqshollazi barokna haw lahu linuriyahu min ayatina innahu
huwassami’ul basyir


"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS. 17:1)


Pada ayat suci ini terdapat beberapa istilah yang harus dipahami dengan
sesungguhnya, tidak mungkin diartikan sambil lalu saja. Istilah-istilah
itu ialah :

Maha Suci Allah :
Dalam menyampaikan berita terjadinya peristiwa Mi’raj ini, Allah
memulainya dengan kata-kata "Subhana" (Maha suci) … kata-kata
"Subhana" ini akan memberikan pengertian dalam hati seseorang bahwa
disana ada kekuatan yang jauh dari segala macam perbandingan, kekuatan
yang jauh melampaui segala kekuatan manusia dimuka bumi.

Maka makna kata "Subhanallah"
ialah bahwa Allah itu Maha Suci DzatNya, SifatNya dan PerbuatanNya dari
segala kesamaan. Kalu ada suatu macam perbuatan atau peristiwa yang
disitu Allah mengatakan bahwa "Peristiwa itu Dia melakukan"
maka kita harus mensucikan Dia dari segala undang-undang dan ketentuan
yang berlaku untuk manusia, dan kita tidak boleh mengukur perbuatan
Allah itu dengan perbuatan kita. Oleh karena itulah maka surat ini
dimulaiNya dengan kata-kata "Subhana" (Maha Suci) sehingga akan timbul
kesan didalam hati manusia bahwa peristiwa itu benar-benar peristiwa
ajaib dan diluar jangkauan akal dan kemampuan manusia.

"Subhana" berarti juga "tanzih" (mensucikan).
Apabila Allah mengatakan "Subhana" berarti mensucikan perbuatan-Ku dari perbuatan-mu wahai makhluk.
Maknanya bahwa undang-undang atau ketentuan yang berlaku bagi
"Perbuatan" Allah tidak sama dengan ketentuan yang berlaku bagi
"Perbuatan" makhluk-makhlukNya.

Yang memperjalankan :
Subjek dari "Yang memperjalankan" dalam hal ini adalah Allah, dengan kalimat : "Al-Ladzii asraabi.."
Dalam ayat 8/70 dan 8/67 terdapat pula istilah "Asraa" yang artinya
"tawanan", berupa kata benda, noun atau isim. Dalam konteks ayat 17/1
ini, kita mengartikan "Asraabi" dengan "Memperjalankan dalam penjagaan"
sebagai kata kerja, verb atau fi’il. Hal ini dapat dibandingkan pada
maksud ayat 26/52 dimana terdapat istilah yang sama tetapi fi’il amar
untuk memperjalankan Bani Israil dengan penjagaan untuk menyeberangi
laut merah.

Kalimat ini memberi pengertian
bahwa Nabi Muhammad Saw itu di Asraa kan dalam pengertian di mi’rajkan
oleh Allah, bukan Asraa dengan sendirinya alias kehendak Muhammad
sendiri dan juga bukan atas kepintaran yang ada pada diri Nabi
Muhammad, tetapi dengan keilmuan dan kekuasaan Allah yang
memperjalankannya.

Hamba-Nya :
Dalam ayat ini Allah tidak menyebut lafal "RasulNya" atau lafal "Muhammad", tetapi disebutNya dengan lafal Bi’abdihi, yaitu dengan sifat "Ubudiyah" atau Penghambaan
kepada Allah yang mana hal ini merupakan pintu datangnya karunia Allah,
sebab semua Nabi dan Rasul yang nota bene merupakan panutan umat,
diutus untuk membenarkan atau meluruskan cara penghambaan kita kepada
Allah.

Kata sifat "Ubudiyah" atau
penghambaan ini adalah kata-kata yang pahit, kata-kata yang sulit dan
kata-kata yang dibenci oleh manusia, apabila terjadi antara sesama
makhluk, antara yang satu terhadap yang lain, karena dengan demikian
maka makhluk yang satu akan menjadi hamba bagi makhluk yang lain. Dan
ini mengharuskan sihamba mencurahkan segala baktinya, semua tenaga dan
kemampuannya kepada tuannya.

Tetapi penghambaan dari makhluk
terhadap Al-Khaliq justru sebaliknya, yaitu Al-Khaliq yang dipertuan
itulah yang akan memberi karunia kepada orang yang menghambakan diri
kepadaNya.
Karena itu maka ubudiyah disini adalah suatu kemuliaan, manakala
pengabdian itu meningkat maka pemberian karunia dari Allah Yang Maha
Suci itu ditingkatkan pula.

Ini juga yang terjadi pada diri Nabi Isa as. putra Maryam yang disebutkan oleh Allah dalam surah 4:172 :

Layyastanifa almasihu ayyakuna ‘abda lillahi walal mala’ikatul mukarrobun
"AlMasih tiada enggan menjadi hamba bagi Allah, demikian pula para malaikat yang dekat."
(QS.4:172)

Disamping itu, kata-kata
"Bi’abdihi" ini dapat dipakai untuk memberikan jawaban penolakan atas
orang yang berpendapat bahwa perjalanan malam Nabi Muhammad Saw ini
hanya terjadi dengan ruhnya saja tanpa dengan jasadnya, sebab kata-kata
"abd" (hamba) itu dipakai untuk ruh beserta jasadnya sekaligus, bukan
untuk ruh saja atau jasad saja, sehingga tidak ada orang yang
mengatakan ruh itu sebagai "abd" atau jasad yang tidak ber-ruh sebagai
‘abd.

Pada suatu malam :
Jelas sudah, bahwa Nabi Muhammad Saw telah diperjalankan oleh Allah pada waktu malam hari.
Lalu kenapa mesti malam hari Rasul diberangkatkan ? Dapatkah kita jelaskan secara ilmiah, logis dan kejiwaan ?
Disini kita sudah sepakat bahwa Rasulullah diperjalankan secara logis,
secara nyata dan real, maka sekarang kita akan berangkat pada
keterangan yang juga logis dan ilmiah serta mengena kepada ilmu
kejiwaan.

Sekarang coba anda perhatikan kembali ayat ke-14 dan ke-15 dari surah An Najm (53) yang telah saya cantumkan pada bagian awal :

14. Di Sidratil Muntaha.
15. Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal,

Dan kemudian silahkan juga
memperhatikan ayat-ayat berikut yang sudah pernah kita kemukakan pada
pembahasan masalah Adam yang lalu :

"Maka Kami berkata:"Hai Adam,
sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka
sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari Jannah,
yang menyebabkan kamu menjadi aniaya. Sesungguhnya kamu tidak akan
kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan kamu tidak akan
merasa dahaga dan tidak akan kepanasan".
(QS. 20:117-119)

Rasanya cocok sekali jika kita
menghubungkan antara Jannah yang termaktub dalam ayat ke-15 surah 53
itu dengan Jannah dimana dulunya Adam dan istri pernah tinggal sebelum
"diterbangkan" keplanet bumi.
Coba perhatikan dengan baik, Jannah tempat dimana Adam berada itu
dikatakan tidak akan merasa kepanasan, dan saya mengasumsikan bahwa
Jannah itu letaknya ada di Muntaha dimana Rasulullah Muhammad Saw
melakukan perjalanannya pada peristiwa Mi’raj.

Jadi, Muntaha itu adalah nama
sebuah tempat yang bisa juga sebuah planet yang berada diluar angkasa
dan untuk sementara bisa kita katakan kedudukannya berada diatas orbit
bumi, seperti halnya dengan kedudukan planet Mars, Jupiter, Saturnus,
Uranus, Neptunus dan Pluto.


Untuk jelasnya mungkin anda bisa melihat didalam "Peta Ruang Angkasa"
yang menggambarkan posisi kedudukan planet-planet dalam tata surya yang
mengelilingi matahari dalam gugusan Bimasakti. Dimana ada dua planet
yang berkedudukan dibawah orbit bumi dan dekat dengan matahari, yaitu
Merkuri dan Venus.

Planet bumi kita ini jaraknya dengan matahari adalah 150 Juta Km dengan lamanya waktu mengelilingi matahari dalam 365,25 hari.

Bandingkan dengan planet Pluto
sebagai planet terjauh yang berhasil diketahui oleh para ahli tahun
1930 sampai hari ini (1998) yang memiliki jarak 5.900 Juta Km dari
matahari, bergaris tengah hanya 6.400 Km.
Jarak rata-rata Pluto dari matahari paling besar dibandingkan dengan
jarak antara matahari dengan planet lainnya. Tetapi lintasan edar Pluto
agak "unik" dan menyilang lintasan planet Neptunus. Akibatnya, Pluto
kadangkala beredar/mengembara disebelah dalam lintasan orbit Neptunus.

Pluto akan mencapai titik
terdekat dengan kita ditahun 1989 yang lalu, kemudian menjauh dan titik
terjauh akan dicapainya pada tahun 2113 yang akan datang.

Sangat sedikit memang yang kita
ketahui mengenai Pluto, namun ada dugaan bahwa planet itu terdiri dari
material yang sangat padat.

Dan para ahli ditahun 1972
memperkirakan bahwa adanya planet diluar lintasan Pluto, pada jarak
kurang lebih 9.660 juta-juta kilometer.
Gaya tarik gravitasi planet tersebutlah yang menyebabkan perubahan
kecil pada lintasan beberapa komet. Dengan cara yang sama pula
kehadiran Pluto telah diduga 15 tahun sebelum penemuannya, yaitu
setelah penelaahan atas perubahan pada lintasan orbit Neptunus



Nazwar syamsu, seorang penulis buku-buku seri Tauhid dan logika
(Sekarang dilarang beredar) yang juga menjadi salah satu buku acuan
saya didalam mengemukakan pendapat, pernah menyimpulan, bahwa planet
tersebut adalah Muntaha yang dimaksudkan oleh Qur’an sebagai tempat
Mi’rajnya Nabi Muhammad Saw.

 

Landasan Nazwar Syamsu
berpendapat begitu karena menurutnya, planet ke-10 tersebut letak
orbitnya yang berada diatas orbit planet bumi kemudian juga jaraknya
yang jauh dari matahari kita yang dicocokkannya dengan bunyi ayat
ke-119 dari surah An Najm yang menyatakan bahwa Adam tidak akan
kepanasan disana (yang diasumsikan sebagai panasnya sinar matahari),
serta pasnya penomoran Qur’an dengan 7 lapis langit yang ada diatas
kita (yang diterjemahkannya dengan 7 buah planet yang mengorbit diatas
bumi).

Masing-masing planet yang ada diatas orbit bumi itu ialah :

  1. Mars
  2. Jupiter
  3. Saturnus
  4. Uranus
  5. Neptunus
  6. Pluto
  7. Muntaha

     

Dan dasar dari pemahaman beliau
adalah dari ayat Qur’an yang memang banyak sekali mengungkapkan tentang
adanya 7 langit atau terkadang disebut dengan tujuh jalan yang
diciptakan oleh Allah Swt.

Satu diantaranya adalah sbb :

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis dan
kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha
Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang,
adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?"
(QS. 67:3)

Dan yang menjadi alasan kenapa
perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw pada malam hari adalah
jika orang berangkat meninggalkan bumi pada siang hari, maka dia akan
mengarah kepada matahari yang menjadi pusat orbit planet-planet. Dan
hal itu bukan berarti "Naik" tetapi "Turun", karena semakin dekat
kepada pusat orbit atau kepusat rotasi, maka itu berarti turun,
sedangkan Muhammad menyatakan beliau telah naik waktu mengalami Asraa
(perjalanan) itu.

Ayat 17/11 yang sedang kita
analisis ini menyatakan bahwa Muhammad dari Masjidil Haraam dibumi naik
ke Muntaha, yang mana untuk sementara ini kita simpulkan dulu bahwa
kedudukan Muntaha itu mengorbit diatas bumi dan bukan dibawah bumi.
Kalau orang naik dari bumi menuju Muntaha hendaklah dia berangkat waktu
malam yaitu bergerak dengan menjauhi matahari selaku titik yang paling
bawah dalam tata surya kita.

Orang mengetahui bahwa semesta, galaksi, tata surya dan planet, masing-masingnya mengalami perputaran.
Setiap putaran tentunya memiliki pusat putaran yang langsung menjadi
pusat benda angkasa itu. Semuanya bagaikan bola atau roda yang
senantiasa berputar. Maka sesuatu yang menjadi pusat putaran dikatakan
paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat putaran dinamakan semakin
atas.

Dalam hal ini keadaan dibumi dapat dijadikan contoh.
Pusat putaran bumi dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat itu dikatakan semakin atas.
Akibatnya, orang yang berdiri di Equador Amerika dan orang yang berdiri
dipulau Sumatera, pada waktu yang sama, akan menyatakan kakinya kebawah
dan kepalanya keatas, padahal kedua orang tersebut sedang mengadu
telapak kaki dari balik belahan bumi, tetapi masing-masingnya ternyata
benar untuk status bawah dan atas yang dipakai dipermukaan bumi ini.

Demikian juga jika contoh itu
dipakai untuk status tata surya dimana matahari sebagai bola api
langsung bertindak jadi pusat kitaran ataupun peredaran.

Karenanya matahari dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari matahari dinamakan semakin atas.
Venus dan Mercury berada dibawah orbit bumi karena keduanya mengorbit
dalam daerah yang lebih dekat dengan matahari, jadi jika ada penduduk
bumi yang pergi ke Venus, Mercury atau Matahari, maka orang tersebut
turun bukan naik, karenanya Venus dan Mercury tidak
mungkin disebut sebagai langit bagi planet bumi kita, sebab yang
dikatakan langit adalah sesuatu yang berada dibahagian atas, tetapi
benar kedua planet itu menjadi langit bagi matahari sendiri.

Dr. Maurice Bucaille, salah seorang pakar Islam yang terkenal dengan bukunya Bibel, Qur-an dan Sains Modern, mengemukakan bahwa AlQur’an menamakan planet dengan kata "KAUKAB", dimana kata jamaknya adalah "KAWAKIB."

Begitupula dengan arti yang
diberikan oleh Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, karangan
Achmad Warson Munawwir terbitan Pustaka progressif, menyatakan Kaukab
(single) dan Kawakib (plural) itu dengan dua arti, yaitu bisa berarti
planet dan bisa juga berarti bintang.

Dr. Maurice Bucaille menambahkan,
bahwa bumi adalah salah satu dari planet-planet tersebut dan jika ada
orang menduga akan adanya planet lain diluar orbit pluto (Dalam hal ini
untuk gugusan Bimasakti), maka planet itu harus ada dalam sistem
matahari juga.

Saya pribadi cenderung menyetujui
pendapat dari Dr. Muhammad Jamaluddin El-Fandy, seorang sarjana Islam
kenamaan yang menuliskan buku Al-Qur’an tentang alam semesta (judul aslinya : On cosmic verses in the Quran) bahwa yang disebut dengan langit atau dalam bahasa Qur’an adalah Sama’, ialah :

Setiap sesuatu
yang kita lihat tentang benda-benda yang berada diangkasa, seperti
matahari, bintang dan planet sampai jauh kedalam ruang alam semesta
raya, yang bersama-sama dengan bumi membentuk satu kesatuan yang kokoh
dan merupakan keseluruhan alam wujud, itulah langit.

Adapun angka 7 yang dipakai didalam AlQur’an sebanyak 24 kali adalah untuk maksud yang bermacam-macam. Seringkali angka 7  ini berartikan "Banyak" tetapi kita umat Islam tidak tahu dengan pasti, apa maksud dengan dipakainya angka tersebut oleh Allah.

Sementara itu, bagi orang-orang Yunani dan orang-orang Romawi, angka 7 ternyata juga mempunyai arti "Banyak" dalam makna jumlah yang tidak ditentukan.
Dalam Qur’an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada
langit (Sama’), angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan adanya 7
jalan diatas manusia.

Rasanya terlalu kaku untuk
mengatakan bahwa Muntaha itu letaknya berada diluar orbit Pluto dan
merupakan planet yang ke-10 dalam lingkungan tata surya kita atau
merupakan planet ke-7 yang berada diatas orbit bumi.
Hal ini akan saya uraikan lagi pada penjelasan mengenai arti "Masjidil Haraam dan Masjidil Aqsha".

Saya lebih cenderung
mengartikannya sebagai sebuah planet yang keadaannya tidak berbeda jauh
dengan bumi tempat kita tinggal saat ini, dimana disana juga ada
peredaran benda-benda langit yang mengelilingi sebuah matahari. Dan
yang jelas, planet "bumi" Muntaha ini letaknya diluar galaksi Bimasakti
kita.

Dia bisa terletak digugusan bintang mana saja didaerah alam semesta yang sangat luas.
Dan pernyataan bahwa Muntaha dan Jannah yang berkedudukan diatas bumi, itu memang benar, memang mereka berkedudukan diluar bumi.

Juga pernyataan Allah pada ayat
2:36 mengenai kata "Ihbithu" seperti yang pernah kita bahas pada waktu
pengupasan masalah Adam pada artikel sebelumnya dan akan kita ulangi
sedikit disini adalah benar.

"Pergilah !" itu adalah kalimah perintah, dan dalam bahasa Qur’annya adalah "ih bithu" , dan arti sebenarnya adalah : "Turun dari tempat yang tinggi.", seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti "Pindah dari satu tempat kesatu tempat lain." Dan karenanya ada juga penafsir yang memakai kata "Turunlah" saja.

Allah menyuruh Adam dan istri
untuk turun dari tempat yang tinggi, yaitu Muntaha (dimana nantinya
juga Muhammad akan kembali kesana dan berada pada ufuk yang tinggi
tersebut), ini bisa kita tafsirkan bahwa saking tingginya, atau saking
jauhnya letak Muntaha yang ada Jannah tersebut, maka Allah menggunakan
kata "Ih bithu" atau Turunlah ! Atau berpindahlah dari sini kesana.

Kembali pada permasalahan kita
semula, yaitu kenapa perjalanan Nabi Muhammad Saw itu dilakukan pada
waktu malam hari dan tidak pada waktu lainnya (pagi, siang, sore).
Saya berpendapat, bahwa salah satu alasan logis lain yang bersifat
kejiwaan disamping alasan yang dikemukakan oleh Nazwar Syamsu adalah
pada malam hari, keadaan diliputi oleh ketenangan, apalagi jika kita
mengilas balik seperti apa kira-kira keadaan Arabia pada masa itu jika
malam menjelang.

Selain itu, suasana malam adalah
suasana yang khyusuk didalam beribadah, suasana dimana manusia
menghentikan kegiatan mereka untuk sementara waktu dan mengistirahatkan
pikiran dan jiwa mereka dari kesibukan sehari-hari, dan merupakan
suasana yang sangat hening yang membantu menciptakan kondisi yang cocok
bagi upaya mendekatkan diri kepada Allah.

AlQur’an memberikan petunjuk yang
jelas bahwa saat terbaik upaya ibadah yang berkualitas ialah pada waktu
malam hari. AlQur’an mencatat suasa malam itu untuk menjalin hubungan
yang terbaik dengan Allah :

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQur-an) pada malam kemuliaan."
(QS. 97:1)

Untuk ibadah, shalat tahajud,
saat-saat terbaik merasakan kelezatan malam sekitar bagian ketiga
menjelang fajar. Jauh dari rasa riya’ dan ujub serta takabur karena
tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

"Berdirilah melakukan shalat malam hari, walau jangan hendaknya seluruh malam itu, separuhnya saja atau kurang dari itu."
(QS. 73:2,3)

"Sesungguhnya bangun waktu malam itu adalah paling baik dan cocok untuk shalat dan paling baik untuk memuji Allah."
(QS. 73:6)

"Sesungguhnya pada pertukaran
malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di
bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertaqwa."
(QS. 10:6)

Dari Masjidil haraam ke Masjidil Aqsha :
Dimulainya perjalanan Nabi Muhammad Saw adalah dari Masjidil Haraam, yaitu kota Mekkah Almukarromah menuju ke Masjid Al-Aqsha.

Seperti yang diketahui bersama,
Masjidil Haraam adalah rumah peribadatan yang pertama kali dibangun
untuk manusia oleh Allah Swt yang akhirnya dasar-dasarnya ditinggikan
oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya, Nabi Ismail as., Tempat tersebut
juga merupakan awal bertolaknya dakwah serta tempat berdomisilinya
Rasulullah Saw.

Tetapi benarkah pendapat umum
yang menyatakan bahwa dari Masjidil Haraam, Mekkah AlMukarromah, Nabi
Muhammad Saw pernah melakukan kunjungan ke Masjidil Aqsha yang terletak
di Palestina ?

Setelah sekian lama saya mencoba
menyelidiki, mendalami, dan menganalisa serta mempertimbangkan dari
beberapa sudut keilmuan modern dan pendapat para alim ulama, akhirnya
saya berkesimpulan bahwa Masjidil Aqsha tempat Nabi Muhammad Saw
melakukan "kunjungan" itu TIDAK TERLETAK DIBUMI.

Masjid Al-Aqsha sendiri waktu itu belumlah ada, yang ada di Bait Al-Maqdis di Palestina adalah Haikal Sulaiman.
Ada sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari yang menyatakan bahwa
ketika kaum Quraisy bertanya kepada Nabi Saw perihal keadaan Bait
Al-Maqdis, Beliau sempat terdiam dan bahkan bimbang, hal ini
membuktikan bahwa memang Rasul tidak pernah pergi kesana malam itu,
melainkan pergi ke "Masjid Al-Aqsha" yang terletak di Muntaha.

 

"Kaum Quraisy menanyakan kepadaku tentang perjalanan Israa’, aku ditanya tentang hal-hal di Bait Al-Maqdis, tidak dapat aku menerangkannya sampai-sampai aku bimbang.
Tatkala kaum Quraisy mendustakanku, aku berdiri di Hijr lalu Allah Swt
menggambarkan dimukaku keadaan di Bait Al-Maqdis dan tanda-tandanya
hingga mampu aku menerangkannya kepada mereka seluruh keadaan.
(Diriwayatkan Bukhari)

 

Mari sekarang sama-sama kita tinjau dulu dari segi bahasa,
Arti dari "Masjid" itu sendiri adalah tempat bersujud, dan sujud ini
adalah merupakan risalah setiap Nabi dan Rasul Allah sebelum periode
Muhammad Saw.

Dari AlQuran beberapa diantaranya
adalah ketika Allah memberikan firmanNya kepada Ibrahim sewaktu
meninggikan Ka’bah bersama puteranya, Ismail (2:125), Siti Maryam
(3:43), Firman Allah kepada Bani Israel (2:58), adanya beberapa
golongan Ahli kitab yang mengEsakan Allah (3:113), Nabi Musa dan
umatnya (4:154), Nabi Daud (38:24) dan lain sebagainya.

Dari Bible :
Mazmur 96:6
"Marilah kita menyembah dan bersujud; marilah kita berlutut kepada Tuhan yang menciptakan kita."

Yoshua/Yusak 5:14
"… maka Yusak pun tersungkur dengan mukanya ketanah sambil menyembah sujud…"

Raja-raja I:18:42
"…tetapi Elia naik keatas kepuncak Karmel, lalu tunduk sampai ketanah dengan mukanya ditengah-tengah lututnya."

Bilangan 20:6
"Maka pergilah Musa dan Harun dari hadapan orang banyak itu kepintu
kemah perhimpunan, lalu keduanya menyembah sujud. Maka kemuliaan Tuhan
kepada mereka itu."

Kejadian 17:3
"Lalu sujudlah Abraham dengan mukanya sampai kebumi…"

Nah, dari itu semua jelas bahwa
para nabi dan umat sebelum Muhammad Saw sudah melakukan penyembahan
kepada Allah dengan cara rukuk dan sujud. Lalu tata cara penyembahan
ini disempurnakan lagi oleh Allah kepada Muhammad Saw serta umatnya
dengan cara ibadah Sholat sebagaimana yang kita lihat sekarang.

Jadi, kata "Masjid" sebenarnya adalah tempat yang digunakan sebagai tempat bersujud.
Mari kita lihat juga pada kisah Ash-habul Kahfi :

La nat takhiizanna ‘alaihim masjida
"Sesungguhnya kami akan mendirikan masjid ditempat mereka itu".
(QS. 18:21)

Padahal kita semua tahu bahwa
masjid dalam pengertian nama bagi suatu bangunan ibadah hanya terdapat
pada periode Nabi Muhammad Saw, sementara itu kisah Ash-habul Kahfi
telah terjadi ratusan tahun sebelumnya.

Aqsha bukanlah nama, arti Masjidil Aqsha adalah Masjid yang jauh atau Tempat sujud yang terjauh.

Dan masih ingatkah anda tentang Jannah dimana disana Adam dihormati oleh semua Malaikat dan Jin dengan cara bersujud ?


Yap, memang itulah tempat yang saya maksudkan.
Masjidil Aqsha yang menjadi tempat tujuan Rasulullah Muhammad Saw
adalah Tempat bersujudnya para Malaikat terhadap Adam sekaligus menjadi
tempat bersujudnya Nabi Muhammad Saw kepada Allah pada saat beliau
menerima perintah shalat yang letaknya sangat jauh dari bumi dan
terdapat di Muntaha.

Adam as., adalah khalifah manusia
yang dipilih oleh Allah untuk planet bumi, sekaligus menjadi nenek
moyang manusia semuanya, dan Muhammad Saw adalah Nabi Allah yang
terakhir untuk manusia yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.


Allah telah mengawali penciptaan Adam selaku khalifah pertama manusia
bumi kita ini sekaligus Nabi pertama dengan meletakkannya di dalam
Jannah yang ada di Muntaha, dan menutupnya dengan pengiriman Muhammad
selaku Nabi terakhir untuk kembali melihat Kampung Halaman kita di Muntaha yang Jannah ada didekatnya.

Cukup logis saya rasa penjelasan saya ini, dan jauh dari sifat yang mengada-ada serta tidak jelas.

Perjalanan Nabi dalam Mi’raj itu
selaku ujian atas kecerdasan manusia dibidang keilmuan dan kehidupan,
ayat 17/1, 53/1 s.d 18 serta ayat 17/60, dan semua itu terbatas hingga
Muntaha dengan pengertian bahwa peradaban manusia ini umumnya sampai
nanti tidak akan menyimpang dan tidak melampaui dari apa yang sudah
dicapai oleh Muhammad Saw dalam Mi’rajnya.

Dan karenanya saya sangat tidak
sependapat dengan Nazwar Syamsu yang mengatakan bahwa Muntaha adalah
planet ke-7 diatas orbit bumi dan hanya sampai disitulah tempat manusia
bisa menjelajahi angkasa raya.

Padahal Allah justru menganjurkan
kepada manusia untuk dapat menjelajahi kebagian mana saja dari langit
dan bumi ini, asalkan mereka memiliki sulthaan yang artinya kekuatan
atau kesanggupan atau juga bisa diartikan tekhnologi.

Hai jama’ah jin dan manusia, jika
kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu
tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan".
(QS. 55:33)

Dalam ayat tersebut Allah menyuruh tidak hanya kepada umat manusia saja, namun juga melingkupi umat Jin.
Dan Allah tidak berkesan membuat pembatasan-pembatasan terhadap
"langit-langit tertentu" yang dapat ditembusi oleh manusia dan Jin.


Makanya saya lebih cenderung berpendapat bahwa Muntaha itu letaknya
diluar galaksi kita sekarang ini, yang jaraknya jutaan tahun cahaya.
Sesungguhnya angkasa raya itu sangatlah luas dan terdiri dari ribuan
juta galaksi.

Matahari kita adalah satu
diantara 100.000 juta bintang yang berada didalam suatu putaran spiral
maha besar yang kita sebut dengan Galaksi kita.
Beberapa ribu buah bintang diantaranya dapat kita saksikan pada malam yang cerah.
Pada bagian langit atau angkasa tertentu, tampak sedemikian banyak
bintang, hingga menyerupai sejalur pita putih yang kita sebut dengan
Bimasakti.

Galaksi kita bergaris tengah satu
juta juta Kilometer. Para astronom lebih senang menyatakan jarak
sebesar itu dalam satuan tahun cahaya, yaitu jarak yang ditempuh oleh
berkas cahaya dalam ruang selama setahun.
Dengan laju 300.000 kilometer tiap detik, berkas cahaya memerlukan
waktu 100.000 tahun untuk melintasi Galaksi kita. Oleh sebab itu garis
tengah Galaksi juga dikatakan sebesar 100.000 tahun cahaya.

"Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.
Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya
benar-benar meliputi segala sesuatu."
(QS. 65:12)

Disini saya cenderung mengambil makna angka 7 dalam ayat Qur’an yang menunjukkan atas langit dan bumi sebagai pengertian "Banyak" .  Dan memang benar begitulah kenyataannya

Galaksi terdekat dengan kita adalah berjarak 170.000 tahun cahaya.
Dan diperkirakan bahwa pada setiap galaksi akan terdapat sistem matahari sebagaimana yang ada pada galaksi bima sakti kita ini.

Dan jika setiap galaksi memiliki
sistem matahari tersebut, maka tentunya keadaan dari planet-planet yang
mengitari galaksi tersebut juga tidak akab berbeda jauh dengan keadaan
planet-planet yang ada dalam wilayah galaksi Bima sakti.

Maka untuk kesekian kalinya,
benarlah firman Allah diatas, bahwa Allah telah menjadikan banyak
sekali (diwakili oleh angka 7) bumi-bumi didalam lingkungan
galaksi-galaksi (7 langit) yang berada diruang angkasa.

Dan dibumi-bumi tersebut juga ada kehidupan layaknya kehidupan yang kita jumpai diplanet bumi kita ini.
Dan dibumi yang paling ujung atau bumi yang terjauh itulah ada Jannah
dimana Nabi Adam dulunya tinggal dan kembali dikunjungi oleh Nabi
Muhammad Saw pada saat Mi’rajnya ke Muntaha.

Setiap bumi pasti memiliki matahari, dan bumi itu sendiri akan bergerak mengelilingi matahari tersebut.
Dan Jannah, yang terdapat diMuntaha, memiliki tumbuh-tumbuhan atau
pepohonan yang sangat rimbun sekali dan subur, dipenuhi oleh
buah-buahan segar, sehingga jika kita berada didalamnya maka kita tidak
akan kepanasan serta kehausan sebagaimana firman Allah kepada Adam as.

"Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak akan kepanasan di dalamnya".
(QS. 20:119)


Pada abad ke-18, William Herschel menyatakan bahwa sebagian dari apa
yang disebut nebula pada kenyataannya adalah pulau alam semesta.
Pulau-pulau tersebut sebenarnya merupakan tatanan bintang paripurna
yang berada jauh dari galaksi kita. Makin banyak pembuktian yang
dikumpulkan oleh Astronom pada abad ke-19 mendukung teori tersebut.
Pada tahun 1917, teleskop raksasa baru di Mount Wilson, California,
memperlihatkan bahwa "nebula" Andromeda terdiri atas kumpulan bintang.

Teori Herschel itu akhirnya dikukuhkan pada tahun 1923.
Kemudian Edwin Hubble menunjukkan bahwa gugusan bintang-bintang itu
terpisah ratusan ribu tahun cahaya dari bumi. Dengan ini terbukti pula
bahwa nebula Andromeda itu sebenarnya merupakan galaksi, yang sama
sekali terpisah dari tatanan bintang kita.

Sekarang manusia telah mengetahui
akan adanya ribuan juta galaksi. Beberapa dari padanya tidak mempunyai
bentuk tertentu; yang lain berbentuk spiral atau elips.
Galaksi kita, bersama 16 buah galaksi lainnya yang terangkum dalam jarak 3 juta tahun cahaya, disebut kelompok lokal.

Disini saya berkeinginan untuk
sedikit mengajak anda membaca sebuah penuturan dari salah satu url atau
site mengenai angkasa luar akan adanya sebuah kehidupan disalah satu
galaksi, dimana digalaksi tersebut ada juga bumi yang mengitari
matahari.

Saya sadar bahwa tulisan dari
site tersebut masih perlu untuk diragukan kebenarannya, namun dalam hal
ini, terlepas dari benar tidaknya apa yang dituliskan disana,
setidaknya kita bisa sedikit menjadikannya sebuah lintas bacaan
semata-mata. Dan tidak ada salahnya kita menghubungkannya dengan Surah
65:12 yang baru saja kita bahas.

Jika saja yang menulisnya seorang
Muslim, tentu saja saya akan berpikir dua tiga kali untuk menyadurnya,
sebab bisa saja itu adalah pendapatnya yang ditujukan untuk memperkuat
dalil-dalil AlQur’an.

Namun tidak, site ini ditulis
oleh seorang yang tidak menganut Islam, malah jangan-jangan orang
tersebut juga meragukan kepercayaan yang diyakininya.
Jadi tertutup kemungkinan bahwa ada unsur-unsur tertentu yang
berhubungan dengan Islam dan upaya penegakan Islam dari penulisan
tersebut.

Yang telah Kami berkahi sekelilingnya :

Dalam lafal Qur’annya adalah barokna haw lahu.
Disini juga orang sering mengartikan bahwa kata haw lahu atau Kami
berkahi sekelilingnya adalah diperuntukkan untuk tempat disekitar
perjalanan Rasulullah tersebut.
Namun saya mengartikannya tidak demikian.

Kata "NYA" atau lafal "HAWLAHU"
pada kata "Kami berkahi sekeliling" atau "Barokna hawlahu", sebenarnya
adalah ditujukan kepada diri Muhammad Saw sendiri.

Dalam bahasa Arab, kata "Haw laha" itu ditujukan untuk yang bergender perempuan.
Kata "Haw lahuma" itu ditujukan untuk menerangkan arti "mereka", yang maknanya lebih dari satu.
Sementara kata "Haw lahu" adalah ditujukan kepada yang bergender
jantan, dan dalam hal ini adalah diri Muhammad Saw, yang memang sebagai
seorang laki-laki.

Jadi, Istilah "disekelilingnya"
dalam ayat 17/1 ini adalah disekeliling Muhammad. Hal ini juga
dibuktikan oleh istilah lain berikutnya "Untuk diperlihatkan kepadanya."

Jadi Barkah telah diadakan disekeliling Muhammad dalam peristiwa Asraa kemasjidil Aqsha di Muntaha.
Apakah Barkah atau Barokna itu ?

Barkah adalah penjagaan, yaitu penjagaan yang melingkupi keluarga
Ibrahim pada ayat 11/73, atau yang menjaga Nabi Nuh dan beberapa
umatnya didalam perahu hingga topan besar tidak membahayakan mereka
sedikitpun pada ayat 11/48, ataupun penjagaan atas kota Mekkah seperti
yang dimaksud ayat 21/71 dan 21/81.
Malah penjagaan atau Barkah yang melingkupi diri Muhammad Saw dalam
Asraa itu, ditinjau dari segi bahasa, maka bisa kita samakan keadaannya
dengan Barkah yang melingkupi bumi ini seperti tercantum pada surah
7/96.
(Lebih jelas, lihat dalam konteks ayat-ayat aslinya)




Kita ketahui bersama, disekeliling bumi terdapat pembungkus gas yang tipis dan bening yang kita sebut dengan nama Atmosfir yang merupakan pelindung guna melindungi kehidupan terhadap kehampaan angkasa.
Tanpa atmosfir, sinar matahari yang menghanguskan akan membakar semua
kehidupan pada siang hari, dan pada malam hari suhu dapat turun jauh
dibawah titik beku.

 Jadi, Barkah ini berupakan sesuatu yang melindungi diri Nabi Muhammad
Saw hingga beliau tidak terbentur pada meteorities yang berlayangan
diangkasa bebas serta memiliki udara cukup untuk pernafasan selama
berada diruang angkasa bebas. Dan dapat dimungkinkan perlindungan ini
berupa lapisan-lapisan Atmosfir seperti yang melingkupi bumi atau juga
semacam sebuah pesawat ruang angkasa.

Jadi
bukanlah Barkah itu ditentukan untuk Palestina sebagaimana pendapat
umum selama ini, apalagi jika dinisbatkan ke Bait Al-Maqdis atau Masjid
Al-Aqsha yang ada di Palestina sekarang.
Dan bukanlah juga Barkah itu sebagai hewan bersayap yang dikendarai Nabi dalam Asraa itu.
Masalah kendaraan yang bernama Boraq ini akan kita uraikan tersendiri secara terperinci pada pembahasan mengenai Buraq.

Sekarang,
mari terus kita lanjutkan pembahasan ayat 17/1 yang telah banyak kita
potong dengan tambahan keterangan-keterangan yang berhubungan dengannya
:

Kami perlihatkan pertanda-pertanda Kami :
Kami perlihatkan disini dapat kita synonimkan dengan "Diperlihatkan".
Yaitu, diperlihatkan kepada Muhammad yang mengandung pengertian melihat
dengan mata sendiri yaitu mata konkrit bukan dalam mimpi atau ruhnya
saja.

Dan
karena Muhammad mi’raj dengan tubuh kasarnya, untuk itu diperlukan
adanya Barkah, maka Barkah ini juga membuktikan bahwa Rasulullah itu
telah berangkat dari bumi dengan jasmani dan rohaninya, sebab itu
pantaslah dia dapat melakukan penglihatan dengan kedua matanya yang
konkrit.

Dalam membicarakan masalah Mi’raj pada surah 17 ayat 1 ini, AlQur’an menggunakan perkataan :
"Linuriyahu min aayatina" yang artinya: "untuk Kami perlihatkan
kepadanya tanda-tanda Kami" yaitu tanda-tanda kebesaran Allah (istilah
Aayat adalah jamak dari Aayah).

Sementara
didalam surah 52 (An Najm) ayat 18 seperti yang kita singgung pada awal
pembahasan, AlQur’an menggunakan perkataan : "Laqod ro-aa min aayati
Robbihi alkubroo." yang artinya: "Sesungguhnya ia telah melihat
sebagian tanda-tanda Tuhannya yang besar-besar/hebat."

Dalam
17/1 disebutkan "Iraa-ah minallah" (Diperlihatkan oleh Allah),
sedangkan didalam 53/18 dikatakan "ra-aa bi nafsihi" (melihat dengan
sendirinya).

Mari kita uraikan :

Aktifitas yang ada didalam 17/1 adalah "iraa-ah".
Apakah artinya ?
Iraa-ah adalah menjadikan orang yang tidak tahu menjadi tahu, baik
dengan merubah sesuatu yang diperlihatkan itu dengan disesuaikannya
dengan qanun (ketentuan yang berlaku) bagi orang yang melihatnya atau
juga dengan mentransfer atau mengalihkan orang yang melihatnya itu agar
ia bisa menembus qanun yang berlaku bagi sesuatu yang hendak dilihatnya
itu.

Kita ambil contoh tentang mikroskop.
Mikroskop tersebut dipakai untuk melihat sesuatu (benda) yang sangat
kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Karena kecilnya maka
seseorang tidak dapat melihat benda tersebut, tetapi setelah
mempergunakan mikroskop lalu ia dapat melihat benda kecil tersebut.

Ini
berarti menjadikan orang yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu karena
adanya lensa yang menampakkan benda-benda yang kecil menjadi besar.

Disini
benda kecil itu disesuaikan dengan qanun mata biasa, dimana menurut
qanun (ketentuan yang berlaku) mata biasa manusia hanya dapat melihat
benda-benda yang tampak (besar) saja.

Dengan
demikian maka "iraa-ah" (memperlihatkan/menampakkan) itu dapat dengan
mengadakan perubahan terhadap benda/sesuatu yang dilihatnya itu sesuai
dengan qanun orang yang melihatnya sehingga ia dapat mengetahuinya,
atau dengan memberikan sesuatu alat pada benda yang dilihatnya itu
sehingga yang bersangkutan dapat melihatnya.

Dalam
17/1 AlQur’an mempergunakan kata-kata "Linuriyahu" (untuk kami
perlihatkan), yaitu dijadikan oleh Allah bahwa Muhammad dapat melihat
sesuatu yang pada asalnya ia tidak dapat melihatnya dengan sendirinya.
Karena Nabi Muhammad Saw sebelumnya berada dimuka bumi dengan qanun
basyariah (manusiawinya) sebagai seorang manusia yang normal, secara
otomatis Nabi Muhammad Saw tidak dapat melihat bagaimana keadaan diluar
angkasa sana yang juga merupakan salah satu kebesaran Allah.

Maka
kepada Nabi Muhammad Saw diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda
kebesaran Allah yang ada diluar planet bumi ini dengan memperjalankan
beliau dengan penjagaan penuh (yang disebut dengan Barkah atau lafal
Qur’annya "Baroqna") ke Muntaha yang terletak disalah satu galaksi
terjauh dari galaksi bima sakti, tempat dimana dulunya Adam dan
istrinya pernah tinggal dan menetap.

Diperlihatkan
kepada Nabi betapa planet bumi yang kita tempati ini terdapat didalam
sebuah tata surya yang bagaikan suatu noktah kecil diantara jutaan
milyar tata surya lainnya yang juga disebut oleh para ahli dengan nama
solar system.

Begitulah perikeadaan Rasulullah Saw dalam peristiwa ardliyah, yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj ini.
Tetapi ketika Nabi Saw naik kepada ufuk (tempat) yang lebih tinggi,
tepatnya ketika beliau sudah berada di Muntaha, maka terjadilah
perubahan pada dzatiyah beliau., seolah-olah beliau telah meninggalkan
basyariahnya bertukar dengan dzatiyah malaikat yang bisa melihat segala
sesuatu disana dengan sendirinya.

Keadaan
semacam itu juga dulunya yang pernah ada pada diri Adam dan istrinya
ketika masih berada di Muntaha sebagaimana yang kita uraikan pada
artikel tersebut. Suatu keadaan dimana Adam dapat melihat para
malaikat, para Jin dan termasuk Iblis.

Makanya
untuk kasus Nabi Muhammad Saw, oleh Qur’an dikatakan : "Laqad ra-aa…
(Sungguh ia telah melihat..).", dan tidak dikatakannya sebagai :
"Ara’ainaahu …(Kami perlihatkan kepadanya)"

Jadi, pada masa perjalanan Rasul dari bumi menuju ke Muntaha, ia diperlihatkan oleh Allah
akan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah yang lainnya didalam
lingkungan semesta, dan begitu ia hampur mendekati tujuan, yaitu
Sidratil Muntaha, Allah berfirman bahwa Muhammad "ra-aa" (melihat
dengan sendirinya) .. seakan-akan Rasulullah Saw dengan qanun basyariah
sebelumnya (dari bumi hingga menjelang tiba) telah mengalami perubahan
dimensi, yaitu suatu penyesuaian terhadap lingkungan barunya sehingga
ia bisa menyaksikan peristiwa-peristiwa yang ada disana (Muntaha)
secara langsung.

Kita
semua tahu, bahwa Rasulullah Muhammad Saw adalah juga manusia biasa
yang memiliki keterbatasan didalam segala hal, karena yang tidak
terbatas itu hanyalah Allah Swt semata.

Sebagai seorang manusia biasa, sebagai keturunan Adam as, keadaan beliau sama seperti kita.
Untuk itu, Allah telah mengadakan penyesuaian atau membuka Ijab
terhadapnya agar dapat memasuki Muntaha yang suci sekaligus
menjadikannya kasyaf, melihat tembus segala sesuatunya, termasuk
melihat wujud malaikat Jibril dalam rupa aslinya sebagaimana yang
dikatakan pada ayat 53:13-14.

Dengan
kata lain, Nabi Muhammad dikembalikan kepada fitrah manusia semula,
yaitu fitrah awal yang diberikan kepada Nabi Adam as waktu itu. Keadaan
dimana Nabi Muhammad dapat melihat semua malaikat-malaikat Allah serta
dapat bercakap-cakap dengan mereka.

Bahkan,
dalam beberapa hadist yang sampai saat ini masih bisa dikatakan shahih
dan diyakini oleh sebagian besar para ulama menyatakan bahwa Nabi Saw
juga telah bertemu dengan ruh para Nabi terdahulu, seperti Adam, Musa,
Ibrahim dan beberapa ruh Nabi-nabi dan Rasul lainnya, dimana beliau
melakukan Shalat sebanyak 2 raka’at, menurut ketentuan shalat para Nabi
itu dulunya, yaitu ruku’ dan sujud.

Memang
tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, termasuk masalah pengimaman
yang dilakukan oleh Rasulullah Saw ini terhadap para ruh, sementara
beliau sendiri berada dalam keadaan hidup, jasmani dan ruhaninya, hal
ini mengingat bahwa kedudukan Nabi Muhammad Saw yang mulia disisi Allah
sekaligus sebagai penutup dari para Nabi dan sesuai pula dengan ayat
yang menyatakan bahwa orang yang sudah mati itu tidaklah mati habis
begitu saja, namun mereka tetap hidup (dialam penantian).


Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan
Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak
menyadarinya."
(QS. 2:154)

"Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati;
bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki."
(QS. 3:169)

"Dia
mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari
yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya; Dan seperti itulah
kamu akan dikeluarkan."
(QS. 30:19)

"Menciptakan
dan membangkitkan kamu tidak lain hanyalah seperti (menciptakan dan
membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat."
(QS. 31:28)

Kemudian,
seperti yang juga banyak kita dapatkan didalam periwayatan hadist,
bahwa Nabi Muhammad selanjutnya di Sidratil Muntaha, menuju suatu
tempat agung yang Jibril sendiri, selama ini sebagai "Tangan Kanan
Allah" tidak mampu menembusnya, (didalam salah satu riwayat dikatakan
sebagai tempat lautan cahaya sekaligus merupakan batas terakhir bagi
Jibril menghantarkan Muhammad) dilukiskan dengan gaya bahasa yang indah
oleh Qur’an, seperti yang dikatakan pada ayat ke-16 hingga ayat ke-18
surah 53 :


Ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.
Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda terbesar dari Tuhannya.
(QS. 53:16-18)

Sungguh,
suatu ungkapan teramat sangat yang dicoba dilukiskan dengan kata-kata
mengenai keindahan yang begitu menawan atas apa yang sudah dilihat oleh
Nabi Muhammad Saw pada waktu itu.

Makanya
tidak heran jika akhirnya ulama kembali terpecah dua didalam memahami
ayat ini, ada sebagian mereka mengatakan bahwa Nabi Saw benar-benar
telah melihat Tuhan pada saat itu, namun sebagian lagi menyatakan
sebaliknya.

Namun
saya sendiri berpendapat bahwa apa yang telah dilihat oleh Nabi besar
Muhammad Saw ketika itu tidak lain hanyalah tabir atau yang disebut
didalam bahasa Qur’annya dengan hijab sebagaimana keterangan dari
Qur’an sendiri :


"Dan tidak bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata kepadanya
kecuali dengan ilham atau di belakang tabir (hijab) atau Dia mengirim
utusan (malaikat) lalu dia mewahyukan dengan seizin-Nya apa-apa yang
Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.
(QS. 42:51)

Adapun
keindahan dari Hijab atau tabir inilah yang membuat Nabi Muhammad Saw
terpesona, kagum dan beribu perasaan lainnya yang menyelimuti perasaan
hatinya, sehingga pemandangan Rasul yang agung ini tidak berpaling dari apa yang dilihatnya namun juga Beliau tidak dapat melihat lebih jauh lagi atau melampaui tabir tersebut, sebab memang hanya sampai disanalah kemampuan mata beliau yang di izinkan Allah untuk dapat melihat.

Benarlah
kiranya pada ayat yang ke-18, AlQur’an menyebutkan bahwa Nabi Muhammad
Saw telah melihat sebagian tanda-tanda yang terbesar dari Tuhannya.
Apa yang sudah dilihat oleh Rasul Saw, adalah suatu karunia yang tidak
terhinggakan, melebihi segala-galanya, suatu rahmat dan nikmat yang
amat sangat diinginkan oleh Nabi Musa as namun tidak kuasa ia dapati
sebagaimana yang disebutkan dalam surah 7 ayat 143.

Namun
karena yang dilihat oleh Nabi Muhammad Saw waktu itu adalah Hijab yang
menutupi Allah, makanya disebutkan pada ayat 17 dan 18, bahwa ia telah
melihat "Sebagian" dari kekuasaan Tuhan, bukan "Semuanya".

Dalam salah satu Hadist shahih riwayat Masruq yang dirawikan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi disebutkan :

"Saya
pernah bertanya kepada ‘Aisyah r.a. demikian: ‘Wahai Ummul Mukminin,
benarkah Nabiyullah Muhammad Saw pernah melihat Tuhannya ?’ Beliau
menjawab, ‘Benar-benar telah berdiri bulu romaku karena mendengar apa
yang engkau katakan itu. Hati-hatilah engkau dari tiga hal ini;
barangsiapa yang memberitahu kepadamu tentang tiga hal ini, pastlah dia
berdusta.


  1. ‘Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa Nabi Muhammad Saw
    pernah melihat Tuhannya, maka ia pasti berdusta.’ Lalu ‘Aisyah membaca
    ayat yang artinya :
    Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata,
    sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha
    Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:103)

  2. ‘Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa ia dapat mengetahui apa
    yang akan terjadi esok hari, pastilah ia berdusta,’ Lalu ‘Aisyah
    membacakan ayat yang artinya :
    Tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakan besok hari. (QS. 31:34)

  3. ‘Barangsiapa yang mengatakan padamu bahwa ia (Rasulullah)
    menyembunyikan sesuatu dari wahyu, maka pastilah ia berdusta.’ Lalu
    ‘Aisyah membacakan ayat yang artinya :
    Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. (QS. 5:67)

Tetapi, katanya meneruskan, ia pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali."
(HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Sekarang, kita akan melanjutkan pembahasan dari bagian terakhir ayat 17/1 :

Sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha melihat :
Innahuu Huassami’ul Basyiir, Bahwa Allah, Tuhan yang Maha Esa,
senantiasa melihat, mendengar, memperhatikan dan menentukan setiap
gerak tindak zahir bathin dari seluruh wujud disemesta raya. Semua itu
senantiasa berjalan dengan cara yang wajar melalui garis kausalita.

Tidak satupun yang terlepas dari ketentuan Allah walaupun gerak hati dalam dada setiap diri.
Ayat ini berhubungan erat pula dengan 3 ayat terakhir dari surah ke-2,
yaitu ayat 284 hingga 286 yang menurut beberapa hadist diberikan kepada
Nabi Saw pada saat beliau menerima perintah shalat langsung dari Allah
Swt.

(284)
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika
kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu
menyembunyikannya, Allah akan memeriksa kamu tentang perbuatanmu itu.
Dia akan mengampuni siapa yang Ia kehendaki dan menyiksa siapa yang Ia
kehendaki; Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(285)
Rasul itu percaya kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
dan orang-orang yang beriman; tiap-tiap seorang daripada mereka percaya
kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasul-Nya.
"Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun dari rasul-rasulNya", dan
mereka berkata:"Kami dengar dan kami ta’at, Ampunilah kami ya Tuhan
kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

(286)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia akan mendapat apa yang diusahakannya serta mendapat apa yang
dikerjakannya. "Hai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami
lupa atau kami keliru. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada
kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang
sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami yang
tak sanggup kami mengerjakannya. Ampunilah kami, lindungilah kami dan
kasihanilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap
kaum yang kafir".
(QS. 2:284-286)

Memahami peristiwa Mi’raj Rasulullah Saw

Monday, August 22nd, 2005


Diterjemahkan dari AlQur’an surah An Najm ayat 1 s.d 18

 

  1. Demi bintang ketika terbenam,
  2. Kawanmu, (Muhammad), tidak sesat dan tidak keliru,
  3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.
  4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),
  5. yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat (yaitu Jibril),
  6. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli.
  7. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi.
  8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi,
  9. Maka jadilah dia dekat laksana dua busur panah atau lebih dekat.
  10. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah diwahyukan.
  11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
  12. Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?
  13. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya itu pada waktu yang lain,
  14. Di Sidratil Muntaha.
  15. Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal,
  16. ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
  17. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.
  18. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya yang paling hebat.

 




Nabi Allah yang terakhir, yaitu Rasul Allah Muhammad Saw telah
mengadakan perjalanan malam dari masjidil Haraam kemasjidil Aqsha dan
telah menyaksikan sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhan yang hebat dan
dahsyat dengan ditemani oleh Malaikat Jibril yang akan dilihatnya dalam
wujud aslinya pada saat di Muntaha sebagaimana yang pernah dijumpai
Rasulullah pertama kalinya digua Hira ketika mendapatkan wahyu yang
pertama.

 

Peristiwa
itu, bagi Nabi sendiri merupakan pengalaman yang paling tinggi dan
sempurna dalam kehidupan kerohaniannya. Kepergiannya keatas orbit bumi
sampai terus menjulang tinggi melangkahi berjuta bahkan bermilyar
bintang dan benda-benda angkasa lainnya untuk pada akhirnya sampai
dihadapan ‘Arsy Ilahi menyaksikan kebesaran Allah baik dengan mata
kepala, mata batin atau mata hatinya sehingga sangat sulit dilukiskan.

Kaum
alim ulama banyak berbeda pendapat mengenai masalah kejadian yang
dialami oleh Nabi yang agung ini, bahwa apakah peristiwa itu terjadi
secara rohani ataukah secara jasmani alias dengan badan kasar ?

Sejak
jaman permulaan, masalah ini senantiasa menjadi masalah ikhtilafiah,
masalah yang membangkitkan beda pendapat antara alim ulama dan
mufassirin. Dan ini adalah hal yang sangat wajar sekali, bukankah
tingkat pemahaman setiap orang dapat berbeda-beda sesuai dengan cara
berpikir dan pengetahuan masing-masing serta perkembangan peradaban
tekhnologi pada masanya ?

Ada
sementara orang yang menganggap bahwa peristiwa perjalanan Nabi ini
terjadi dalam mimpi, padahal mimpi itu tidak perlu dibantah. Toh itu
cuma mimpi. Misalnya seperti saya yang berada di Palembang, lalu saya
mengatakan bahwa tadi malam saya bermimpi pergi ke London, maka tidak
akan ada seorangpun yang bisa membantah saya, karena hal itu hanyalah
mimpi.

Orang yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi dalam mimpi mencoba mengemukakan dalil AlQur’an :

"Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar ru’yaa)  yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia."
(QS. 17:60)

Menurut mereka, lafal Ru’ya (dalam bahasa Arabnya memakai huruf "ya" saja) adalah berarti penglihatan dalam mimpi, bukan penglihatan dalam sadar. Sebab penglihatan dalam keadaan sadar mempergunakan bentuk masdar Ru’ya(h) (dalam bahasa Arabnya memakai huruf "ta" setelah huruf "ya")

Terhadap alasan ini, kita kemukakan jawaban bahwa apabila Penglihatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah Mimpi, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi Ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada lanjutan ayat 17:60 diatas ?

Sedangkan makna Ujian bagi manusia
ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang
mendustakan. Kalau toh hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka
orang tidak perlu lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau
mendustakannya.

Adakah
anda pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang
karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan perbuatan begini
dan begitu ? Tidak, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi
itu (yang nota bene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan
peristiwa itu tidak akan membantahnya - seandainya peristiwa itu
terjadi dalam mimpi).

Sekarang mari kita bicarakan arti kata "Ru’yaa dari segi bahasa menurut undang-undang kebahasaan Arab yang berlaku.

Coba
lihat kembali ucapan-ucapan jahiliah sebelum diturunkannya Al Qur-an,
juga pada saat Nabi Ibrahim memandang takjub atas bintang-bintang,
bulan, matahari dilangit ketika dalam pencarian jati diri Tuhannya,
maka akan kita dapati bahwa kata-kata "Ru’yaa" juga dipergunakan dalam
arti "melihat dalam keadaan sadar" (melihat dengan mata kepala).

Jadi perkataan "Ru’yaa" dengan arti "melihat dalam keadaan sadar" dipakai untuk perkara-perkara yang aneh-aneh dan menakjubkan yang biasanya terjadi dalam mimpi.

Apabila kita hendak menyatakan bahwa kita melihat sesuatu yang biasa maka kita katakan :
Ro aitu Ru’yah tetapi jika kita mengatakan sesuatu hal yang
dapat dilihat dengan mata kepala (Dalam keadaan sadar) dan kita
mempergunakan kata-kata "ra-aa" dengan bentuk masdar "rukyaa", maka
berarti apa yang kita katakan itu adalah hal yang luar biasa yang
umumnya hanya terjadi dalam mimpi, namun itu tidak berarti kita sedang
dalam mimpi.

Sekarang kita lanjutkan dengan membicarakan kata-kata "Ja’ala", bagaimanakah penggunaannya menurut tata bahasa ?

Saya berpendapat bahwa kata-kata "Ja’ala" ini apabila digunakan untuk sesuatu yang belum ada kemudian menjadi ada, maka kata-kata "Ja’ala" tersebut sama artinya dengan "Khalaqa".
Perhatikan Firman Allah :

"Waja’ala minha zau jaha"
Artinya :"Dan Kami jadikan daripadanya pasangannya."

Maksudnya
adalah : Kami ciptakan istri Adam itu dari padanya yang mana pada waktu
itu si Istri tersebut belum ada lantas kemudian menjadi ada. Tetapi
apabila kata-kata "Ja’ala" ini digunakan untuk sesuatu yang sudah ada,
maka artinya ialah "Merubah". Dari kata-kata "Ja’ala" dengan arti yang
kedua ini maka akan timbul dua hal, yaitu adanya "Maj’ul" (sesuatu yang
dijadikan/yang dibuat) dan "Maj’ul minhu" (sesuatu yang dijadikan
daripadanya akan sesuatu yang lain).

Misalnya kita katakan : Ja’altussinaibrita Artinya :Saya membuat tanah liat menjadi kendi.
Maka tanah liat ini sebagai bahan (Maj’ul minhu) dan kendinya sebagai Maj’ul.

Begitu juga dengan firman Allah terhadap Nabi Ibrahim :Inni Ja’iluka linnasi imama,
Artinya: "Aku akan menjadikan engkau sebagai imam bagi manusia." (QS.
2:124), maka hal itu berarti bahwa Nabi Ibrahim sudah ada, sedangkan
"Keimaman" adalah perkara yang lain lagi.

Lalu kembali lagi pada arti ayat 17:60 :"Dan tidak Kami jadikan penglihatan yang Kami perlihatkan kepadamu itu melainkan…"

Dijadikan apakah penglihatan yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad Saw itu ?
Jawabnya : Dijadikan ujian bagi manusia dimana timbul reaksi-reaksi
dari mereka, yaitu ada yang membenarkan dan ada yang mendustakan. Atau,
kalau kata-kata "Ru’yaa" disini diartikan dengan mimpi, maka mimpi ini dapat dijadikan Ujian bagi orang lain ? Karena mimpi tersebut kemudian menjadi kenyataan, dan dari kenyataan (peristiwa nyata) inilah lantas timbul Ujian.

Sehingga
dengan demikian maka dapat diambil pengertian bahwa peristiwa Mi’raj
itu mula-mula dialami Rasulullah Saw dalam mimpi, kemudian dalam alam
kenyataan sebagaimana hal ini dialami Rasulullah Saw pada peristiwa
yang lain seperti yang difirmankan oleh Allah :

"Sesungguhnya
Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya
dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki
Masjidil Haram.."
(QS. 48:27)

Dimana
peristiwa memasuki Masjidil Haram ini mula-mula berupa impian, kemudian
menjadi kenyataan. Dan tidak ada yang menghalangi Allah untuk
memperlihatkan kepada ruh Muhammad Saw mengenai peristiwa Mi’raj ini
dalam mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Dengan demikian maka dapat
disimpulkan bahwa Rasulullah mengalami Mi’raj dalam mimpi dan oleh
ruhnya, lalu dialaminya dalam alam kenyataan.

A’isyah r.a. pernah mengatakan :
"Sesungguhnya Rasulullah Saw tidak bermimpi sesuatupun melainkan mimpinya itu akan menjadi kenyataan seperti terbitnya fajar."

Sekarang,
mari kita tinjau kembali secara teliti, Surah 53 yang dimulai dari ayat
1 s.d ke-18 yang telah saya cantumkan pada bagian permulaan dari
artikel ini, dan perhatikan ayat-ayat yang telah saya tebalkan dan
miringkan hurufnya dan akan saya kutip kembali beberapa ayat yang
berhubungan erat dengan pembahasan utama kita :

11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. 
12. Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?

 

Ayat 1 s.d 12 itu menceritakan saat pertama kali pertemuan Nabi
Muhammad Saw dengan malaikat Jibril, dimana Muhammad waktu itu sedang
melakukan pengasingan diri lengkap dengan jasad fisiknya (lahir-batin)
didalam gua Hira pada saat menerima wahyu pertama.

Dan penglihatan terhadap Jibril ini dilakukan dengan mata kepala Rasulullah sendiri, lahir batinnya beliau melihat, serta "hati Rasul tidak pula mendustakan penglihatan matanya"

Lalu pada ayat berikutnya (12), kita semua ditanya oleh Allah Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?

Jauh-jauh
hari ternyata Allah sudah mempertanyakan keraguan yang ada didalam diri
kita atas apa yang telah pernah dilihat oleh Rasulullah Muhammad Saw,
sehingga semakin menjelaskan bahwa kejadian di Gua Hira itu adalah
nyata dan kongkrit dan tidak bisa terbantahkan.

Nah,
selanjutnya kejadian digua Hira ini berulang kembali pada saat di
Sidratul Muntaha yang termaktub pada Surah yang sama pada ayat
selanjutnya, 13-18

13. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya itu pada waktu yang lain,
14. Di Sidratil Muntaha.

17. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.
18. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya yang paling hebat.

Rasanya sudah transparan sekali Allah menjelaskan ayat-ayat tersebut
kepada kita untuk dapat dimengerti serta dipahami bahwa semuanya
berlangsung dengan logis dan real.
Tetapi memang, sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, masing-masing
orang dapat berbeda didalam menafsirkan setiap ayat didalam AlQur’an,
mengingat memang kandungan yang ada pada AlQur’an begitu luas, indah
dan mempesona selain juga begitu ilmiah.

Keilmiahan
inilah yang rupa-rupanya masih agak sulit ditangkap oleh para alim
ulama dahulu kala, karena memang perkembangan peradaban tekhnologi pada
masa itu belumlah lagi secanggih sekarang ini, sehingga pernyataan manusia bisa terbang kebulan saja masih banyak yang takjub dan terheran-heran serta tidak percaya.

Memang
bisa dimaklumi, penerbangan keangkasa luar dengan menggunakan pesawat
terbang sendiri sebagai pelajaran struktur jagad raya baru dicapai
sekitar abad 18 Masehi. Sebelum itu cerita manusia terbang tanpa
pesawat hanya dijumpai dalam cerita wayang atau cerita mengenai Nabi
Sulaiman dengan karpet terbangnya atau juga mengenai cerita di Romawi
dengan kuda sembraninya.

Hal
ini juga kiranya yang menyebabkan orang dahulu cenderung mencocokkan
beberapa arti ayat AlQur-an sedemikian rupa, sehingga bagi mereka yang
selalu berkutat dengan bidang ilmiah yang membacanya menjadi berkesan
rancu, lucu dan irrasional. Padahal kita semua tahu dan sadar, AlQur-an
sangat jauh dari sifat-sifat tersebut

Atmosfir sebagai perlindungan planet bumi

Monday, August 22nd, 2005

Sebagian besar (99%) dari atmosfir terdiri dari zat lemas dan zat asam yang memberi kehidupan.
Kedua gas ini dan gas-gas lainnya ditahan pada bumi oleh gaya tariknya.
Karena gaya tarik ini, semua benda yang ada dibumi dan diatmosfir yang menyelubunginya, mempunyai berat.

Berat atmosfir sungguh menakjubkan, yaitu 6.000 juta ton.
Pada permukaan laut tekanan udara 1,0336 Kg per cm 2.
Walaupun demikian kita tidak merasa tekanan ini, karena tekanan didalam badan kita sama dengan tekanan udara diatas sana.

Atmosfir dibagi dalam beberapa lapisan.
Lapisan paling bawah ialah troposfir, berada antara 6 sampai 16 Km
diatas bumi, mengandung 90% dari seluruh udara. Semua kehidupan dan
hampir semua bentuk cuaca terdapat dalam lapisan ini.
Semakin tinggi, maka tekanan udara makin menipis dengan cepat.

Dipuncak Mount Everest, pada ketinggian 8.700 m, tekanan udara 1/10
daripada permukaan laut, dan sangatlah tidak enak. Gas disini begitu
tipis, sehingga zat asam tidak cukup untuk mempertahankan kehidupan.
Oleh karenanya, pesawat jet yang terbang tinggi memiliki kabin kedap
udara, dengan tekanan yang dipertahankan pada keadaan yang menyenangkan
dan banyak zat asam beredar.

Diatas troposfir terletak stratosfir.
Angin yang amat dingin bertiup kencang pada bagian yang paling bawah
dari lapisan ini, tetapi udara diatasnya tenang sekali dan
kadang-kadang ada juga pesawat udara yang melintasinya.

Distratosfir, makin tinggi tempat, makin naik suhunya.
Hal ini disebabkan oleh sinar ultra ungu matahari yang ganas itu
mengubah zat asam menjadi ozon pada ketinggian antara 24 hingga 48 Km.
Lapisan ozon inilah yang mencegah sinar-sinar berbahaya ini mencapai
bumi.

Diatas stratosfir terletak ionosfir, lapisan atmosfir yang paling luar.
Diluarnya lagi terdapat ruang hampa. Di Ionosfir udara menjadi amat tipis.
Atom disini berubah menjadi ion oleh aliran partikel-partikel yang masuk dari ruang angkasa.
Kadang-kadang, hal ini menyebabkan terjadinya sinar dilangit yang disebut dengan Sinar Kutub atau Aurora.
Ionosfir memungkinkan adanya hubungan radio gelombang panjang dengan memantulkan isyarat-isyarat radio kebumi.

Buraq, kendaraan inter dimensi

Monday, August 22nd, 2005


Dari peristiwa Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah Muhammad Saw
Al-Amin, banyak hal yang bisa kita
ambil sebagai pelajaran, baik yang
ada hubungannya dengan masalah ritual seperti shalat lima waktu,
peristiwa yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad maupun yang ada
hubungannya dengan ilmu pengetahuan seperti ilmu falak /Astonomi/, ilmu
kedokteran dan sebagainya.

Menurut riwayat, sebelum Nabi berangkat untuk
penerbangan jarak jauhnya dalam peristiwa Mi’raj itu, lebih dahulu Nabi
dibedah dadanya untuk dibersihkan jantungnya oleh malaikat Jibril,
maksud dibersihkan itu sendiri, secara ilmiah sebagai suatu persiapan
kondisi jasmani (phisik)nya agar cukup dan mampu dalam menempuh
penerbangan jarak jauh.

Sebab jantung merupakan alat vital bagi manusia
terutama dalam memacu peredaran darah yang mana jantung ini bekerja
tanpa henti-hentinya sejak dari kandungan sampai dengan akhir hayatnya.

Sepasang dokter Amerika yang terdiri dari suami
istri, Dr. William Fisher & Dr. Anna Fisher mengatakan bahwa
perkembangan ilmu kedokteran antariksa tengah memfokuskan
penyelidikannya sehubungan dengan pembuluh darah jantung para astronot
dan kondisi-kondisi tulang yang makin lemah setelah lama dalam ruang
angkasa, ini membuktikan kebenaran dari peristiwa ‘Pembedahan Dada’
Nabi Muhammad Saw oleh dokter-dokter ahli langit yang ditunjuk oleh Allah Swt, yaitu para malaikat yang diketuai oleh Jibril as.

Dalam peristiwa pembedahan dan pembersihan jantung
Nabi sebelum Mi’raj kiranya merupakan gambaran adanya pengertian bagi
manusia umumnya untuk mempelajari ilmu kedokteran khusunya dalam bidang
bedah dan anatomi serta ilmu kedokteran antariksa. Dan ternyata
kemudian bedah jantung /pencangkokan jantung/ dan ilmu kedokteran
antariksa oleh para ahli mulai diperkenalkan pada abad dua puluh.


Bagi umat Islam, nampaknya bukanlah hal yang baru jika saja mereka mau
menghayati dan mempelajari apa-apa yang telah terjadi dan dialami oleh
Rasul yang mereka cintai, Muhammad Saw.

Pada abad-abad kemajuan Islam dibidang teknologi dan
ilmu pengetahuan, maka jelaslah bagi kita bahwa ahli-ahli kedokteran
muslim telah memperlihatkan kemajuan yang pesat sekali.
Buku-buku/kitab-kitab berbahasa Arab yang berisi ilmu-ilmu Tib
/kedokteran/ benar-benar ilmiah dan orisinil.

Malahan sudah menjadi bahan pelajaran dinegara
Eropah khususnya, ahli-ahli kedokteran yang termasyur misalnya saja
Ibnu Sina /Aviccena/, Qorsh-’Ala’uddin, Ibnu An Nafis /dokter yang
pertama kali mengajarkan peredaran darah/ dimana dalam tulisan itu
dijelaskan secara sistematis bagaimana aliran darah mengalir dari hati
kejantung melalui urat nadi paru-paru dan kemudian kembali lagi kehati.

Dari contoh diatas itulah kita sedikit banyak bisa
mengambil kesimpulan bahwa dalam peristiwa pembedahan Nabi sebelum
Mi’raj dapat diambil pelajaran dan memperoleh ilmu pengetahuan dan
penyelidikan terutama dalam bidang ilmu bedah dan ilmu kedokteran
antariksa. Begitupula misalnya dengan tidak menimbulkan bekasnya pada
‘Bekas Jahitan’ pada dada Nabi setelah pembedahan itu benar-benar
petunjuk bagi manusia agar dapat menciptakan alat bedah yang
benar-benar modern dengan sinar laser yang tercanggih.

Setelah Nabi dikuatkan baik mental maupun phisiknya,
barulah beliau mengadakan perjalanan jauh sampai berjuta-juta tahun
cahaya menempuhnya, namun ditempuh oleh Nabi hanya beberapa jam saja
dalam peristiwa itu dengan berkendaraan Buraq.


Menurut sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Annas, Rasulullah menjelaskan bahwa Buraq itu adalah
"Dabbah",
yang menurut penafsiran bahasa Arab adalah suatu makhluk hidup
berjasad, bisa laki-laki bisa perempuan, berakal dan juga tidak berakal.

Kalau dilihat dalam kamus bahasa, maka kita akan
menemukan istilah "buraq" yang diartikan sebagai "Binatang kendaraan
Nabi Muhammad Saw", dia berbentuk kuda bersayap kiri kanan. Dalam
pemakaian umum "buraq" itu berarti burung cendrawasih yang oleh kamus
diartikan dengan burung dari sorga (bird of paradise).


Sebenarnya "buraq" itu adalah istilah yang dipakai dalam AlQur’an
dengan arti "kilat" termuat pada ayat 2/19, 2/20 dan 13/2 dengan
istilah aslinya "Barqu".

Para sarjana telah melakukan penyelidikan dan
berkesimpulan bahwa kilat atau sinar bergerak sejauh 186.000 mil atau
300 Kilometer perdetik. Dengan penyelidikan yang memakai sistem
paralax, diketahui pula jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil
dan dilintasi oleh sinar dalam waktu 8 menit.

Jarak sedemikian besar disebut 1 AU atau satu
Astronomical Unit, dipakai sebagai ukuran terkecil dalam menentukan
jarak antar benda angkasa. Dan kita sudah membahas bahwa Muntaha itu
letaknya diluar sistem galaksi bimasakti kita, dimana jarak dari satu
galaksi menuju kegalaksi lainnya saja sekitar 170.000 tahun cahaya.
Sedangkan Muntaha itu sendiri merupakan bumi atau planet yang berada
dalam galaksi terjauh dari semua galaksi yang ada diruang angkasa.


Amatlah janggal jika kita mengatakan bahwa buraq tersebut dipahami
sebagai binatang atau kuda bersayap yang dapat terbang keangkasa bebas.
Orang tentu dapat mengetahui bahwa sayap hanya dapat berfungsi dalam
lingkungan atmosfir planet dimana udara ditunda kebelakang untuk gerak maju kemuka atau ditekan kebawah untuk melambung keatas.

Udara begitu hanya berada dalam troposfir yang
tingginya 6 hingga 16 Km dari permukaan bumi, padahal buraq itu harus
menempuh perjalanan menembusi luar angkasa yang hampa udara dimana
sayap tak berguna malah menjadi beban. Dengan kecepatan kilat maka
binatang kendaraan itu, begitu juga Nabi yang menaiki, akan terbakar
dalam daerah atmosfir bumi, sebaliknya ketiadaan udara untuk bernafas
dalam menempuh jarak yang sangat jauh sementara itu harus mengelakkan
diri dari meteorities yang berlayangan diangkasa bebas.

Semua itu membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw
bukanlah melakukan perjalanan mi’rajnya dengan menggunakan binatang
ataupun hewan bersayap sebagaimana yang diyakini oleh orang selama ini.

Penggantian istilah dari Barqu yang berarti kilat
menjadi buraq jelas mengandung pengertian yang berbeda, dimana jika
Barqu itu adalah kilat, maka buraq saya asumsikan sebagai sesuatu
kendaraan yang mempunyai sifat dan kecepatannya diatas kilat atau
sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan sinar.

Menurut akal pikiran kita sehari-hari yang tetap
tinggal dibumi, jarak yang demikian jauhnya tidak mungkin dapat dicapai
hanya dalam beberapa saat saja.

Untuk menerobos garis tengah jagat raya saja
memerlukan waktu 10 milyard tahun cahaya melalui galaksi-galaksi yang
oleh Garnow disebut sebagai fosil-fosil jagad raya dan selanjutnya
menuju alam yang sulit digambarkan jauhnya oleh akal pikiran dan panca
indera manusia dengan segala macam peralatannya, karena belum atau
bahkan tidak diketahui oleh para Astronomi, galaksi yang lebih jauh
dari 20 bilyun tahun cahaya. Dengan kata lain mereka para Astronom
tidak dapat melihat apa yang ada dibalik galaksi sejauh itu karena
keadaannya benar-benar gelap mutlak.

Untuk mencapai jarak yang demikian jauhnya tentu
diperlukan penambahan kecepatan yang berlipat kali kecepatan cahaya.
Sayangnya kecepatan cahaya merupakan kecepatan yang tertinggi yang
diketahui oleh manusia sampai hari ini atau bisa jadi karena parameter
kecepatan cahaya belum terjangkau oleh manusia.



Namun kita mungkin bisa memberikan contoh analogi dari prinsip2 computer networking berikut :

Protocol TCP / IP yang kita gunakan di Internet ini
kita ibaratkan sebagai Buraq & ruh, fisik jasmaniah Nabi adalah
paket data (e-mail misalnya) yang akan kita kirimkan ke ujung belahan
dunia lain (dimensi Muntaha). Melalui proses enkripsi, enkode dan
dekode yang dikapsulkan (capsulated) di dalam protocol TCP / IP
(Buraq), paket data dapat melihat-lihat dan berjalan-jalan menelusuri
jaringan Internet yang berbeda-beda dimensinya: lewat transmisi
terrestrial (dimensi kabel, serat optik) kemudian di up link melalui
transmisi satelit dan micro wave (dimensi radio link) hingga kembali ke
bentuk dimensi asalnya teks di layar komputer.

Dalam AlQur’an kita jumpai betapa hitungan waktu
yang diperlukan oleh para malaikat dan ruh-ruh orang yang meninggal
kembali kepada Tuhan:

 


Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepadaNya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
(QS. 70:4)

Kata "Ar-Ruh" pada ayat ini sering juga diartikan /diterjemahkan/ orang dengan Malaikat Jibril.

Ukuran waktu dalam ayat diatas ada para ahli yang
menyebut bahwa angka 50 ribu tahun itu menunjukkan betapa lamanya waktu
yang diperlukan penerbangan malaikat dan Ar-Ruh untuk sampai kepada
Tuhan.

Namun bagaimanapun juga ayat itu menunjukkan adanya
perbedaan waktu yang cukup besar antara waktu kita yang tetap dibumi
dengan waktu malaikat yang bergerak cepat sesuai dengan pendapat para
ahli fisika yang menyebutkan "Time for a person on earth and time for a
person in hight speed rocket are not the same", waktu bagi seseorang
yang berada dibumi berbeda dengan waktu bagi orang yang ada dalam
pesawat yang berkecepatan tinggi.

Perbedaan waktu yang disebut dalam ayat diatas
dinyatakan dengan angka satu hari malaikat berbanding 50.000 tahun
waktu bumi, perbedaan ini tidak ubahnya dengan perbedaan waktu bumi dan
waktu elektron, dimana satu detik bumi sama dengan 1.000 juta tahun
elektron atau 1 tahun Bima Sakti = 225 juta tahun waktu sistem solar.


Jadi bila malaikat berangkat jam 18:00 dan kembali pada jam 06.00 pagi
waktu malaikat, maka menurut perhitungan waktu dibumi sehari malaikat =
50.000 tahun waktu bumi. Dan untuk jarak radius alam semesta hingga
sampai ke Muntaha dan melewati angkasa raya yang disebut sebagai ‘Arsy
Ilahi, 10 Milyard tahun cahaya diperlukan waktu kurang lebih 548 tahun
waktu malaikat.

Namun malaikat Jibril kenyataannya dalam peristiwa
Mi’raj Nabi Muhammad Saw itu hanya menghabiskan waktu 1/2 hari waktu
bumi /maksimum 12 Jam/ atau = 1/100.000 tahun Jibril.


Kejadian ini nampaknya begitu aneh dan bahkan tidak mungkin menurut
pengetahuan peradaban manusia saat ini, tetapi para ilmuwan mempunyai
pandangan lain, suatu contoh apa yang dikemukakan oleh Garnow dalam
bukunya Physies Foundations and Frontier
antara lain disebutkan bahwa jika pesawat ruang angkasa dapat terbang
dengan kecepatan tetap /cahaya/ menuju kepusat sistem galaksi Bima
Sakti, ia akan kembali setelah menghabiskan waktu 40.000 tahun menurut
kalender bumi. Tetapi menurut sipengendara pesawat /pilot/ penerbangan
itu hanya menghabiskan waktu 30 tahun saja. Perbedaan tampak begitu
besar lebih dari 1.000 kalinya.

Contoh lain yang cukup populer, yaitu paradoks anak
kembar, ialah seorang pilot kapal ruang angkasa yang mempunyai saudara
kembar dibumi, dia berangkat umpamanya pada usia 0 tahun menuju sebuah
bintang yang jaraknya dari bumi sejauh 25 tahun cahaya.

Setelah 50 tahun kemudian sipilot tadi kembali
kebumi ternyata bahwa saudaranya yang tetap dibumi berusia 49 tahun
lebih tua, sedangkan sipilot baru berusia 1 tahun saja. Atau
penerbangan yang seharusnya menurut ukuran bumi selama 50 tahun cahaya
pulang pergi dirasakan oleh pilot hanya dalam waktu selama 1 tahun saja.

Dari contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa jarak
atau waktu menjadi semakin mengkerut atau menyusut bila dilalui oleh
kecepatan tinggi diatas yang menyamai kecepatan cahaya.


Kembali pada peristiwa Mi’raj Rasulullah bahwa jarak yang ditempuh oleh
Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad dengan Buraq menurut ukuran
dibumi sejauh radius jagad raya ditambah jarak Sidratul Muntaha pulang
pergi ditempuh dalam waktu maksimal 1/2 hari waktu bumi (semalam) atau
1/100.000 waktu Jibril atau sama dengan 10-5 tahun cahaya, yaitu kira-kira sama dengan 9,46 X 10 -23 cm/detik dirasakan oleh Jibril bersama Nabi Muhammad (bandingkan dengan radius sebuah elektron dengan 3 X 19-11 cm) atau kira-kira lebih pendek dari panjang gelombang sinar gamma.

Nah, Barkah yang disebut dalam Qur’an yang melingkupi diri Nabi Muhammad Saw,
adalah berupa penjagaan total yang melindungi beliau dari berbagai
bahaya yang dapat timbul baik selama perjalanan dari bumi atau juga
selama dalam perjalanan diruang angkasa, termasuk pencukupan udara bagi
pernafasan Rasulullah Saw selama itu dan lain sebagainya.

Jadi, sekarang kita bisa mendeskripsikan tentang
kendaraan bernama Buraq ini sedemikian rupa, apakah dia berupa sebuah
pesawat ruang angkasa yang memiliki kecepatan diatas kecepatan sinar
dan kecepatan UFO ?
Ataukah dia berupa kekuatan yang diberikan Allah kepada diri Rasulullah
Saw sehingga Rasul dapat terbang diruang angkasa dengan selamat dan
sejahtera, bebas melayang seperti seorang Superman ?


Saya sendiri berpendapat bahwa Buraq itu tentulah sebuah kendaraan
penjelajah inter dimensi yang sempurna, yang seolah hidup sehingga Nabi
Muhammad Saw mengkiaskannya sebagai suatu Dabbah.

Dabbah, sebagai suatu wahana yang sanggup membungkus
dan melindungi jasad Rasulullah sedemikian rupa sehingga sanggup
melawan/mengatasi hukum alam dalam hal perjalanan dimensi. Sekaligus
didalamnya tersedia cukup udara untuk pernafasan Nabi Muhammad Saw dan
penuh dengan monitor-monitor yang memungkinkan Nabi untuk melihat
keluar ataupun juga monitor-monitor yang bersifat "Futuristik", yaitu
monitor yang memberikan gambaran kepada Rasulullah mengenai keadaan
umatnya sepeninggal beliau nantinya.

Bukankah ada banyak juga hadist shahih yang
mengatakan bahwa selama perjalanan menuju ke Muntaha itu Nabi Muhammad
Saw telah diperlihatkan pemandangan-pemandangan yang luar biasa ?

Apakah aneh bagi anda jika Nabi Muhammad Saw telah
diperlihatkan oleh Allah (melalui monitor-monitor futuristik tersebut)
terhadap apa-apa yang akan terjadi dikemudian hari ? Apakah anda akan
mengingkari bahwa jauh setelah sepeninggal Rasul ada banyak sekali
manusia-manusia yang mampu meramalkan ataupun melihat masa depan
seseorang ?


Dalam dunia komputer kita mengenal virtual reality (VR) yaitu
penampakan alam nyata ke dalam dimensi multimedia digital yang sangat
interaktif sehingga bagaikan keadaan sesungguhnya. Apakah tidak mungkin
Rasulullah telah merasakan fasilitas VR dari Allah Swt untuk
mempresentasikan kepada kekasihNya itu surga dan neraka yang
dijanjikanNya ?

Anda pasti pernah mendengar sebutan "Paranormal" bukan ?

Jika anda mempercayai semua itu, maka apalah
susahnya bagi anda untuk mempercayai bahwa hal itupun terjadi pada diri
Rasulullah Saw, hanya saja bedanya bahwa semua itu merupakan gambaran
asli dari Allah Swt yang sudah pasti kebenarannya tanpa bercampur
dengan hal-hal yang batil.

Hal ini juga bisa kita buktikan dengan banyaknya
ramalan-ramalan Nabi terhadap keadaan umat Islam setelah beliau tiada
dan menjadi kenyataan tanpa sedikitpun meleset ?
Darimana Rasulullah dapat melakukannya jika tidak diperlihatkan oleh Allah sebelumnya ?

Mari kita sama-sama menyimak akan firman Allah berikut ini :

 

 Allah memberikan kebijaksanaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang
banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang
yang berakal.
(QS. 2:269)

Sesungguhnya orang-orang yang
beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan
jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.
(QS. 49:15)

Hikmah dalam ayat 2:269 dan ayat-ayat lainnya, saya
artikan sebagai kebijaksanaan yang diberikan oleh Allah kepada
hamba-hambaNya, kebijaksanaan ini berarti sangat luas, baik dalam
bidang ilmu pengetahuan dunia atau akhirat, sebagai perwujudan dari
Rahman dan RahimNya.

Untuk itu, buanglah semua keraguan yang ada didalam
hati kita terhadap semua yang telah dilakukan oleh Allah terhadap Nabi
dan Rasul yang dikasihiNya, baik selama peristiwa Mi’raj, sesudahnya
maupun sebelum itu, semoga kita termasuk orang-orang yang benar
sebagaimana dimaksudkan dalam ayat 49:15 diatas.

Pemandangan yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw
waktu itu juga bisa diklasifikasikan dalam golongan yang saya sebut
sebagai "wahyu visi", dimana pada Rasulullah diberitakan apa-apa yang
bakal terjadi sekaligus langsung diperlihatkan gambarannya secara jelas.

Allah menceritakan kepada Nabi akan keadaan masa depan tanpa memperlihatkan gambaran secara visual kepadanya.

Selanjutnya juga perihal tentang Hadist yang
mengatakan bahwa didalam memasuki setiap lapisan langit, Jibril meminta
izin kepada malaikat penjaga. Hal ini masih bisa diterima dengan akal
pikiran sehat dan logis.

Sekarang mari saya tuntun anda untuk memasuki pemandangan atau pendapat saya :


Didalam Hadist disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw berangkat ke Muntaha
dengan ditemani oleh malaikat Jibril yang didalam AlQur’an surah 53:6
dikatakan memiliki akal yang cerdas.
Dan dalam perjalanan itu Nabi diberikan kendaraan bernama Buraq yang kecepatannya melebihi kecepatan sinar.
Selanjutnya selama perjalanan Nabi banyak bertanya kepada malaikat
Jibril tentang apa-apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya, ini
menunjukkan bahwa Nabi dan Jibril berada dalam jarak yang berdekatan.

Sekarang,
Tidak mungkinkah Jibril ini yang mengemudikan Buraq untuk menuju ke Muntaha ?
Dalam kata lain, Jibril sebagai pilot dan Muhammad sebagai penumpang ?
Bukankah Muhammad sendiri baru pertama kali itu mengadakan perjalanan
ruang angkasa, sementara Jibril telah ratusan atau bahkan jutaan kali
melakukannya didalam mengemban wahyu yang diamanatkan oleh Allah ?

Jika dikatakan Nabi sebagai pilot, dari mana Nabi
mengetahui arah tujuannya berikut tata cara pengemudian Buraq ini,
apalagi ditambah dengan banyaknya visi-visi alias Virtual Reality yang
diberikan oleh Allah kepada beliau selama perjalanan dan
mengharuskannya mengajukan beragam pertanyaan kepada Jibril ?

Ingat, dalam hal ini semua kita pandang sebagai hal yang logis dengan memakai logika manusia biasa.
Untuk dapat mengemudikan pesawat, seseorang diharuskan untuk
mempelajari terlebih dahulu tentang segala sesuatunya, dari persiapan
pesawat, kemampuan mengemudi, kemampuan menghindarkan pesawat dari
bahaya batu ruang angkasa, komet dan benda-benda langit lainnya.

Nabi juga diharuskan konsentrasi penuh didalam
mengemudikan Buraq dan tidak dapat diganggu oleh berbagai pembicaraan
panjang lebar apalagi sampai memperhatikan visi-visi yang ada secara
jelas dan lama.

Namun jika kita kembalikan pada pendapat saya semula
bahwa Jibril dalam hal ini berlaku sebagai pilot dan Nabi sebagai
penumpang, maka semua pertanyaan dan keraguan yang timbul akan hilang.

Dalam hal ini Jibril adalah pilot terbang
berpengalaman, ia juga sangat cerdas, sementara atas diri Nabi sendiri
sudah diberikan oleh Allah Barqah disekeliling beliau, sehingga setiap
perubahan yang terjadi dalam perjalanan, seperti goyangnya pesawat,
tekanan gravitasi yang hilang, udara dan lain sebagainya tidak akan
berpengaruh apa-apa pada diri Nabi yang mulia ini.

Dan keadaan yang tanpa pengaruh apa-apa itu
memungkinkan bagi Nabi untuk mengadakan pertanyaan-pertanyaan atas
visi-visi yang dilihatnya itu sekaligus dapat melihatnya secara
jelas/Virtual Reality .

Kembali pada Jibril yang senantiasa meminta izin
didalam memasuki setiap lapisan langit kepada malaikat penjaga, itu
dikarenakan bahwa mereka tidak mengenali Jibril yang berada didalam
Buraq itu, sehingga begitu Jibril menjawab, mereka baru bisa mengenali
suaranya dan melakukan pendeteksian secara visi keadaan dalam Buraq
sehingga nyatalah bahwa yang datang itu benar-benar Jibril.


Didalam Hadist juga disebutkan bahwa malaikat penjaga langit itu juga
menanyakan tentang identitas sosok manusia yang dibawa oleh malaikat
Jibril, yang tidak lain dari Rasulullah Muhammad Saw. Dan dijelaskan
oleh Jibril bahwa Rasulullah Saw diutus oleh Allah dan telah pula
diperintahkan untuk naik ke Muntaha.
(Hadist mengenai ini diriwayatkan oleh
Bukhari-Muslim dan dinyatakan oleh jumhur ulama dari ahlussunnah
sebagai Hadist yang shahih).

Hal ini memang berkesan lucu bagi sebagian orang,
apalagi mengingat bahwa Nabi adalah manusia yang paling mulia yang
mendapatkan kedudukan terhormat yang bisa dibuktikan dengan
bersandingnya nama Allah dan nama beliau dalam dua buah khalimah
syahadat yang tidak boleh dicampuri, ditambah atau dikurangi dengan
berbagai nama lain karena tiada hak bagi makhluk lainnya mencampuri
masalah ini.

Namun justru saya melihat disitulah letak kebesaran Tuhan.
Semuanya sengaja dipertunjukkan secara ilmiah kepada Nabi agar beliau
dapat membuktikan sendiri betapa ketatnya penjagaan langit itu
sebenarnya.

Muntaha itu terletak digalaksi terjauh, dimana Adam dulunya diciptakan dan ditempatkan pertama kali bersama istrinya.

Tetapi sejak Adam bersama istrinya dan juga Jin
serta Iblis diusir oleh Allah dari sana, maka penjagaan terhadap tempat
tersebut diperketat sedemikian rupanya, sehingga tidak memungkinkan
siapapun juga kecuali para malaikat untuk dapat memasukinya, seperti
yang termuat dalam ayat ke-8,9 dan 10 dari surah 72 tersebut.

 


"…Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu." (QS. 72:9)
"…kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api."  (QS. 72:8)
"…Tetapi sekarang barang siapa yang mencoba mendengarkan tentu akan menjumpai panah api yang mengintai." (QS. 72:9)

Dalam hal ini saya mengasumsikan bahwa yang disebut
dengan lapisan langit pada Muntaha itu adalah berupa planet-planet yang
terdekat dengan "bumi-muntaha", hal ini saya hubungkan dengan
pernyataan Qur’an pada surah 72:9 bahwa Jin atau Iblis itu dapat
menduduki beberapa tempat.

Mampu menduduki tempat disana artinya mampu berdiam
ditempat tersebut, dan karena tempat itu ganda (beberapa tempat), maka
jelas tempat itu bukan Muntaha itu sendiri, namun tempat yang terdekat
dari Muntaha.

Sesuai dengan kajian saya sebelumnya, bahwa Muntaha
itu berupa bumi yang disekitarnya juga terdapat planet-planet, maka
planet-planet itulah tempat atau posisi para syaithan itu berdiam
dahulunya untuk mencuri dengar berita-berita langit.

Muntaha sendiri berarti "Dihentikan"
atau bisa juga kita tafsirkan sebagai tempat terakhir dari semua urusan
berlabuh. Tempat yang menjadi perbatasan segala pencapaian kepada Tuhan.

Sidrah berarti "Teratai"
yaitu bunga yang berdaun lebar, hidup dipermukaan air kolam atau
telaga. Uratnya panjang mencapai tanah dasar air tersebut. Bilamana
pasang naik, teratai akan ikut naik, dan bila pasang surut diapun akan
turun, sementara uratnya tetap terhujam pada tanah dasar tempatnya
bertumbuh.

Teratai yang berdaun lebar menyerupai keadaan planet
yang memiliki permukaan luas, sungguh harmonis untuk tempat kehidupan
makhluk hidup. Teratai berurat panjang mencapai tanah dasar dimana dia
tumbuh tidak mungkin bergerak jauh, menyerupai keadaan planet yang
selalu berhubungan dengan matahari darimana dia tidak mungkin bergerak
jauh dalam orbit zigzagnya dari garis ekliptik. Dan air dimana teratai
berada menyerupai angkasa luas dimana semua planet yang ada mengorbit
mengelilingi matahari.

Atau bisa juga kita tafsirkan bahwa teratai berurat
panjang mencapai tanah dasar adalah sebagai tempat dimana segala urusan
keTuhanan diatur oleh Allah kepada para malaikatNya dan air dimana
teratai berada itu adalah sebagai wilayah kekuasaan Ilahi yang Maha
Luas yang biasa kita sebut sebagai ‘Arsy Allah.

Turun naik teratai dipermukaan air berarti orbit
planet mengelilingi matahari berbentuk oval, bujur telur, dimana ada
titik Perihelion yaitu titik terdekat pada matahari yang dikitarinya,
begitupula ada titik Aphelion, titik terjauh dari matahari. Sewaktu
planet berada di Aphelionnya dia bergerak lambat. Keadaan gerak
demikian membantu kestabilan orbit setiap planet yang mulanya hanya
didasarkan atas kegiatan magnet yang dimilikinya saja.

Titik Perihelion Muntaha bisa kita tafsirkan dengan
titik terdekat semua urusan, termasuk malaikat dengan Allah, dan titik
Aphelion bisa kita tafsirkan sebagai turunnya urusan yang diembankan
oleh Allah itu menuju kepada ketetapanNya yang berarti berada jauh
meninggalkan Muntaha namun tidak berarti jauh dari Tuhan.

Selanjutnya, sebagaimana yang tercantum dalam
AlQur’an, sesampai Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin di Muntaha itu,
beliau bisa melihat malaikat Jibril kembali kedalam bentuknya yang asli
(surah 53:13-14).
Ini berarti bahwa dalam perjalanan dari bumi hingga Muntaha, Jibril masih dalam wujudnya yang lain !

Muncullah berbagai pikiran dalam benak anda, bahwa
dengan pendapat saya ini, seolah saya mengatakan bahwa Allah juga
bertempat tinggal di Muntaha itu. Dan Allah terikat dengan ruang dan
waktu

Sama sekali tidak demikian.
Apakah anda juga akan berpandangan bahwa Allah itu bertempat diatas
awan sebab ada ayat dalam AlQur’an bahwa Allah menampakkan dzatNya
kepada sebuah bukit yang akhirnya hancur luluh dan menyebabkan Nabi
Musa as jatuh pingsan ? (QS. 7:143)

Bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut ?

Tentu anda akan menjawab bahwa Allah tidaklah berada
diawan hanya karena Dia menampakkan dzatNya kepada bukit tersebut atas
permintaan Nabi Musa, nah begitu juga halnya dengan saya.

 


"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa
yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada
urat lehernya."
(QS. 50:16)

Allah tidak berarti berdiam di Muntaha, meskipun
Muntaha itu merupakan bumi terjauh dan terpinggir dalam bentangan alam
semesta sekaligus sebagai dimensi tertinggi, dimana mayoritas malaikat
berada disana sembari memuji dan bertasbih kepada Allah, ia hanyalah
sebagai suatu tempat ciptaan Allah yang pada hari kiamat kelak akan
dileburkan pula dan semua isinya, termasuk para malaikat itu akan mati
kecuali siapa yang dikehendakiNya saja (QS. 27:87), hanya Allah sajalah
satu-satunya dimensi Tertinggi yang kekal dan abadi (QS. 2:255).

Delapan Kado Terindah

Wednesday, August 17th, 2005


Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa
menghadiahkannya setiap saat, dan tak perlu membeli !
Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah
terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda
sayangi.

KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang
tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir
dihadapannya lewat surat,telepon, foto atau faks.
Namun dengan berada disampingnya. Anda dan dia dapat
berbagi perasaan, perhatian , dan kasih sayang secara
lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas
kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai
pembawa kebahagian.
NB.: pantes ya.. setiap kali hari raya keagamaan,
orang selalu berbondong-bondong mudik…

MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab,
kebanyakan orang lebih
suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama
diketehui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia
amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan.
Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan
perhatian pada segala ucapannya, secara taklangsung
kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan
hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda
dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap
utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu
menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia
menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan
yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi
atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan
terdengar manis baginya.

D I A M
Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan.
Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau
membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam
juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang
karena memberinya \" ruang\". Terlebih jika sehari-hari
kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur,
mengkritik bahkan mengomeli.

KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak
penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang
bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang
jika kita selalu mengekangnya ? Memberi kebebasan
adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan
bukanlah, \"Kau bebas berbuat semaumu.\" Lebih dalam
dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya
kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala
hal yang ia putuskan atau lakukan

KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi
tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ?
(eh..)Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado
lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap
hari ! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun
bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan
bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan
yang tertata indah, misalnya.

TANGGAPAN POSITIF
Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif
terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita
sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya
dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba
hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan
tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu
terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal
yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula,
pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima
kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf ), adalah
kado cinta yang sering terlupakan.

KESEDIAAN MENGALAH

Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran.
Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya
Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta
dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan
itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap
memberikan kado \" kesediaan mengalah\". Okelah, Anda
mungkin kesal atau marah karena dia telat datang
memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali
itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang
berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah sudah dapat
melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari
bahwa tidak ada manusia yang sempurna didunia ini.

SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa.
Senyuman,terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa
menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat
dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan
obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan
isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling
kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman
manis pada orang yang dikasihi ?

Janji Allah Bagi Orang Yang Akan Menikah

Friday, August 12th, 2005

Janji Allah Bagi Orang Yang Akan Menikah

1. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan
laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan
wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki
yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)
Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah
sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh,
jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik
buat kita. Amin.

2. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan
orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan
mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi
Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan
menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan
anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada
perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah
yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, “apa
cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.

Ayat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah
ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan
kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi
nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga.
Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan
menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para
pemuda bertambah – dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan
anak-anaknya, maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah
kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin
tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki
yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?

3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu
seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya
supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara
kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits
no. 2518, dan Hakim 2: 160) [1]

Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka
berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan
pertolongan Allah itu pasti datang.

4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

5. “Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri
dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’
”. (Al Mu’min : 60)

Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah
niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa
memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut,
dan seterusnya.

Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya
adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat,
mengangkat kedua tangan, dll. [2]

Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya
adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah
‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia [3], pada waktu antara adzan dan
iqamah, pada waktu turun hujan, dll. [4]

Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan
dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha
yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dan lain-lain. [5]

Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah,
mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha
Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.

Sebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi
ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga
yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh
Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras
dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan
sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh
malam”. (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad). [6]

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maka
janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu.” (Shahih riwayat Muslim juz
7 hal. 35). [7]

Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya
jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah
(hukumnya) syirik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu
Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim). [8]

6. ”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. (Al Baqarah : 153)
Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar
datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan
Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai
Sunnahnya dan terbebas dari bid’ah-bid’ah.

7. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 –
6)
Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak
kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik
sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada
kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat Alam
Nasyrah.

8. “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah,
niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)

Agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menolong kita, maka kita tolong agama
Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah
Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu
penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.

9. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj :
40)

10. “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah : 214)

Itulah janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun
Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih
sayang Allah yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka
kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.

Kekayaan, Kesuksesan dan Cinta

Friday, August 12th, 2005

Suatu
ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah,dan ia melihat ada 3
orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan.
Wanita itu tidak mengenal mereka
semua. Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda
semua pasti sedang lapar.Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk
menganjal perut. Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu
sudah pulang? Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar. "Oh
kalau begitu, kami tak ingin masuk.

Kami akan menunggu sampai suami mu kembali, katapria itu. Di waktu senja, saat
keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang
suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya,
"Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk
untuk menikmati makan malam ini.

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir
bersamaan."Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.

Salah seorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan,"katanya sambil
menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, dan "sedangkan yang ini
bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya.

Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa
diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.

Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya
pun merasa heran. "Ohho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba
kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan
Kekayaan. Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "sayangku,
kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk
membantu keberhasilan panen gandum kita. "Ternyata, anak mereka
mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke
dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk
ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta.
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak
masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam
kita.

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara
Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.
Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..ternyata, kedua pria
berjanggut lainnya pun ikut serta.

Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.
"Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut
juga? Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda
mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di
luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi,
kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan
Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan
hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada
jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat
berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.