Memahami peristiwa Mi’raj Rasulullah Saw ke 2
Monday, August 22nd, 2005
Subhanallazi Asro bi’abdihi laylam minal masjidil harom mi ilal
masjidil aqshollazi barokna haw lahu linuriyahu min ayatina innahu
huwassami’ul basyir
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS. 17:1)
Pada ayat suci ini terdapat beberapa istilah yang harus dipahami dengan
sesungguhnya, tidak mungkin diartikan sambil lalu saja. Istilah-istilah
itu ialah :
Maha Suci Allah :
Dalam menyampaikan berita terjadinya peristiwa Mi’raj ini, Allah
memulainya dengan kata-kata "Subhana" (Maha suci) … kata-kata
"Subhana" ini akan memberikan pengertian dalam hati seseorang bahwa
disana ada kekuatan yang jauh dari segala macam perbandingan, kekuatan
yang jauh melampaui segala kekuatan manusia dimuka bumi.
Maka makna kata "Subhanallah"
ialah bahwa Allah itu Maha Suci DzatNya, SifatNya dan PerbuatanNya dari
segala kesamaan. Kalu ada suatu macam perbuatan atau peristiwa yang
disitu Allah mengatakan bahwa "Peristiwa itu Dia melakukan"
maka kita harus mensucikan Dia dari segala undang-undang dan ketentuan
yang berlaku untuk manusia, dan kita tidak boleh mengukur perbuatan
Allah itu dengan perbuatan kita. Oleh karena itulah maka surat ini
dimulaiNya dengan kata-kata "Subhana" (Maha Suci) sehingga akan timbul
kesan didalam hati manusia bahwa peristiwa itu benar-benar peristiwa
ajaib dan diluar jangkauan akal dan kemampuan manusia.
"Subhana" berarti juga "tanzih" (mensucikan).
Apabila Allah mengatakan "Subhana" berarti mensucikan perbuatan-Ku dari perbuatan-mu wahai makhluk.
Maknanya bahwa undang-undang atau ketentuan yang berlaku bagi
"Perbuatan" Allah tidak sama dengan ketentuan yang berlaku bagi
"Perbuatan" makhluk-makhlukNya.
Yang memperjalankan :
Subjek dari "Yang memperjalankan" dalam hal ini adalah Allah, dengan kalimat : "Al-Ladzii asraabi.."
Dalam ayat 8/70 dan 8/67 terdapat pula istilah "Asraa" yang artinya
"tawanan", berupa kata benda, noun atau isim. Dalam konteks ayat 17/1
ini, kita mengartikan "Asraabi" dengan "Memperjalankan dalam penjagaan"
sebagai kata kerja, verb atau fi’il. Hal ini dapat dibandingkan pada
maksud ayat 26/52 dimana terdapat istilah yang sama tetapi fi’il amar
untuk memperjalankan Bani Israil dengan penjagaan untuk menyeberangi
laut merah.
Kalimat ini memberi pengertian
bahwa Nabi Muhammad Saw itu di Asraa kan dalam pengertian di mi’rajkan
oleh Allah, bukan Asraa dengan sendirinya alias kehendak Muhammad
sendiri dan juga bukan atas kepintaran yang ada pada diri Nabi
Muhammad, tetapi dengan keilmuan dan kekuasaan Allah yang
memperjalankannya.
Hamba-Nya :
Dalam ayat ini Allah tidak menyebut lafal "RasulNya" atau lafal "Muhammad", tetapi disebutNya dengan lafal Bi’abdihi, yaitu dengan sifat "Ubudiyah" atau Penghambaan
kepada Allah yang mana hal ini merupakan pintu datangnya karunia Allah,
sebab semua Nabi dan Rasul yang nota bene merupakan panutan umat,
diutus untuk membenarkan atau meluruskan cara penghambaan kita kepada
Allah.
Kata sifat "Ubudiyah" atau
penghambaan ini adalah kata-kata yang pahit, kata-kata yang sulit dan
kata-kata yang dibenci oleh manusia, apabila terjadi antara sesama
makhluk, antara yang satu terhadap yang lain, karena dengan demikian
maka makhluk yang satu akan menjadi hamba bagi makhluk yang lain. Dan
ini mengharuskan sihamba mencurahkan segala baktinya, semua tenaga dan
kemampuannya kepada tuannya.
Tetapi penghambaan dari makhluk
terhadap Al-Khaliq justru sebaliknya, yaitu Al-Khaliq yang dipertuan
itulah yang akan memberi karunia kepada orang yang menghambakan diri
kepadaNya.
Karena itu maka ubudiyah disini adalah suatu kemuliaan, manakala
pengabdian itu meningkat maka pemberian karunia dari Allah Yang Maha
Suci itu ditingkatkan pula.
Ini juga yang terjadi pada diri Nabi Isa as. putra Maryam yang disebutkan oleh Allah dalam surah 4:172 :
Layyastanifa almasihu ayyakuna ‘abda lillahi walal mala’ikatul mukarrobun
"AlMasih tiada enggan menjadi hamba bagi Allah, demikian pula para malaikat yang dekat."
(QS.4:172)
Disamping itu, kata-kata
"Bi’abdihi" ini dapat dipakai untuk memberikan jawaban penolakan atas
orang yang berpendapat bahwa perjalanan malam Nabi Muhammad Saw ini
hanya terjadi dengan ruhnya saja tanpa dengan jasadnya, sebab kata-kata
"abd" (hamba) itu dipakai untuk ruh beserta jasadnya sekaligus, bukan
untuk ruh saja atau jasad saja, sehingga tidak ada orang yang
mengatakan ruh itu sebagai "abd" atau jasad yang tidak ber-ruh sebagai
‘abd.
Pada suatu malam :
Jelas sudah, bahwa Nabi Muhammad Saw telah diperjalankan oleh Allah pada waktu malam hari.
Lalu kenapa mesti malam hari Rasul diberangkatkan ? Dapatkah kita jelaskan secara ilmiah, logis dan kejiwaan ?
Disini kita sudah sepakat bahwa Rasulullah diperjalankan secara logis,
secara nyata dan real, maka sekarang kita akan berangkat pada
keterangan yang juga logis dan ilmiah serta mengena kepada ilmu
kejiwaan.
Sekarang coba anda perhatikan kembali ayat ke-14 dan ke-15 dari surah An Najm (53) yang telah saya cantumkan pada bagian awal :
14. Di Sidratil Muntaha. ![]()
15. Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal,
Dan kemudian silahkan juga
memperhatikan ayat-ayat berikut yang sudah pernah kita kemukakan pada
pembahasan masalah Adam yang lalu :
"Maka Kami berkata:"Hai Adam,
sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka
sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari Jannah,
yang menyebabkan kamu menjadi aniaya. Sesungguhnya kamu tidak akan
kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan kamu tidak akan
merasa dahaga dan tidak akan kepanasan".
(QS. 20:117-119)
Rasanya cocok sekali jika kita
menghubungkan antara Jannah yang termaktub dalam ayat ke-15 surah 53
itu dengan Jannah dimana dulunya Adam dan istri pernah tinggal sebelum
"diterbangkan" keplanet bumi.
Coba perhatikan dengan baik, Jannah tempat dimana Adam berada itu
dikatakan tidak akan merasa kepanasan, dan saya mengasumsikan bahwa
Jannah itu letaknya ada di Muntaha dimana Rasulullah Muhammad Saw
melakukan perjalanannya pada peristiwa Mi’raj.
Jadi, Muntaha itu adalah nama
sebuah tempat yang bisa juga sebuah planet yang berada diluar angkasa
dan untuk sementara bisa kita katakan kedudukannya berada diatas orbit
bumi, seperti halnya dengan kedudukan planet Mars, Jupiter, Saturnus,
Uranus, Neptunus dan Pluto.
Untuk jelasnya mungkin anda bisa melihat didalam "Peta Ruang Angkasa"
yang menggambarkan posisi kedudukan planet-planet dalam tata surya yang
mengelilingi matahari dalam gugusan Bimasakti. Dimana ada dua planet
yang berkedudukan dibawah orbit bumi dan dekat dengan matahari, yaitu
Merkuri dan Venus.
Planet bumi kita ini jaraknya dengan matahari adalah 150 Juta Km dengan lamanya waktu mengelilingi matahari dalam 365,25 hari.
Bandingkan dengan planet Pluto
sebagai planet terjauh yang berhasil diketahui oleh para ahli tahun
1930 sampai hari ini (1998) yang memiliki jarak 5.900 Juta Km dari
matahari, bergaris tengah hanya 6.400 Km.
Jarak rata-rata Pluto dari matahari paling besar dibandingkan dengan
jarak antara matahari dengan planet lainnya. Tetapi lintasan edar Pluto
agak "unik" dan menyilang lintasan planet Neptunus. Akibatnya, Pluto
kadangkala beredar/mengembara disebelah dalam lintasan orbit Neptunus.
Pluto akan mencapai titik
terdekat dengan kita ditahun 1989 yang lalu, kemudian menjauh dan titik
terjauh akan dicapainya pada tahun 2113 yang akan datang.
Sangat sedikit memang yang kita
ketahui mengenai Pluto, namun ada dugaan bahwa planet itu terdiri dari
material yang sangat padat.
Dan para ahli ditahun 1972
memperkirakan bahwa adanya planet diluar lintasan Pluto, pada jarak
kurang lebih 9.660 juta-juta kilometer.
Gaya tarik gravitasi planet tersebutlah yang menyebabkan perubahan
kecil pada lintasan beberapa komet. Dengan cara yang sama pula
kehadiran Pluto telah diduga 15 tahun sebelum penemuannya, yaitu
setelah penelaahan atas perubahan pada lintasan orbit Neptunus
|
|
Nazwar syamsu, seorang penulis buku-buku seri Tauhid dan logika (Sekarang dilarang beredar) yang juga menjadi salah satu buku acuan saya didalam mengemukakan pendapat, pernah menyimpulan, bahwa planet tersebut adalah Muntaha yang dimaksudkan oleh Qur’an sebagai tempat Mi’rajnya Nabi Muhammad Saw.
|
Landasan Nazwar Syamsu
berpendapat begitu karena menurutnya, planet ke-10 tersebut letak
orbitnya yang berada diatas orbit planet bumi kemudian juga jaraknya
yang jauh dari matahari kita yang dicocokkannya dengan bunyi ayat
ke-119 dari surah An Najm yang menyatakan bahwa Adam tidak akan
kepanasan disana (yang diasumsikan sebagai panasnya sinar matahari),
serta pasnya penomoran Qur’an dengan 7 lapis langit yang ada diatas
kita (yang diterjemahkannya dengan 7 buah planet yang mengorbit diatas
bumi).
Masing-masing planet yang ada diatas orbit bumi itu ialah :

- Mars
- Jupiter
- Saturnus
- Uranus
- Neptunus
- Pluto
- Muntaha
‘Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa Nabi Muhammad Saw
pernah melihat Tuhannya, maka ia pasti berdusta.’ Lalu ‘Aisyah membaca
ayat yang artinya :
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata,
sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha
Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:103)
‘Barangsiapa yang memberitahukan kepadamu bahwa ia dapat mengetahui apa
yang akan terjadi esok hari, pastilah ia berdusta,’ Lalu ‘Aisyah
membacakan ayat yang artinya :
Tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakan besok hari. (QS. 31:34)
‘Barangsiapa yang mengatakan padamu bahwa ia (Rasulullah)
menyembunyikan sesuatu dari wahyu, maka pastilah ia berdusta.’ Lalu
‘Aisyah membacakan ayat yang artinya :
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. (QS. 5:67)
Dan dasar dari pemahaman beliau
adalah dari ayat Qur’an yang memang banyak sekali mengungkapkan tentang
adanya 7 langit atau terkadang disebut dengan tujuh jalan yang
diciptakan oleh Allah Swt.
Satu diantaranya adalah sbb :
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis dan
kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha
Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang,
adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?"
(QS. 67:3)
Dan yang menjadi alasan kenapa
perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw pada malam hari adalah
jika orang berangkat meninggalkan bumi pada siang hari, maka dia akan
mengarah kepada matahari yang menjadi pusat orbit planet-planet. Dan
hal itu bukan berarti "Naik" tetapi "Turun", karena semakin dekat
kepada pusat orbit atau kepusat rotasi, maka itu berarti turun,
sedangkan Muhammad menyatakan beliau telah naik waktu mengalami Asraa
(perjalanan) itu.
Ayat 17/11 yang sedang kita
analisis ini menyatakan bahwa Muhammad dari Masjidil Haraam dibumi naik
ke Muntaha, yang mana untuk sementara ini kita simpulkan dulu bahwa
kedudukan Muntaha itu mengorbit diatas bumi dan bukan dibawah bumi.
Kalau orang naik dari bumi menuju Muntaha hendaklah dia berangkat waktu
malam yaitu bergerak dengan menjauhi matahari selaku titik yang paling
bawah dalam tata surya kita.
Orang mengetahui bahwa semesta, galaksi, tata surya dan planet, masing-masingnya mengalami perputaran.
Setiap putaran tentunya memiliki pusat putaran yang langsung menjadi
pusat benda angkasa itu. Semuanya bagaikan bola atau roda yang
senantiasa berputar. Maka sesuatu yang menjadi pusat putaran dikatakan
paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat putaran dinamakan semakin
atas.
Dalam hal ini keadaan dibumi dapat dijadikan contoh.
Pusat putaran bumi dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat itu dikatakan semakin atas.
Akibatnya, orang yang berdiri di Equador Amerika dan orang yang berdiri
dipulau Sumatera, pada waktu yang sama, akan menyatakan kakinya kebawah
dan kepalanya keatas, padahal kedua orang tersebut sedang mengadu
telapak kaki dari balik belahan bumi, tetapi masing-masingnya ternyata
benar untuk status bawah dan atas yang dipakai dipermukaan bumi ini.
Demikian juga jika contoh itu
dipakai untuk status tata surya dimana matahari sebagai bola api
langsung bertindak jadi pusat kitaran ataupun peredaran.
Karenanya matahari dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari matahari dinamakan semakin atas.
Venus dan Mercury berada dibawah orbit bumi karena keduanya mengorbit
dalam daerah yang lebih dekat dengan matahari, jadi jika ada penduduk
bumi yang pergi ke Venus, Mercury atau Matahari, maka orang tersebut
turun bukan naik, karenanya Venus dan Mercury tidak
mungkin disebut sebagai langit bagi planet bumi kita, sebab yang
dikatakan langit adalah sesuatu yang berada dibahagian atas, tetapi
benar kedua planet itu menjadi langit bagi matahari sendiri.
Dr. Maurice Bucaille, salah seorang pakar Islam yang terkenal dengan bukunya Bibel, Qur-an dan Sains Modern, mengemukakan bahwa AlQur’an menamakan planet dengan kata "KAUKAB", dimana kata jamaknya adalah "KAWAKIB."
Begitupula dengan arti yang
diberikan oleh Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, karangan
Achmad Warson Munawwir terbitan Pustaka progressif, menyatakan Kaukab
(single) dan Kawakib (plural) itu dengan dua arti, yaitu bisa berarti
planet dan bisa juga berarti bintang.
Dr. Maurice Bucaille menambahkan,
bahwa bumi adalah salah satu dari planet-planet tersebut dan jika ada
orang menduga akan adanya planet lain diluar orbit pluto (Dalam hal ini
untuk gugusan Bimasakti), maka planet itu harus ada dalam sistem
matahari juga.
Saya pribadi cenderung menyetujui
pendapat dari Dr. Muhammad Jamaluddin El-Fandy, seorang sarjana Islam
kenamaan yang menuliskan buku Al-Qur’an tentang alam semesta (judul aslinya : On cosmic verses in the Quran) bahwa yang disebut dengan langit atau dalam bahasa Qur’an adalah Sama’, ialah :
Setiap sesuatu
yang kita lihat tentang benda-benda yang berada diangkasa, seperti
matahari, bintang dan planet sampai jauh kedalam ruang alam semesta
raya, yang bersama-sama dengan bumi membentuk satu kesatuan yang kokoh
dan merupakan keseluruhan alam wujud, itulah langit.
Adapun angka 7 yang dipakai didalam AlQur’an sebanyak 24 kali adalah untuk maksud yang bermacam-macam. Seringkali angka 7 ini berartikan "Banyak" tetapi kita umat Islam tidak tahu dengan pasti, apa maksud dengan dipakainya angka tersebut oleh Allah.
Sementara itu, bagi orang-orang Yunani dan orang-orang Romawi, angka 7 ternyata juga mempunyai arti "Banyak" dalam makna jumlah yang tidak ditentukan.
Dalam Qur’an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada
langit (Sama’), angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan adanya 7
jalan diatas manusia.
Rasanya terlalu kaku untuk
mengatakan bahwa Muntaha itu letaknya berada diluar orbit Pluto dan
merupakan planet yang ke-10 dalam lingkungan tata surya kita atau
merupakan planet ke-7 yang berada diatas orbit bumi.
Hal ini akan saya uraikan lagi pada penjelasan mengenai arti "Masjidil Haraam dan Masjidil Aqsha".
Saya lebih cenderung
mengartikannya sebagai sebuah planet yang keadaannya tidak berbeda jauh
dengan bumi tempat kita tinggal saat ini, dimana disana juga ada
peredaran benda-benda langit yang mengelilingi sebuah matahari. Dan
yang jelas, planet "bumi" Muntaha ini letaknya diluar galaksi Bimasakti
kita.
Dia bisa terletak digugusan bintang mana saja didaerah alam semesta yang sangat luas.
Dan pernyataan bahwa Muntaha dan Jannah yang berkedudukan diatas bumi, itu memang benar, memang mereka berkedudukan diluar bumi.
Juga pernyataan Allah pada ayat
2:36 mengenai kata "Ihbithu" seperti yang pernah kita bahas pada waktu
pengupasan masalah Adam pada artikel sebelumnya dan akan kita ulangi
sedikit disini adalah benar.
"Pergilah !" itu adalah kalimah perintah, dan dalam bahasa Qur’annya adalah "ih bithu" , dan arti sebenarnya adalah : "Turun dari tempat yang tinggi.", seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti "Pindah dari satu tempat kesatu tempat lain." Dan karenanya ada juga penafsir yang memakai kata "Turunlah" saja.
Allah menyuruh Adam dan istri
untuk turun dari tempat yang tinggi, yaitu Muntaha (dimana nantinya
juga Muhammad akan kembali kesana dan berada pada ufuk yang tinggi
tersebut), ini bisa kita tafsirkan bahwa saking tingginya, atau saking
jauhnya letak Muntaha yang ada Jannah tersebut, maka Allah menggunakan
kata "Ih bithu" atau Turunlah ! Atau berpindahlah dari sini kesana.
Kembali pada permasalahan kita
semula, yaitu kenapa perjalanan Nabi Muhammad Saw itu dilakukan pada
waktu malam hari dan tidak pada waktu lainnya (pagi, siang, sore).
Saya berpendapat, bahwa salah satu alasan logis lain yang bersifat
kejiwaan disamping alasan yang dikemukakan oleh Nazwar Syamsu adalah
pada malam hari, keadaan diliputi oleh ketenangan, apalagi jika kita
mengilas balik seperti apa kira-kira keadaan Arabia pada masa itu jika
malam menjelang.
Selain itu, suasana malam adalah
suasana yang khyusuk didalam beribadah, suasana dimana manusia
menghentikan kegiatan mereka untuk sementara waktu dan mengistirahatkan
pikiran dan jiwa mereka dari kesibukan sehari-hari, dan merupakan
suasana yang sangat hening yang membantu menciptakan kondisi yang cocok
bagi upaya mendekatkan diri kepada Allah.
AlQur’an memberikan petunjuk yang
jelas bahwa saat terbaik upaya ibadah yang berkualitas ialah pada waktu
malam hari. AlQur’an mencatat suasa malam itu untuk menjalin hubungan
yang terbaik dengan Allah :
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQur-an) pada malam kemuliaan."
(QS. 97:1)
Untuk ibadah, shalat tahajud,
saat-saat terbaik merasakan kelezatan malam sekitar bagian ketiga
menjelang fajar. Jauh dari rasa riya’ dan ujub serta takabur karena
tidak ada orang lain yang mengetahuinya.
"Berdirilah melakukan shalat malam hari, walau jangan hendaknya seluruh malam itu, separuhnya saja atau kurang dari itu."
(QS. 73:2,3)
"Sesungguhnya bangun waktu malam itu adalah paling baik dan cocok untuk shalat dan paling baik untuk memuji Allah."
(QS. 73:6)
"Sesungguhnya pada pertukaran
malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di
bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertaqwa."
(QS. 10:6)
Dari Masjidil haraam ke Masjidil Aqsha :
Dimulainya perjalanan Nabi Muhammad Saw adalah dari Masjidil Haraam, yaitu kota Mekkah Almukarromah menuju ke Masjid Al-Aqsha.
Seperti yang diketahui bersama,
Masjidil Haraam adalah rumah peribadatan yang pertama kali dibangun
untuk manusia oleh Allah Swt yang akhirnya dasar-dasarnya ditinggikan
oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya, Nabi Ismail as., Tempat tersebut
juga merupakan awal bertolaknya dakwah serta tempat berdomisilinya
Rasulullah Saw.
Tetapi benarkah pendapat umum
yang menyatakan bahwa dari Masjidil Haraam, Mekkah AlMukarromah, Nabi
Muhammad Saw pernah melakukan kunjungan ke Masjidil Aqsha yang terletak
di Palestina ?
Setelah sekian lama saya mencoba
menyelidiki, mendalami, dan menganalisa serta mempertimbangkan dari
beberapa sudut keilmuan modern dan pendapat para alim ulama, akhirnya
saya berkesimpulan bahwa Masjidil Aqsha tempat Nabi Muhammad Saw
melakukan "kunjungan" itu TIDAK TERLETAK DIBUMI.
Masjid Al-Aqsha sendiri waktu itu belumlah ada, yang ada di Bait Al-Maqdis di Palestina adalah Haikal Sulaiman.
Ada sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari yang menyatakan bahwa
ketika kaum Quraisy bertanya kepada Nabi Saw perihal keadaan Bait
Al-Maqdis, Beliau sempat terdiam dan bahkan bimbang, hal ini
membuktikan bahwa memang Rasul tidak pernah pergi kesana malam itu,
melainkan pergi ke "Masjid Al-Aqsha" yang terletak di Muntaha.
"Kaum Quraisy menanyakan kepadaku tentang perjalanan Israa’, aku ditanya tentang hal-hal di Bait Al-Maqdis, tidak dapat aku menerangkannya sampai-sampai aku bimbang.
Tatkala kaum Quraisy mendustakanku, aku berdiri di Hijr lalu Allah Swt
menggambarkan dimukaku keadaan di Bait Al-Maqdis dan tanda-tandanya
hingga mampu aku menerangkannya kepada mereka seluruh keadaan.
(Diriwayatkan Bukhari)
Mari sekarang sama-sama kita tinjau dulu dari segi bahasa,
Arti dari "Masjid" itu sendiri adalah tempat bersujud, dan sujud ini
adalah merupakan risalah setiap Nabi dan Rasul Allah sebelum periode
Muhammad Saw.
Dari AlQuran beberapa diantaranya
adalah ketika Allah memberikan firmanNya kepada Ibrahim sewaktu
meninggikan Ka’bah bersama puteranya, Ismail (2:125), Siti Maryam
(3:43), Firman Allah kepada Bani Israel (2:58), adanya beberapa
golongan Ahli kitab yang mengEsakan Allah (3:113), Nabi Musa dan
umatnya (4:154), Nabi Daud (38:24) dan lain sebagainya.
Dari Bible :
Mazmur 96:6
"Marilah kita menyembah dan bersujud; marilah kita berlutut kepada Tuhan yang menciptakan kita."
Yoshua/Yusak 5:14
"… maka Yusak pun tersungkur dengan mukanya ketanah sambil menyembah sujud…"
Raja-raja I:18:42
"…tetapi Elia naik keatas kepuncak Karmel, lalu tunduk sampai ketanah dengan mukanya ditengah-tengah lututnya."
Bilangan 20:6
"Maka pergilah Musa dan Harun dari hadapan orang banyak itu kepintu
kemah perhimpunan, lalu keduanya menyembah sujud. Maka kemuliaan Tuhan
kepada mereka itu."
Kejadian 17:3
"Lalu sujudlah Abraham dengan mukanya sampai kebumi…"
Nah, dari itu semua jelas bahwa
para nabi dan umat sebelum Muhammad Saw sudah melakukan penyembahan
kepada Allah dengan cara rukuk dan sujud. Lalu tata cara penyembahan
ini disempurnakan lagi oleh Allah kepada Muhammad Saw serta umatnya
dengan cara ibadah Sholat sebagaimana yang kita lihat sekarang.
Jadi, kata "Masjid" sebenarnya adalah tempat yang digunakan sebagai tempat bersujud.
Mari kita lihat juga pada kisah Ash-habul Kahfi :
La nat takhiizanna ‘alaihim masjida
"Sesungguhnya kami akan mendirikan masjid ditempat mereka itu".
(QS. 18:21)
Padahal kita semua tahu bahwa
masjid dalam pengertian nama bagi suatu bangunan ibadah hanya terdapat
pada periode Nabi Muhammad Saw, sementara itu kisah Ash-habul Kahfi
telah terjadi ratusan tahun sebelumnya.
Aqsha bukanlah nama, arti Masjidil Aqsha adalah Masjid yang jauh atau Tempat sujud yang terjauh.
Dan masih ingatkah anda tentang Jannah dimana disana Adam dihormati oleh semua Malaikat dan Jin dengan cara bersujud ?
Yap, memang itulah tempat yang saya maksudkan.
Masjidil Aqsha yang menjadi tempat tujuan Rasulullah Muhammad Saw
adalah Tempat bersujudnya para Malaikat terhadap Adam sekaligus menjadi
tempat bersujudnya Nabi Muhammad Saw kepada Allah pada saat beliau
menerima perintah shalat yang letaknya sangat jauh dari bumi dan
terdapat di Muntaha.
Adam as., adalah khalifah manusia
yang dipilih oleh Allah untuk planet bumi, sekaligus menjadi nenek
moyang manusia semuanya, dan Muhammad Saw adalah Nabi Allah yang
terakhir untuk manusia yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.
Allah telah mengawali penciptaan Adam selaku khalifah pertama manusia
bumi kita ini sekaligus Nabi pertama dengan meletakkannya di dalam
Jannah yang ada di Muntaha, dan menutupnya dengan pengiriman Muhammad
selaku Nabi terakhir untuk kembali melihat Kampung Halaman kita di Muntaha yang Jannah ada didekatnya.
Cukup logis saya rasa penjelasan saya ini, dan jauh dari sifat yang mengada-ada serta tidak jelas.
Perjalanan Nabi dalam Mi’raj itu
selaku ujian atas kecerdasan manusia dibidang keilmuan dan kehidupan,
ayat 17/1, 53/1 s.d 18 serta ayat 17/60, dan semua itu terbatas hingga
Muntaha dengan pengertian bahwa peradaban manusia ini umumnya sampai
nanti tidak akan menyimpang dan tidak melampaui dari apa yang sudah
dicapai oleh Muhammad Saw dalam Mi’rajnya.
Dan karenanya saya sangat tidak
sependapat dengan Nazwar Syamsu yang mengatakan bahwa Muntaha adalah
planet ke-7 diatas orbit bumi dan hanya sampai disitulah tempat manusia
bisa menjelajahi angkasa raya.
Padahal Allah justru menganjurkan
kepada manusia untuk dapat menjelajahi kebagian mana saja dari langit
dan bumi ini, asalkan mereka memiliki sulthaan yang artinya kekuatan
atau kesanggupan atau juga bisa diartikan tekhnologi.
Hai jama’ah jin dan manusia, jika
kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu
tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan".
(QS. 55:33)
Dalam ayat tersebut Allah menyuruh tidak hanya kepada umat manusia saja, namun juga melingkupi umat Jin.
Dan Allah tidak berkesan membuat pembatasan-pembatasan terhadap
"langit-langit tertentu" yang dapat ditembusi oleh manusia dan Jin.
Makanya saya lebih cenderung berpendapat bahwa Muntaha itu letaknya
diluar galaksi kita sekarang ini, yang jaraknya jutaan tahun cahaya.
Sesungguhnya angkasa raya itu sangatlah luas dan terdiri dari ribuan
juta galaksi.
Matahari kita adalah satu
diantara 100.000 juta bintang yang berada didalam suatu putaran spiral
maha besar yang kita sebut dengan Galaksi kita.
Beberapa ribu buah bintang diantaranya dapat kita saksikan pada malam yang cerah.
Pada bagian langit atau angkasa tertentu, tampak sedemikian banyak
bintang, hingga menyerupai sejalur pita putih yang kita sebut dengan
Bimasakti.
Galaksi kita bergaris tengah satu
juta juta Kilometer. Para astronom lebih senang menyatakan jarak
sebesar itu dalam satuan tahun cahaya, yaitu jarak yang ditempuh oleh
berkas cahaya dalam ruang selama setahun.
Dengan laju 300.000 kilometer tiap detik, berkas cahaya memerlukan
waktu 100.000 tahun untuk melintasi Galaksi kita. Oleh sebab itu garis
tengah Galaksi juga dikatakan sebesar 100.000 tahun cahaya.
"Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.
Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya
benar-benar meliputi segala sesuatu."
(QS. 65:12)
Disini saya cenderung mengambil makna angka 7 dalam ayat Qur’an yang menunjukkan atas langit dan bumi sebagai pengertian "Banyak" . Dan memang benar begitulah kenyataannya
Galaksi terdekat dengan kita adalah berjarak 170.000 tahun cahaya.
Dan diperkirakan bahwa pada setiap galaksi akan terdapat sistem matahari sebagaimana yang ada pada galaksi bima sakti kita ini.
Dan jika setiap galaksi memiliki
sistem matahari tersebut, maka tentunya keadaan dari planet-planet yang
mengitari galaksi tersebut juga tidak akab berbeda jauh dengan keadaan
planet-planet yang ada dalam wilayah galaksi Bima sakti.
Maka untuk kesekian kalinya,
benarlah firman Allah diatas, bahwa Allah telah menjadikan banyak
sekali (diwakili oleh angka 7) bumi-bumi didalam lingkungan
galaksi-galaksi (7 langit) yang berada diruang angkasa.
Dan dibumi-bumi tersebut juga ada kehidupan layaknya kehidupan yang kita jumpai diplanet bumi kita ini.
Dan dibumi yang paling ujung atau bumi yang terjauh itulah ada Jannah
dimana Nabi Adam dulunya tinggal dan kembali dikunjungi oleh Nabi
Muhammad Saw pada saat Mi’rajnya ke Muntaha.
Setiap bumi pasti memiliki matahari, dan bumi itu sendiri akan bergerak mengelilingi matahari tersebut.
Dan Jannah, yang terdapat diMuntaha, memiliki tumbuh-tumbuhan atau
pepohonan yang sangat rimbun sekali dan subur, dipenuhi oleh
buah-buahan segar, sehingga jika kita berada didalamnya maka kita tidak
akan kepanasan serta kehausan sebagaimana firman Allah kepada Adam as.
"Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak akan kepanasan di dalamnya".
(QS. 20:119)
Pada abad ke-18, William Herschel menyatakan bahwa sebagian dari apa
yang disebut nebula pada kenyataannya adalah pulau alam semesta.
Pulau-pulau tersebut sebenarnya merupakan tatanan bintang paripurna
yang berada jauh dari galaksi kita. Makin banyak pembuktian yang
dikumpulkan oleh Astronom pada abad ke-19 mendukung teori tersebut.
Pada tahun 1917, teleskop raksasa baru di Mount Wilson, California,
memperlihatkan bahwa "nebula" Andromeda terdiri atas kumpulan bintang.
Teori Herschel itu akhirnya dikukuhkan pada tahun 1923.
Kemudian Edwin Hubble menunjukkan bahwa gugusan bintang-bintang itu
terpisah ratusan ribu tahun cahaya dari bumi. Dengan ini terbukti pula
bahwa nebula Andromeda itu sebenarnya merupakan galaksi, yang sama
sekali terpisah dari tatanan bintang kita.
Sekarang manusia telah mengetahui
akan adanya ribuan juta galaksi. Beberapa dari padanya tidak mempunyai
bentuk tertentu; yang lain berbentuk spiral atau elips.
Galaksi kita, bersama 16 buah galaksi lainnya yang terangkum dalam jarak 3 juta tahun cahaya, disebut kelompok lokal.
Disini saya berkeinginan untuk
sedikit mengajak anda membaca sebuah penuturan dari salah satu url atau
site mengenai angkasa luar akan adanya sebuah kehidupan disalah satu
galaksi, dimana digalaksi tersebut ada juga bumi yang mengitari
matahari.
Saya sadar bahwa tulisan dari
site tersebut masih perlu untuk diragukan kebenarannya, namun dalam hal
ini, terlepas dari benar tidaknya apa yang dituliskan disana,
setidaknya kita bisa sedikit menjadikannya sebuah lintas bacaan
semata-mata. Dan tidak ada salahnya kita menghubungkannya dengan Surah
65:12 yang baru saja kita bahas.
Jika saja yang menulisnya seorang
Muslim, tentu saja saya akan berpikir dua tiga kali untuk menyadurnya,
sebab bisa saja itu adalah pendapatnya yang ditujukan untuk memperkuat
dalil-dalil AlQur’an.
Namun tidak, site ini ditulis
oleh seorang yang tidak menganut Islam, malah jangan-jangan orang
tersebut juga meragukan kepercayaan yang diyakininya.
Jadi tertutup kemungkinan bahwa ada unsur-unsur tertentu yang
berhubungan dengan Islam dan upaya penegakan Islam dari penulisan
tersebut.
Yang telah Kami berkahi sekelilingnya :
Dalam lafal Qur’annya adalah barokna haw lahu.
Disini juga orang sering mengartikan bahwa kata haw lahu atau Kami
berkahi sekelilingnya adalah diperuntukkan untuk tempat disekitar
perjalanan Rasulullah tersebut.
Namun saya mengartikannya tidak demikian.
Kata "NYA" atau lafal "HAWLAHU"
pada kata "Kami berkahi sekeliling" atau "Barokna hawlahu", sebenarnya
adalah ditujukan kepada diri Muhammad Saw sendiri.
Dalam bahasa Arab, kata "Haw laha" itu ditujukan untuk yang bergender perempuan.
Kata "Haw lahuma" itu ditujukan untuk menerangkan arti "mereka", yang maknanya lebih dari satu.
Sementara kata "Haw lahu" adalah ditujukan kepada yang bergender
jantan, dan dalam hal ini adalah diri Muhammad Saw, yang memang sebagai
seorang laki-laki.
Jadi, Istilah "disekelilingnya"
dalam ayat 17/1 ini adalah disekeliling Muhammad. Hal ini juga
dibuktikan oleh istilah lain berikutnya "Untuk diperlihatkan kepadanya."
Jadi Barkah telah diadakan disekeliling Muhammad dalam peristiwa Asraa kemasjidil Aqsha di Muntaha.
Apakah Barkah atau Barokna itu ?
Barkah adalah penjagaan, yaitu penjagaan yang melingkupi keluarga
Ibrahim pada ayat 11/73, atau yang menjaga Nabi Nuh dan beberapa
umatnya didalam perahu hingga topan besar tidak membahayakan mereka
sedikitpun pada ayat 11/48, ataupun penjagaan atas kota Mekkah seperti
yang dimaksud ayat 21/71 dan 21/81.
Malah penjagaan atau Barkah yang melingkupi diri Muhammad Saw dalam
Asraa itu, ditinjau dari segi bahasa, maka bisa kita samakan keadaannya
dengan Barkah yang melingkupi bumi ini seperti tercantum pada surah
7/96.
(Lebih jelas, lihat dalam konteks ayat-ayat aslinya)
|
|
Kita ketahui bersama, disekeliling bumi terdapat pembungkus gas yang tipis dan bening yang kita sebut dengan nama Atmosfir yang merupakan pelindung guna melindungi kehidupan terhadap kehampaan angkasa. Tanpa atmosfir, sinar matahari yang menghanguskan akan membakar semua kehidupan pada siang hari, dan pada malam hari suhu dapat turun jauh dibawah titik beku. |
Jadi, Barkah ini berupakan sesuatu yang melindungi diri Nabi Muhammad
Saw hingga beliau tidak terbentur pada meteorities yang berlayangan
diangkasa bebas serta memiliki udara cukup untuk pernafasan selama
berada diruang angkasa bebas. Dan dapat dimungkinkan perlindungan ini
berupa lapisan-lapisan Atmosfir seperti yang melingkupi bumi atau juga
semacam sebuah pesawat ruang angkasa.
Jadi
bukanlah Barkah itu ditentukan untuk Palestina sebagaimana pendapat
umum selama ini, apalagi jika dinisbatkan ke Bait Al-Maqdis atau Masjid
Al-Aqsha yang ada di Palestina sekarang.
Dan bukanlah juga Barkah itu sebagai hewan bersayap yang dikendarai Nabi dalam Asraa itu.
Masalah kendaraan yang bernama Boraq ini akan kita uraikan tersendiri secara terperinci pada pembahasan mengenai Buraq.
Sekarang,
mari terus kita lanjutkan pembahasan ayat 17/1 yang telah banyak kita
potong dengan tambahan keterangan-keterangan yang berhubungan dengannya
:
Kami perlihatkan pertanda-pertanda Kami :
Kami perlihatkan disini dapat kita synonimkan dengan "Diperlihatkan".
Yaitu, diperlihatkan kepada Muhammad yang mengandung pengertian melihat
dengan mata sendiri yaitu mata konkrit bukan dalam mimpi atau ruhnya
saja.
Dan
karena Muhammad mi’raj dengan tubuh kasarnya, untuk itu diperlukan
adanya Barkah, maka Barkah ini juga membuktikan bahwa Rasulullah itu
telah berangkat dari bumi dengan jasmani dan rohaninya, sebab itu
pantaslah dia dapat melakukan penglihatan dengan kedua matanya yang
konkrit.
Dalam membicarakan masalah Mi’raj pada surah 17 ayat 1 ini, AlQur’an menggunakan perkataan :
"Linuriyahu min aayatina" yang artinya: "untuk Kami perlihatkan
kepadanya tanda-tanda Kami" yaitu tanda-tanda kebesaran Allah (istilah
Aayat adalah jamak dari Aayah).
Sementara
didalam surah 52 (An Najm) ayat 18 seperti yang kita singgung pada awal
pembahasan, AlQur’an menggunakan perkataan : "Laqod ro-aa min aayati
Robbihi alkubroo." yang artinya: "Sesungguhnya ia telah melihat
sebagian tanda-tanda Tuhannya yang besar-besar/hebat."
Dalam
17/1 disebutkan "Iraa-ah minallah" (Diperlihatkan oleh Allah),
sedangkan didalam 53/18 dikatakan "ra-aa bi nafsihi" (melihat dengan
sendirinya).
Mari kita uraikan :
Aktifitas yang ada didalam 17/1 adalah "iraa-ah".
Apakah artinya ?
Iraa-ah adalah menjadikan orang yang tidak tahu menjadi tahu, baik
dengan merubah sesuatu yang diperlihatkan itu dengan disesuaikannya
dengan qanun (ketentuan yang berlaku) bagi orang yang melihatnya atau
juga dengan mentransfer atau mengalihkan orang yang melihatnya itu agar
ia bisa menembus qanun yang berlaku bagi sesuatu yang hendak dilihatnya
itu.
Kita ambil contoh tentang mikroskop.
Mikroskop tersebut dipakai untuk melihat sesuatu (benda) yang sangat
kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Karena kecilnya maka
seseorang tidak dapat melihat benda tersebut, tetapi setelah
mempergunakan mikroskop lalu ia dapat melihat benda kecil tersebut.
Ini
berarti menjadikan orang yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu karena
adanya lensa yang menampakkan benda-benda yang kecil menjadi besar.
Disini
benda kecil itu disesuaikan dengan qanun mata biasa, dimana menurut
qanun (ketentuan yang berlaku) mata biasa manusia hanya dapat melihat
benda-benda yang tampak (besar) saja.
Dengan
demikian maka "iraa-ah" (memperlihatkan/menampakkan) itu dapat dengan
mengadakan perubahan terhadap benda/sesuatu yang dilihatnya itu sesuai
dengan qanun orang yang melihatnya sehingga ia dapat mengetahuinya,
atau dengan memberikan sesuatu alat pada benda yang dilihatnya itu
sehingga yang bersangkutan dapat melihatnya.
Dalam
17/1 AlQur’an mempergunakan kata-kata "Linuriyahu" (untuk kami
perlihatkan), yaitu dijadikan oleh Allah bahwa Muhammad dapat melihat
sesuatu yang pada asalnya ia tidak dapat melihatnya dengan sendirinya.
Karena Nabi Muhammad Saw sebelumnya berada dimuka bumi dengan qanun
basyariah (manusiawinya) sebagai seorang manusia yang normal, secara
otomatis Nabi Muhammad Saw tidak dapat melihat bagaimana keadaan diluar
angkasa sana yang juga merupakan salah satu kebesaran Allah.
Maka
kepada Nabi Muhammad Saw diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda
kebesaran Allah yang ada diluar planet bumi ini dengan memperjalankan
beliau dengan penjagaan penuh (yang disebut dengan Barkah atau lafal
Qur’annya "Baroqna") ke Muntaha yang terletak disalah satu galaksi
terjauh dari galaksi bima sakti, tempat dimana dulunya Adam dan
istrinya pernah tinggal dan menetap.
Diperlihatkan
kepada Nabi betapa planet bumi yang kita tempati ini terdapat didalam
sebuah tata surya yang bagaikan suatu noktah kecil diantara jutaan
milyar tata surya lainnya yang juga disebut oleh para ahli dengan nama
solar system.
Begitulah perikeadaan Rasulullah Saw dalam peristiwa ardliyah, yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj ini.
Tetapi ketika Nabi Saw naik kepada ufuk (tempat) yang lebih tinggi,
tepatnya ketika beliau sudah berada di Muntaha, maka terjadilah
perubahan pada dzatiyah beliau., seolah-olah beliau telah meninggalkan
basyariahnya bertukar dengan dzatiyah malaikat yang bisa melihat segala
sesuatu disana dengan sendirinya.
Keadaan
semacam itu juga dulunya yang pernah ada pada diri Adam dan istrinya
ketika masih berada di Muntaha sebagaimana yang kita uraikan pada
artikel tersebut. Suatu keadaan dimana Adam dapat melihat para
malaikat, para Jin dan termasuk Iblis.
Makanya
untuk kasus Nabi Muhammad Saw, oleh Qur’an dikatakan : "Laqad ra-aa…
(Sungguh ia telah melihat..).", dan tidak dikatakannya sebagai :
"Ara’ainaahu …(Kami perlihatkan kepadanya)"
Jadi, pada masa perjalanan Rasul dari bumi menuju ke Muntaha, ia diperlihatkan oleh Allah
akan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah yang lainnya didalam
lingkungan semesta, dan begitu ia hampur mendekati tujuan, yaitu
Sidratil Muntaha, Allah berfirman bahwa Muhammad "ra-aa" (melihat
dengan sendirinya) .. seakan-akan Rasulullah Saw dengan qanun basyariah
sebelumnya (dari bumi hingga menjelang tiba) telah mengalami perubahan
dimensi, yaitu suatu penyesuaian terhadap lingkungan barunya sehingga
ia bisa menyaksikan peristiwa-peristiwa yang ada disana (Muntaha)
secara langsung.
Kita
semua tahu, bahwa Rasulullah Muhammad Saw adalah juga manusia biasa
yang memiliki keterbatasan didalam segala hal, karena yang tidak
terbatas itu hanyalah Allah Swt semata.
Sebagai seorang manusia biasa, sebagai keturunan Adam as, keadaan beliau sama seperti kita.
Untuk itu, Allah telah mengadakan penyesuaian atau membuka Ijab
terhadapnya agar dapat memasuki Muntaha yang suci sekaligus
menjadikannya kasyaf, melihat tembus segala sesuatunya, termasuk
melihat wujud malaikat Jibril dalam rupa aslinya sebagaimana yang
dikatakan pada ayat 53:13-14.
Dengan
kata lain, Nabi Muhammad dikembalikan kepada fitrah manusia semula,
yaitu fitrah awal yang diberikan kepada Nabi Adam as waktu itu. Keadaan
dimana Nabi Muhammad dapat melihat semua malaikat-malaikat Allah serta
dapat bercakap-cakap dengan mereka.
Bahkan,
dalam beberapa hadist yang sampai saat ini masih bisa dikatakan shahih
dan diyakini oleh sebagian besar para ulama menyatakan bahwa Nabi Saw
juga telah bertemu dengan ruh para Nabi terdahulu, seperti Adam, Musa,
Ibrahim dan beberapa ruh Nabi-nabi dan Rasul lainnya, dimana beliau
melakukan Shalat sebanyak 2 raka’at, menurut ketentuan shalat para Nabi
itu dulunya, yaitu ruku’ dan sujud.
Memang
tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, termasuk masalah pengimaman
yang dilakukan oleh Rasulullah Saw ini terhadap para ruh, sementara
beliau sendiri berada dalam keadaan hidup, jasmani dan ruhaninya, hal
ini mengingat bahwa kedudukan Nabi Muhammad Saw yang mulia disisi Allah
sekaligus sebagai penutup dari para Nabi dan sesuai pula dengan ayat
yang menyatakan bahwa orang yang sudah mati itu tidaklah mati habis
begitu saja, namun mereka tetap hidup (dialam penantian).
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan
Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak
menyadarinya."
(QS. 2:154)
"Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati;
bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki."
(QS. 3:169)
"Dia
mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari
yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya; Dan seperti itulah
kamu akan dikeluarkan."
(QS. 30:19)
"Menciptakan
dan membangkitkan kamu tidak lain hanyalah seperti (menciptakan dan
membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat."
(QS. 31:28)
Kemudian,
seperti yang juga banyak kita dapatkan didalam periwayatan hadist,
bahwa Nabi Muhammad selanjutnya di Sidratil Muntaha, menuju suatu
tempat agung yang Jibril sendiri, selama ini sebagai "Tangan Kanan
Allah" tidak mampu menembusnya, (didalam salah satu riwayat dikatakan
sebagai tempat lautan cahaya sekaligus merupakan batas terakhir bagi
Jibril menghantarkan Muhammad) dilukiskan dengan gaya bahasa yang indah
oleh Qur’an, seperti yang dikatakan pada ayat ke-16 hingga ayat ke-18
surah 53 :
Ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.
Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda terbesar dari Tuhannya.
(QS. 53:16-18)
Sungguh,
suatu ungkapan teramat sangat yang dicoba dilukiskan dengan kata-kata
mengenai keindahan yang begitu menawan atas apa yang sudah dilihat oleh
Nabi Muhammad Saw pada waktu itu.
Makanya
tidak heran jika akhirnya ulama kembali terpecah dua didalam memahami
ayat ini, ada sebagian mereka mengatakan bahwa Nabi Saw benar-benar
telah melihat Tuhan pada saat itu, namun sebagian lagi menyatakan
sebaliknya.
Namun
saya sendiri berpendapat bahwa apa yang telah dilihat oleh Nabi besar
Muhammad Saw ketika itu tidak lain hanyalah tabir atau yang disebut
didalam bahasa Qur’annya dengan hijab sebagaimana keterangan dari
Qur’an sendiri :
"Dan tidak bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata kepadanya
kecuali dengan ilham atau di belakang tabir (hijab) atau Dia mengirim
utusan (malaikat) lalu dia mewahyukan dengan seizin-Nya apa-apa yang
Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.
(QS. 42:51)
Adapun
keindahan dari Hijab atau tabir inilah yang membuat Nabi Muhammad Saw
terpesona, kagum dan beribu perasaan lainnya yang menyelimuti perasaan
hatinya, sehingga pemandangan Rasul yang agung ini tidak berpaling dari apa yang dilihatnya namun juga Beliau tidak dapat melihat lebih jauh lagi atau melampaui tabir tersebut, sebab memang hanya sampai disanalah kemampuan mata beliau yang di izinkan Allah untuk dapat melihat.
Benarlah
kiranya pada ayat yang ke-18, AlQur’an menyebutkan bahwa Nabi Muhammad
Saw telah melihat sebagian tanda-tanda yang terbesar dari Tuhannya.
Apa yang sudah dilihat oleh Rasul Saw, adalah suatu karunia yang tidak
terhinggakan, melebihi segala-galanya, suatu rahmat dan nikmat yang
amat sangat diinginkan oleh Nabi Musa as namun tidak kuasa ia dapati
sebagaimana yang disebutkan dalam surah 7 ayat 143.
Namun
karena yang dilihat oleh Nabi Muhammad Saw waktu itu adalah Hijab yang
menutupi Allah, makanya disebutkan pada ayat 17 dan 18, bahwa ia telah
melihat "Sebagian" dari kekuasaan Tuhan, bukan "Semuanya".
Dalam salah satu Hadist shahih riwayat Masruq yang dirawikan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi disebutkan :
"Saya
pernah bertanya kepada ‘Aisyah r.a. demikian: ‘Wahai Ummul Mukminin,
benarkah Nabiyullah Muhammad Saw pernah melihat Tuhannya ?’ Beliau
menjawab, ‘Benar-benar telah berdiri bulu romaku karena mendengar apa
yang engkau katakan itu. Hati-hatilah engkau dari tiga hal ini;
barangsiapa yang memberitahu kepadamu tentang tiga hal ini, pastlah dia
berdusta.
Tetapi, katanya meneruskan, ia pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali."
(HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
Sekarang, kita akan melanjutkan pembahasan dari bagian terakhir ayat 17/1 :
Sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha melihat :
Innahuu Huassami’ul Basyiir, Bahwa Allah, Tuhan yang Maha Esa,
senantiasa melihat, mendengar, memperhatikan dan menentukan setiap
gerak tindak zahir bathin dari seluruh wujud disemesta raya. Semua itu
senantiasa berjalan dengan cara yang wajar melalui garis kausalita.
Tidak satupun yang terlepas dari ketentuan Allah walaupun gerak hati dalam dada setiap diri.
Ayat ini berhubungan erat pula dengan 3 ayat terakhir dari surah ke-2,
yaitu ayat 284 hingga 286 yang menurut beberapa hadist diberikan kepada
Nabi Saw pada saat beliau menerima perintah shalat langsung dari Allah
Swt.

(284)
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika
kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu
menyembunyikannya, Allah akan memeriksa kamu tentang perbuatanmu itu.
Dia akan mengampuni siapa yang Ia kehendaki dan menyiksa siapa yang Ia
kehendaki; Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(285)
Rasul itu percaya kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
dan orang-orang yang beriman; tiap-tiap seorang daripada mereka percaya
kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasul-Nya.
"Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun dari rasul-rasulNya", dan
mereka berkata:"Kami dengar dan kami ta’at, Ampunilah kami ya Tuhan
kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".
(286)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia akan mendapat apa yang diusahakannya serta mendapat apa yang
dikerjakannya. "Hai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami
lupa atau kami keliru. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada
kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang
sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami yang
tak sanggup kami mengerjakannya. Ampunilah kami, lindungilah kami dan
kasihanilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap
kaum yang kafir".
(QS. 2:284-286)