Buraq, kendaraan inter dimensi
Dari peristiwa Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah Muhammad Saw
Al-Amin, banyak hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran, baik yang
ada hubungannya dengan masalah ritual seperti shalat lima waktu,
peristiwa yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad maupun yang ada
hubungannya dengan ilmu pengetahuan seperti ilmu falak /Astonomi/, ilmu
kedokteran dan sebagainya.
Menurut riwayat, sebelum Nabi berangkat untuk
penerbangan jarak jauhnya dalam peristiwa Mi’raj itu, lebih dahulu Nabi
dibedah dadanya untuk dibersihkan jantungnya oleh malaikat Jibril,
maksud dibersihkan itu sendiri, secara ilmiah sebagai suatu persiapan
kondisi jasmani (phisik)nya agar cukup dan mampu dalam menempuh
penerbangan jarak jauh.![]()
Sebab jantung merupakan alat vital bagi manusia
terutama dalam memacu peredaran darah yang mana jantung ini bekerja
tanpa henti-hentinya sejak dari kandungan sampai dengan akhir hayatnya.
Sepasang dokter Amerika yang terdiri dari suami
istri, Dr. William Fisher & Dr. Anna Fisher mengatakan bahwa
perkembangan ilmu kedokteran antariksa tengah memfokuskan
penyelidikannya sehubungan dengan pembuluh darah jantung para astronot
dan kondisi-kondisi tulang yang makin lemah setelah lama dalam ruang
angkasa, ini membuktikan kebenaran dari peristiwa ‘Pembedahan Dada’
Nabi Muhammad Saw oleh dokter-dokter ahli langit yang ditunjuk oleh Allah Swt, yaitu para malaikat yang diketuai oleh Jibril as.
Dalam peristiwa pembedahan dan pembersihan jantung
Nabi sebelum Mi’raj kiranya merupakan gambaran adanya pengertian bagi
manusia umumnya untuk mempelajari ilmu kedokteran khusunya dalam bidang
bedah dan anatomi serta ilmu kedokteran antariksa. Dan ternyata
kemudian bedah jantung /pencangkokan jantung/ dan ilmu kedokteran
antariksa oleh para ahli mulai diperkenalkan pada abad dua puluh.
![]()
Bagi umat Islam, nampaknya bukanlah hal yang baru jika saja mereka mau
menghayati dan mempelajari apa-apa yang telah terjadi dan dialami oleh
Rasul yang mereka cintai, Muhammad Saw.
Pada abad-abad kemajuan Islam dibidang teknologi dan
ilmu pengetahuan, maka jelaslah bagi kita bahwa ahli-ahli kedokteran
muslim telah memperlihatkan kemajuan yang pesat sekali.
Buku-buku/kitab-kitab berbahasa Arab yang berisi ilmu-ilmu Tib
/kedokteran/ benar-benar ilmiah dan orisinil.
Malahan sudah menjadi bahan pelajaran dinegara
Eropah khususnya, ahli-ahli kedokteran yang termasyur misalnya saja
Ibnu Sina /Aviccena/, Qorsh-’Ala’uddin, Ibnu An Nafis /dokter yang
pertama kali mengajarkan peredaran darah/ dimana dalam tulisan itu
dijelaskan secara sistematis bagaimana aliran darah mengalir dari hati
kejantung melalui urat nadi paru-paru dan kemudian kembali lagi kehati.
Dari contoh diatas itulah kita sedikit banyak bisa
mengambil kesimpulan bahwa dalam peristiwa pembedahan Nabi sebelum
Mi’raj dapat diambil pelajaran dan memperoleh ilmu pengetahuan dan
penyelidikan terutama dalam bidang ilmu bedah dan ilmu kedokteran
antariksa. Begitupula misalnya dengan tidak menimbulkan bekasnya pada
‘Bekas Jahitan’ pada dada Nabi setelah pembedahan itu benar-benar
petunjuk bagi manusia agar dapat menciptakan alat bedah yang
benar-benar modern dengan sinar laser yang tercanggih.
Setelah Nabi dikuatkan baik mental maupun phisiknya,
barulah beliau mengadakan perjalanan jauh sampai berjuta-juta tahun
cahaya menempuhnya, namun ditempuh oleh Nabi hanya beberapa jam saja
dalam peristiwa itu dengan berkendaraan Buraq.
![]()
Menurut sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Annas, Rasulullah menjelaskan bahwa Buraq itu adalah "Dabbah",
yang menurut penafsiran bahasa Arab adalah suatu makhluk hidup
berjasad, bisa laki-laki bisa perempuan, berakal dan juga tidak berakal.
Kalau dilihat dalam kamus bahasa, maka kita akan
menemukan istilah "buraq" yang diartikan sebagai "Binatang kendaraan
Nabi Muhammad Saw", dia berbentuk kuda bersayap kiri kanan. Dalam
pemakaian umum "buraq" itu berarti burung cendrawasih yang oleh kamus
diartikan dengan burung dari sorga (bird of paradise).
![]()
Sebenarnya "buraq" itu adalah istilah yang dipakai dalam AlQur’an
dengan arti "kilat" termuat pada ayat 2/19, 2/20 dan 13/2 dengan
istilah aslinya "Barqu".
Para sarjana telah melakukan penyelidikan dan
berkesimpulan bahwa kilat atau sinar bergerak sejauh 186.000 mil atau
300 Kilometer perdetik. Dengan penyelidikan yang memakai sistem
paralax, diketahui pula jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil
dan dilintasi oleh sinar dalam waktu 8 menit.
Jarak sedemikian besar disebut 1 AU atau satu
Astronomical Unit, dipakai sebagai ukuran terkecil dalam menentukan
jarak antar benda angkasa. Dan kita sudah membahas bahwa Muntaha itu
letaknya diluar sistem galaksi bimasakti kita, dimana jarak dari satu
galaksi menuju kegalaksi lainnya saja sekitar 170.000 tahun cahaya.
Sedangkan Muntaha itu sendiri merupakan bumi atau planet yang berada
dalam galaksi terjauh dari semua galaksi yang ada diruang angkasa.
![]()
Amatlah janggal jika kita mengatakan bahwa buraq tersebut dipahami
sebagai binatang atau kuda bersayap yang dapat terbang keangkasa bebas.
Orang tentu dapat mengetahui bahwa sayap hanya dapat berfungsi dalam
lingkungan atmosfir planet dimana udara ditunda kebelakang untuk gerak maju kemuka atau ditekan kebawah untuk melambung keatas.
Udara begitu hanya berada dalam troposfir yang
tingginya 6 hingga 16 Km dari permukaan bumi, padahal buraq itu harus
menempuh perjalanan menembusi luar angkasa yang hampa udara dimana
sayap tak berguna malah menjadi beban. Dengan kecepatan kilat maka
binatang kendaraan itu, begitu juga Nabi yang menaiki, akan terbakar
dalam daerah atmosfir bumi, sebaliknya ketiadaan udara untuk bernafas
dalam menempuh jarak yang sangat jauh sementara itu harus mengelakkan
diri dari meteorities yang berlayangan diangkasa bebas.
Semua itu membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw
bukanlah melakukan perjalanan mi’rajnya dengan menggunakan binatang
ataupun hewan bersayap sebagaimana yang diyakini oleh orang selama ini.
Penggantian istilah dari Barqu yang berarti kilat
menjadi buraq jelas mengandung pengertian yang berbeda, dimana jika
Barqu itu adalah kilat, maka buraq saya asumsikan sebagai sesuatu
kendaraan yang mempunyai sifat dan kecepatannya diatas kilat atau
sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan sinar.
Menurut akal pikiran kita sehari-hari yang tetap
tinggal dibumi, jarak yang demikian jauhnya tidak mungkin dapat dicapai
hanya dalam beberapa saat saja.
Untuk menerobos garis tengah jagat raya saja
memerlukan waktu 10 milyard tahun cahaya melalui galaksi-galaksi yang
oleh Garnow disebut sebagai fosil-fosil jagad raya dan selanjutnya
menuju alam yang sulit digambarkan jauhnya oleh akal pikiran dan panca
indera manusia dengan segala macam peralatannya, karena belum atau
bahkan tidak diketahui oleh para Astronomi, galaksi yang lebih jauh
dari 20 bilyun tahun cahaya. Dengan kata lain mereka para Astronom
tidak dapat melihat apa yang ada dibalik galaksi sejauh itu karena
keadaannya benar-benar gelap mutlak.
Untuk mencapai jarak yang demikian jauhnya tentu
diperlukan penambahan kecepatan yang berlipat kali kecepatan cahaya.
Sayangnya kecepatan cahaya merupakan kecepatan yang tertinggi yang
diketahui oleh manusia sampai hari ini atau bisa jadi karena parameter
kecepatan cahaya belum terjangkau oleh manusia.
![]()
Namun kita mungkin bisa memberikan contoh analogi dari prinsip2 computer networking berikut : ![]()
Protocol TCP / IP yang kita gunakan di Internet ini
kita ibaratkan sebagai Buraq & ruh, fisik jasmaniah Nabi adalah
paket data (e-mail misalnya) yang akan kita kirimkan ke ujung belahan
dunia lain (dimensi Muntaha). Melalui proses enkripsi, enkode dan
dekode yang dikapsulkan (capsulated) di dalam protocol TCP / IP
(Buraq), paket data dapat melihat-lihat dan berjalan-jalan menelusuri
jaringan Internet yang berbeda-beda dimensinya: lewat transmisi
terrestrial (dimensi kabel, serat optik) kemudian di up link melalui
transmisi satelit dan micro wave (dimensi radio link) hingga kembali ke
bentuk dimensi asalnya teks di layar komputer.
Dalam AlQur’an kita jumpai betapa hitungan waktu
yang diperlukan oleh para malaikat dan ruh-ruh orang yang meninggal
kembali kepada Tuhan:
Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepadaNya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
(QS. 70:4)
Kata "Ar-Ruh" pada ayat ini sering juga diartikan /diterjemahkan/ orang dengan Malaikat Jibril.
Ukuran waktu dalam ayat diatas ada para ahli yang
menyebut bahwa angka 50 ribu tahun itu menunjukkan betapa lamanya waktu
yang diperlukan penerbangan malaikat dan Ar-Ruh untuk sampai kepada
Tuhan.
Namun bagaimanapun juga ayat itu menunjukkan adanya
perbedaan waktu yang cukup besar antara waktu kita yang tetap dibumi
dengan waktu malaikat yang bergerak cepat sesuai dengan pendapat para
ahli fisika yang menyebutkan "Time for a person on earth and time for a
person in hight speed rocket are not the same", waktu bagi seseorang
yang berada dibumi berbeda dengan waktu bagi orang yang ada dalam
pesawat yang berkecepatan tinggi.
Perbedaan waktu yang disebut dalam ayat diatas
dinyatakan dengan angka satu hari malaikat berbanding 50.000 tahun
waktu bumi, perbedaan ini tidak ubahnya dengan perbedaan waktu bumi dan
waktu elektron, dimana satu detik bumi sama dengan 1.000 juta tahun
elektron atau 1 tahun Bima Sakti = 225 juta tahun waktu sistem solar.
![]()
Jadi bila malaikat berangkat jam 18:00 dan kembali pada jam 06.00 pagi
waktu malaikat, maka menurut perhitungan waktu dibumi sehari malaikat =
50.000 tahun waktu bumi. Dan untuk jarak radius alam semesta hingga
sampai ke Muntaha dan melewati angkasa raya yang disebut sebagai ‘Arsy
Ilahi, 10 Milyard tahun cahaya diperlukan waktu kurang lebih 548 tahun
waktu malaikat.
Namun malaikat Jibril kenyataannya dalam peristiwa
Mi’raj Nabi Muhammad Saw itu hanya menghabiskan waktu 1/2 hari waktu
bumi /maksimum 12 Jam/ atau = 1/100.000 tahun Jibril.
![]()
Kejadian ini nampaknya begitu aneh dan bahkan tidak mungkin menurut
pengetahuan peradaban manusia saat ini, tetapi para ilmuwan mempunyai
pandangan lain, suatu contoh apa yang dikemukakan oleh Garnow dalam
bukunya Physies Foundations and Frontier
antara lain disebutkan bahwa jika pesawat ruang angkasa dapat terbang
dengan kecepatan tetap /cahaya/ menuju kepusat sistem galaksi Bima
Sakti, ia akan kembali setelah menghabiskan waktu 40.000 tahun menurut
kalender bumi. Tetapi menurut sipengendara pesawat /pilot/ penerbangan
itu hanya menghabiskan waktu 30 tahun saja. Perbedaan tampak begitu
besar lebih dari 1.000 kalinya.
Contoh lain yang cukup populer, yaitu paradoks anak
kembar, ialah seorang pilot kapal ruang angkasa yang mempunyai saudara
kembar dibumi, dia berangkat umpamanya pada usia 0 tahun menuju sebuah
bintang yang jaraknya dari bumi sejauh 25 tahun cahaya.
Setelah 50 tahun kemudian sipilot tadi kembali
kebumi ternyata bahwa saudaranya yang tetap dibumi berusia 49 tahun
lebih tua, sedangkan sipilot baru berusia 1 tahun saja. Atau
penerbangan yang seharusnya menurut ukuran bumi selama 50 tahun cahaya
pulang pergi dirasakan oleh pilot hanya dalam waktu selama 1 tahun saja.
Dari contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa jarak
atau waktu menjadi semakin mengkerut atau menyusut bila dilalui oleh
kecepatan tinggi diatas yang menyamai kecepatan cahaya.
![]()
Kembali pada peristiwa Mi’raj Rasulullah bahwa jarak yang ditempuh oleh
Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad dengan Buraq menurut ukuran
dibumi sejauh radius jagad raya ditambah jarak Sidratul Muntaha pulang
pergi ditempuh dalam waktu maksimal 1/2 hari waktu bumi (semalam) atau
1/100.000 waktu Jibril atau sama dengan 10-5 tahun cahaya, yaitu kira-kira sama dengan 9,46 X 10 -23 cm/detik dirasakan oleh Jibril bersama Nabi Muhammad (bandingkan dengan radius sebuah elektron dengan 3 X 19-11 cm) atau kira-kira lebih pendek dari panjang gelombang sinar gamma.
Nah, Barkah yang disebut dalam Qur’an yang melingkupi diri Nabi Muhammad Saw,
adalah berupa penjagaan total yang melindungi beliau dari berbagai
bahaya yang dapat timbul baik selama perjalanan dari bumi atau juga
selama dalam perjalanan diruang angkasa, termasuk pencukupan udara bagi
pernafasan Rasulullah Saw selama itu dan lain sebagainya.
Jadi, sekarang kita bisa mendeskripsikan tentang
kendaraan bernama Buraq ini sedemikian rupa, apakah dia berupa sebuah
pesawat ruang angkasa yang memiliki kecepatan diatas kecepatan sinar
dan kecepatan UFO ?
Ataukah dia berupa kekuatan yang diberikan Allah kepada diri Rasulullah
Saw sehingga Rasul dapat terbang diruang angkasa dengan selamat dan
sejahtera, bebas melayang seperti seorang Superman ?
![]()
Saya sendiri berpendapat bahwa Buraq itu tentulah sebuah kendaraan
penjelajah inter dimensi yang sempurna, yang seolah hidup sehingga Nabi
Muhammad Saw mengkiaskannya sebagai suatu Dabbah.
Dabbah, sebagai suatu wahana yang sanggup membungkus
dan melindungi jasad Rasulullah sedemikian rupa sehingga sanggup
melawan/mengatasi hukum alam dalam hal perjalanan dimensi. Sekaligus
didalamnya tersedia cukup udara untuk pernafasan Nabi Muhammad Saw dan
penuh dengan monitor-monitor yang memungkinkan Nabi untuk melihat
keluar ataupun juga monitor-monitor yang bersifat "Futuristik", yaitu
monitor yang memberikan gambaran kepada Rasulullah mengenai keadaan
umatnya sepeninggal beliau nantinya.
Bukankah ada banyak juga hadist shahih yang
mengatakan bahwa selama perjalanan menuju ke Muntaha itu Nabi Muhammad
Saw telah diperlihatkan pemandangan-pemandangan yang luar biasa ?
Apakah aneh bagi anda jika Nabi Muhammad Saw telah
diperlihatkan oleh Allah (melalui monitor-monitor futuristik tersebut)
terhadap apa-apa yang akan terjadi dikemudian hari ? Apakah anda akan
mengingkari bahwa jauh setelah sepeninggal Rasul ada banyak sekali
manusia-manusia yang mampu meramalkan ataupun melihat masa depan
seseorang ?
![]()
Dalam dunia komputer kita mengenal virtual reality (VR) yaitu
penampakan alam nyata ke dalam dimensi multimedia digital yang sangat
interaktif sehingga bagaikan keadaan sesungguhnya. Apakah tidak mungkin
Rasulullah telah merasakan fasilitas VR dari Allah Swt untuk
mempresentasikan kepada kekasihNya itu surga dan neraka yang
dijanjikanNya ?
Anda pasti pernah mendengar sebutan "Paranormal" bukan ?
Jika anda mempercayai semua itu, maka apalah
susahnya bagi anda untuk mempercayai bahwa hal itupun terjadi pada diri
Rasulullah Saw, hanya saja bedanya bahwa semua itu merupakan gambaran
asli dari Allah Swt yang sudah pasti kebenarannya tanpa bercampur
dengan hal-hal yang batil.
Hal ini juga bisa kita buktikan dengan banyaknya
ramalan-ramalan Nabi terhadap keadaan umat Islam setelah beliau tiada
dan menjadi kenyataan tanpa sedikitpun meleset ?
Darimana Rasulullah dapat melakukannya jika tidak diperlihatkan oleh Allah sebelumnya ?
Mari kita sama-sama menyimak akan firman Allah berikut ini :
Allah memberikan kebijaksanaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang
banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang
yang berakal.
(QS. 2:269)Sesungguhnya orang-orang yang
beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan
jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.
(QS. 49:15)
Hikmah dalam ayat 2:269 dan ayat-ayat lainnya, saya
artikan sebagai kebijaksanaan yang diberikan oleh Allah kepada
hamba-hambaNya, kebijaksanaan ini berarti sangat luas, baik dalam
bidang ilmu pengetahuan dunia atau akhirat, sebagai perwujudan dari
Rahman dan RahimNya.
Untuk itu, buanglah semua keraguan yang ada didalam
hati kita terhadap semua yang telah dilakukan oleh Allah terhadap Nabi
dan Rasul yang dikasihiNya, baik selama peristiwa Mi’raj, sesudahnya
maupun sebelum itu, semoga kita termasuk orang-orang yang benar
sebagaimana dimaksudkan dalam ayat 49:15 diatas.
Pemandangan yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw
waktu itu juga bisa diklasifikasikan dalam golongan yang saya sebut
sebagai "wahyu visi", dimana pada Rasulullah diberitakan apa-apa yang
bakal terjadi sekaligus langsung diperlihatkan gambarannya secara jelas.
Allah menceritakan kepada Nabi akan keadaan masa depan tanpa memperlihatkan gambaran secara visual kepadanya.
Selanjutnya juga perihal tentang Hadist yang
mengatakan bahwa didalam memasuki setiap lapisan langit, Jibril meminta
izin kepada malaikat penjaga. Hal ini masih bisa diterima dengan akal
pikiran sehat dan logis.
Sekarang mari saya tuntun anda untuk memasuki pemandangan atau pendapat saya :
![]()
Didalam Hadist disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw berangkat ke Muntaha
dengan ditemani oleh malaikat Jibril yang didalam AlQur’an surah 53:6
dikatakan memiliki akal yang cerdas.
Dan dalam perjalanan itu Nabi diberikan kendaraan bernama Buraq yang kecepatannya melebihi kecepatan sinar.
Selanjutnya selama perjalanan Nabi banyak bertanya kepada malaikat
Jibril tentang apa-apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya, ini
menunjukkan bahwa Nabi dan Jibril berada dalam jarak yang berdekatan.
Sekarang,
Tidak mungkinkah Jibril ini yang mengemudikan Buraq untuk menuju ke Muntaha ?
Dalam kata lain, Jibril sebagai pilot dan Muhammad sebagai penumpang ?
Bukankah Muhammad sendiri baru pertama kali itu mengadakan perjalanan
ruang angkasa, sementara Jibril telah ratusan atau bahkan jutaan kali
melakukannya didalam mengemban wahyu yang diamanatkan oleh Allah ?
Jika dikatakan Nabi sebagai pilot, dari mana Nabi
mengetahui arah tujuannya berikut tata cara pengemudian Buraq ini,
apalagi ditambah dengan banyaknya visi-visi alias Virtual Reality yang
diberikan oleh Allah kepada beliau selama perjalanan dan
mengharuskannya mengajukan beragam pertanyaan kepada Jibril ?
Ingat, dalam hal ini semua kita pandang sebagai hal yang logis dengan memakai logika manusia biasa.
Untuk dapat mengemudikan pesawat, seseorang diharuskan untuk
mempelajari terlebih dahulu tentang segala sesuatunya, dari persiapan
pesawat, kemampuan mengemudi, kemampuan menghindarkan pesawat dari
bahaya batu ruang angkasa, komet dan benda-benda langit lainnya.
Nabi juga diharuskan konsentrasi penuh didalam
mengemudikan Buraq dan tidak dapat diganggu oleh berbagai pembicaraan
panjang lebar apalagi sampai memperhatikan visi-visi yang ada secara
jelas dan lama.
Namun jika kita kembalikan pada pendapat saya semula
bahwa Jibril dalam hal ini berlaku sebagai pilot dan Nabi sebagai
penumpang, maka semua pertanyaan dan keraguan yang timbul akan hilang.
Dalam hal ini Jibril adalah pilot terbang
berpengalaman, ia juga sangat cerdas, sementara atas diri Nabi sendiri
sudah diberikan oleh Allah Barqah disekeliling beliau, sehingga setiap
perubahan yang terjadi dalam perjalanan, seperti goyangnya pesawat,
tekanan gravitasi yang hilang, udara dan lain sebagainya tidak akan
berpengaruh apa-apa pada diri Nabi yang mulia ini.
Dan keadaan yang tanpa pengaruh apa-apa itu
memungkinkan bagi Nabi untuk mengadakan pertanyaan-pertanyaan atas
visi-visi yang dilihatnya itu sekaligus dapat melihatnya secara
jelas/Virtual Reality .
Kembali pada Jibril yang senantiasa meminta izin
didalam memasuki setiap lapisan langit kepada malaikat penjaga, itu
dikarenakan bahwa mereka tidak mengenali Jibril yang berada didalam
Buraq itu, sehingga begitu Jibril menjawab, mereka baru bisa mengenali
suaranya dan melakukan pendeteksian secara visi keadaan dalam Buraq
sehingga nyatalah bahwa yang datang itu benar-benar Jibril.
![]()
Didalam Hadist juga disebutkan bahwa malaikat penjaga langit itu juga
menanyakan tentang identitas sosok manusia yang dibawa oleh malaikat
Jibril, yang tidak lain dari Rasulullah Muhammad Saw. Dan dijelaskan
oleh Jibril bahwa Rasulullah Saw diutus oleh Allah dan telah pula
diperintahkan untuk naik ke Muntaha.
(Hadist mengenai ini diriwayatkan oleh
Bukhari-Muslim dan dinyatakan oleh jumhur ulama dari ahlussunnah
sebagai Hadist yang shahih).
Hal ini memang berkesan lucu bagi sebagian orang,
apalagi mengingat bahwa Nabi adalah manusia yang paling mulia yang
mendapatkan kedudukan terhormat yang bisa dibuktikan dengan
bersandingnya nama Allah dan nama beliau dalam dua buah khalimah
syahadat yang tidak boleh dicampuri, ditambah atau dikurangi dengan
berbagai nama lain karena tiada hak bagi makhluk lainnya mencampuri
masalah ini.
Namun justru saya melihat disitulah letak kebesaran Tuhan.
Semuanya sengaja dipertunjukkan secara ilmiah kepada Nabi agar beliau
dapat membuktikan sendiri betapa ketatnya penjagaan langit itu
sebenarnya.
Muntaha itu terletak digalaksi terjauh, dimana Adam dulunya diciptakan dan ditempatkan pertama kali bersama istrinya.
Tetapi sejak Adam bersama istrinya dan juga Jin
serta Iblis diusir oleh Allah dari sana, maka penjagaan terhadap tempat
tersebut diperketat sedemikian rupanya, sehingga tidak memungkinkan
siapapun juga kecuali para malaikat untuk dapat memasukinya, seperti
yang termuat dalam ayat ke-8,9 dan 10 dari surah 72 tersebut.
"…Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu." (QS. 72:9)
"…kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api." (QS. 72:8)
"…Tetapi sekarang barang siapa yang mencoba mendengarkan tentu akan menjumpai panah api yang mengintai." (QS. 72:9)
Dalam hal ini saya mengasumsikan bahwa yang disebut
dengan lapisan langit pada Muntaha itu adalah berupa planet-planet yang
terdekat dengan "bumi-muntaha", hal ini saya hubungkan dengan
pernyataan Qur’an pada surah 72:9 bahwa Jin atau Iblis itu dapat
menduduki beberapa tempat.
Mampu menduduki tempat disana artinya mampu berdiam
ditempat tersebut, dan karena tempat itu ganda (beberapa tempat), maka
jelas tempat itu bukan Muntaha itu sendiri, namun tempat yang terdekat
dari Muntaha.
Sesuai dengan kajian saya sebelumnya, bahwa Muntaha
itu berupa bumi yang disekitarnya juga terdapat planet-planet, maka
planet-planet itulah tempat atau posisi para syaithan itu berdiam
dahulunya untuk mencuri dengar berita-berita langit.
Muntaha sendiri berarti "Dihentikan"
atau bisa juga kita tafsirkan sebagai tempat terakhir dari semua urusan
berlabuh. Tempat yang menjadi perbatasan segala pencapaian kepada Tuhan.
Sidrah berarti "Teratai"
yaitu bunga yang berdaun lebar, hidup dipermukaan air kolam atau
telaga. Uratnya panjang mencapai tanah dasar air tersebut. Bilamana
pasang naik, teratai akan ikut naik, dan bila pasang surut diapun akan
turun, sementara uratnya tetap terhujam pada tanah dasar tempatnya
bertumbuh.
Teratai yang berdaun lebar menyerupai keadaan planet
yang memiliki permukaan luas, sungguh harmonis untuk tempat kehidupan
makhluk hidup. Teratai berurat panjang mencapai tanah dasar dimana dia
tumbuh tidak mungkin bergerak jauh, menyerupai keadaan planet yang
selalu berhubungan dengan matahari darimana dia tidak mungkin bergerak
jauh dalam orbit zigzagnya dari garis ekliptik. Dan air dimana teratai
berada menyerupai angkasa luas dimana semua planet yang ada mengorbit
mengelilingi matahari.
Atau bisa juga kita tafsirkan bahwa teratai berurat
panjang mencapai tanah dasar adalah sebagai tempat dimana segala urusan
keTuhanan diatur oleh Allah kepada para malaikatNya dan air dimana
teratai berada itu adalah sebagai wilayah kekuasaan Ilahi yang Maha
Luas yang biasa kita sebut sebagai ‘Arsy Allah.
Turun naik teratai dipermukaan air berarti orbit
planet mengelilingi matahari berbentuk oval, bujur telur, dimana ada
titik Perihelion yaitu titik terdekat pada matahari yang dikitarinya,
begitupula ada titik Aphelion, titik terjauh dari matahari. Sewaktu
planet berada di Aphelionnya dia bergerak lambat. Keadaan gerak
demikian membantu kestabilan orbit setiap planet yang mulanya hanya
didasarkan atas kegiatan magnet yang dimilikinya saja.
Titik Perihelion Muntaha bisa kita tafsirkan dengan
titik terdekat semua urusan, termasuk malaikat dengan Allah, dan titik
Aphelion bisa kita tafsirkan sebagai turunnya urusan yang diembankan
oleh Allah itu menuju kepada ketetapanNya yang berarti berada jauh
meninggalkan Muntaha namun tidak berarti jauh dari Tuhan.
Selanjutnya, sebagaimana yang tercantum dalam
AlQur’an, sesampai Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin di Muntaha itu,
beliau bisa melihat malaikat Jibril kembali kedalam bentuknya yang asli
(surah 53:13-14).
Ini berarti bahwa dalam perjalanan dari bumi hingga Muntaha, Jibril masih dalam wujudnya yang lain !
Muncullah berbagai pikiran dalam benak anda, bahwa
dengan pendapat saya ini, seolah saya mengatakan bahwa Allah juga
bertempat tinggal di Muntaha itu. Dan Allah terikat dengan ruang dan
waktu
Sama sekali tidak demikian.
Apakah anda juga akan berpandangan bahwa Allah itu bertempat diatas
awan sebab ada ayat dalam AlQur’an bahwa Allah menampakkan dzatNya
kepada sebuah bukit yang akhirnya hancur luluh dan menyebabkan Nabi
Musa as jatuh pingsan ? (QS. 7:143)
Bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut ?
Tentu anda akan menjawab bahwa Allah tidaklah berada
diawan hanya karena Dia menampakkan dzatNya kepada bukit tersebut atas
permintaan Nabi Musa, nah begitu juga halnya dengan saya.
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa
yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada
urat lehernya."
(QS. 50:16)
Allah tidak berarti berdiam di Muntaha, meskipun
Muntaha itu merupakan bumi terjauh dan terpinggir dalam bentangan alam
semesta sekaligus sebagai dimensi tertinggi, dimana mayoritas malaikat
berada disana sembari memuji dan bertasbih kepada Allah, ia hanyalah
sebagai suatu tempat ciptaan Allah yang pada hari kiamat kelak akan
dileburkan pula dan semua isinya, termasuk para malaikat itu akan mati
kecuali siapa yang dikehendakiNya saja (QS. 27:87), hanya Allah sajalah
satu-satunya dimensi Tertinggi yang kekal dan abadi (QS. 2:255).