Memahami peristiwa Mi’raj Rasulullah Saw


Diterjemahkan dari AlQur’an surah An Najm ayat 1 s.d 18

 

  1. Demi bintang ketika terbenam,
  2. Kawanmu, (Muhammad), tidak sesat dan tidak keliru,
  3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.
  4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),
  5. yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat (yaitu Jibril),
  6. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli.
  7. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi.
  8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi,
  9. Maka jadilah dia dekat laksana dua busur panah atau lebih dekat.
  10. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah diwahyukan.
  11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
  12. Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?
  13. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya itu pada waktu yang lain,
  14. Di Sidratil Muntaha.
  15. Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal,
  16. ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
  17. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.
  18. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya yang paling hebat.

 




Nabi Allah yang terakhir, yaitu Rasul Allah Muhammad Saw telah
mengadakan perjalanan malam dari masjidil Haraam kemasjidil Aqsha dan
telah menyaksikan sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhan yang hebat dan
dahsyat dengan ditemani oleh Malaikat Jibril yang akan dilihatnya dalam
wujud aslinya pada saat di Muntaha sebagaimana yang pernah dijumpai
Rasulullah pertama kalinya digua Hira ketika mendapatkan wahyu yang
pertama.

 

Peristiwa
itu, bagi Nabi sendiri merupakan pengalaman yang paling tinggi dan
sempurna dalam kehidupan kerohaniannya. Kepergiannya keatas orbit bumi
sampai terus menjulang tinggi melangkahi berjuta bahkan bermilyar
bintang dan benda-benda angkasa lainnya untuk pada akhirnya sampai
dihadapan ‘Arsy Ilahi menyaksikan kebesaran Allah baik dengan mata
kepala, mata batin atau mata hatinya sehingga sangat sulit dilukiskan.

Kaum
alim ulama banyak berbeda pendapat mengenai masalah kejadian yang
dialami oleh Nabi yang agung ini, bahwa apakah peristiwa itu terjadi
secara rohani ataukah secara jasmani alias dengan badan kasar ?

Sejak
jaman permulaan, masalah ini senantiasa menjadi masalah ikhtilafiah,
masalah yang membangkitkan beda pendapat antara alim ulama dan
mufassirin. Dan ini adalah hal yang sangat wajar sekali, bukankah
tingkat pemahaman setiap orang dapat berbeda-beda sesuai dengan cara
berpikir dan pengetahuan masing-masing serta perkembangan peradaban
tekhnologi pada masanya ?

Ada
sementara orang yang menganggap bahwa peristiwa perjalanan Nabi ini
terjadi dalam mimpi, padahal mimpi itu tidak perlu dibantah. Toh itu
cuma mimpi. Misalnya seperti saya yang berada di Palembang, lalu saya
mengatakan bahwa tadi malam saya bermimpi pergi ke London, maka tidak
akan ada seorangpun yang bisa membantah saya, karena hal itu hanyalah
mimpi.

Orang yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi dalam mimpi mencoba mengemukakan dalil AlQur’an :

"Dan tidak Kami jadikan penglihatan (Ar ru’yaa)  yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia."
(QS. 17:60)

Menurut mereka, lafal Ru’ya (dalam bahasa Arabnya memakai huruf "ya" saja) adalah berarti penglihatan dalam mimpi, bukan penglihatan dalam sadar. Sebab penglihatan dalam keadaan sadar mempergunakan bentuk masdar Ru’ya(h) (dalam bahasa Arabnya memakai huruf "ta" setelah huruf "ya")

Terhadap alasan ini, kita kemukakan jawaban bahwa apabila Penglihatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah Mimpi, maka bagaimanakah hal ini bisa menjadi Ujian bagi manusia sebagaimana yang firman Allah yang ada pada lanjutan ayat 17:60 diatas ?

Sedangkan makna Ujian bagi manusia
ini ialah adanya sebagian mereka yang membenarkan dan adapula yang
mendustakan. Kalau toh hal itu berupa penglihatan dalam mimpi, maka
orang tidak perlu lagi memperbincangkan untuk membenarkan atau
mendustakannya.

Adakah
anda pernah menjumpai orang yang membantah terhadap mimpi seseorang
karena didalam mimpinya itu ia melihat atau melakukan perbuatan begini
dan begitu ? Tidak, tidak mungkin ada orang yang akan membantah mimpi
itu (yang nota bene orang-orang kafir pada saat Rasul menceritakan
peristiwa itu tidak akan membantahnya - seandainya peristiwa itu
terjadi dalam mimpi).

Sekarang mari kita bicarakan arti kata "Ru’yaa dari segi bahasa menurut undang-undang kebahasaan Arab yang berlaku.

Coba
lihat kembali ucapan-ucapan jahiliah sebelum diturunkannya Al Qur-an,
juga pada saat Nabi Ibrahim memandang takjub atas bintang-bintang,
bulan, matahari dilangit ketika dalam pencarian jati diri Tuhannya,
maka akan kita dapati bahwa kata-kata "Ru’yaa" juga dipergunakan dalam
arti "melihat dalam keadaan sadar" (melihat dengan mata kepala).

Jadi perkataan "Ru’yaa" dengan arti "melihat dalam keadaan sadar" dipakai untuk perkara-perkara yang aneh-aneh dan menakjubkan yang biasanya terjadi dalam mimpi.

Apabila kita hendak menyatakan bahwa kita melihat sesuatu yang biasa maka kita katakan :
Ro aitu Ru’yah tetapi jika kita mengatakan sesuatu hal yang
dapat dilihat dengan mata kepala (Dalam keadaan sadar) dan kita
mempergunakan kata-kata "ra-aa" dengan bentuk masdar "rukyaa", maka
berarti apa yang kita katakan itu adalah hal yang luar biasa yang
umumnya hanya terjadi dalam mimpi, namun itu tidak berarti kita sedang
dalam mimpi.

Sekarang kita lanjutkan dengan membicarakan kata-kata "Ja’ala", bagaimanakah penggunaannya menurut tata bahasa ?

Saya berpendapat bahwa kata-kata "Ja’ala" ini apabila digunakan untuk sesuatu yang belum ada kemudian menjadi ada, maka kata-kata "Ja’ala" tersebut sama artinya dengan "Khalaqa".
Perhatikan Firman Allah :

"Waja’ala minha zau jaha"
Artinya :"Dan Kami jadikan daripadanya pasangannya."

Maksudnya
adalah : Kami ciptakan istri Adam itu dari padanya yang mana pada waktu
itu si Istri tersebut belum ada lantas kemudian menjadi ada. Tetapi
apabila kata-kata "Ja’ala" ini digunakan untuk sesuatu yang sudah ada,
maka artinya ialah "Merubah". Dari kata-kata "Ja’ala" dengan arti yang
kedua ini maka akan timbul dua hal, yaitu adanya "Maj’ul" (sesuatu yang
dijadikan/yang dibuat) dan "Maj’ul minhu" (sesuatu yang dijadikan
daripadanya akan sesuatu yang lain).

Misalnya kita katakan : Ja’altussinaibrita Artinya :Saya membuat tanah liat menjadi kendi.
Maka tanah liat ini sebagai bahan (Maj’ul minhu) dan kendinya sebagai Maj’ul.

Begitu juga dengan firman Allah terhadap Nabi Ibrahim :Inni Ja’iluka linnasi imama,
Artinya: "Aku akan menjadikan engkau sebagai imam bagi manusia." (QS.
2:124), maka hal itu berarti bahwa Nabi Ibrahim sudah ada, sedangkan
"Keimaman" adalah perkara yang lain lagi.

Lalu kembali lagi pada arti ayat 17:60 :"Dan tidak Kami jadikan penglihatan yang Kami perlihatkan kepadamu itu melainkan…"

Dijadikan apakah penglihatan yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad Saw itu ?
Jawabnya : Dijadikan ujian bagi manusia dimana timbul reaksi-reaksi
dari mereka, yaitu ada yang membenarkan dan ada yang mendustakan. Atau,
kalau kata-kata "Ru’yaa" disini diartikan dengan mimpi, maka mimpi ini dapat dijadikan Ujian bagi orang lain ? Karena mimpi tersebut kemudian menjadi kenyataan, dan dari kenyataan (peristiwa nyata) inilah lantas timbul Ujian.

Sehingga
dengan demikian maka dapat diambil pengertian bahwa peristiwa Mi’raj
itu mula-mula dialami Rasulullah Saw dalam mimpi, kemudian dalam alam
kenyataan sebagaimana hal ini dialami Rasulullah Saw pada peristiwa
yang lain seperti yang difirmankan oleh Allah :

"Sesungguhnya
Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya
dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki
Masjidil Haram.."
(QS. 48:27)

Dimana
peristiwa memasuki Masjidil Haram ini mula-mula berupa impian, kemudian
menjadi kenyataan. Dan tidak ada yang menghalangi Allah untuk
memperlihatkan kepada ruh Muhammad Saw mengenai peristiwa Mi’raj ini
dalam mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Dengan demikian maka dapat
disimpulkan bahwa Rasulullah mengalami Mi’raj dalam mimpi dan oleh
ruhnya, lalu dialaminya dalam alam kenyataan.

A’isyah r.a. pernah mengatakan :
"Sesungguhnya Rasulullah Saw tidak bermimpi sesuatupun melainkan mimpinya itu akan menjadi kenyataan seperti terbitnya fajar."

Sekarang,
mari kita tinjau kembali secara teliti, Surah 53 yang dimulai dari ayat
1 s.d ke-18 yang telah saya cantumkan pada bagian permulaan dari
artikel ini, dan perhatikan ayat-ayat yang telah saya tebalkan dan
miringkan hurufnya dan akan saya kutip kembali beberapa ayat yang
berhubungan erat dengan pembahasan utama kita :

11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. 
12. Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?

 

Ayat 1 s.d 12 itu menceritakan saat pertama kali pertemuan Nabi
Muhammad Saw dengan malaikat Jibril, dimana Muhammad waktu itu sedang
melakukan pengasingan diri lengkap dengan jasad fisiknya (lahir-batin)
didalam gua Hira pada saat menerima wahyu pertama.

Dan penglihatan terhadap Jibril ini dilakukan dengan mata kepala Rasulullah sendiri, lahir batinnya beliau melihat, serta "hati Rasul tidak pula mendustakan penglihatan matanya"

Lalu pada ayat berikutnya (12), kita semua ditanya oleh Allah Maka apakah kamu hendak membantah tentang apa yang telah dilihatnya ?

Jauh-jauh
hari ternyata Allah sudah mempertanyakan keraguan yang ada didalam diri
kita atas apa yang telah pernah dilihat oleh Rasulullah Muhammad Saw,
sehingga semakin menjelaskan bahwa kejadian di Gua Hira itu adalah
nyata dan kongkrit dan tidak bisa terbantahkan.

Nah,
selanjutnya kejadian digua Hira ini berulang kembali pada saat di
Sidratul Muntaha yang termaktub pada Surah yang sama pada ayat
selanjutnya, 13-18

13. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya itu pada waktu yang lain,
14. Di Sidratil Muntaha.

17. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.
18. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya yang paling hebat.

Rasanya sudah transparan sekali Allah menjelaskan ayat-ayat tersebut
kepada kita untuk dapat dimengerti serta dipahami bahwa semuanya
berlangsung dengan logis dan real.
Tetapi memang, sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, masing-masing
orang dapat berbeda didalam menafsirkan setiap ayat didalam AlQur’an,
mengingat memang kandungan yang ada pada AlQur’an begitu luas, indah
dan mempesona selain juga begitu ilmiah.

Keilmiahan
inilah yang rupa-rupanya masih agak sulit ditangkap oleh para alim
ulama dahulu kala, karena memang perkembangan peradaban tekhnologi pada
masa itu belumlah lagi secanggih sekarang ini, sehingga pernyataan manusia bisa terbang kebulan saja masih banyak yang takjub dan terheran-heran serta tidak percaya.

Memang
bisa dimaklumi, penerbangan keangkasa luar dengan menggunakan pesawat
terbang sendiri sebagai pelajaran struktur jagad raya baru dicapai
sekitar abad 18 Masehi. Sebelum itu cerita manusia terbang tanpa
pesawat hanya dijumpai dalam cerita wayang atau cerita mengenai Nabi
Sulaiman dengan karpet terbangnya atau juga mengenai cerita di Romawi
dengan kuda sembraninya.

Hal
ini juga kiranya yang menyebabkan orang dahulu cenderung mencocokkan
beberapa arti ayat AlQur-an sedemikian rupa, sehingga bagi mereka yang
selalu berkutat dengan bidang ilmiah yang membacanya menjadi berkesan
rancu, lucu dan irrasional. Padahal kita semua tahu dan sadar, AlQur-an
sangat jauh dari sifat-sifat tersebut

Comments are closed.