5 Harapan Allah Tentang Puasa
5 Harapan Allah Tentang Puasa
Mungkin ada yang bertanya, mengapa ALLAH Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya
masih berharap kepada manusia, bukankah DIA tidak memerlukan apa-apa
dari makhluk-NYA? Namun, ternyata ALLAH menaruh harapan atas kaum
beriman. Lima harapan ALLAH itu terungkap dalam rangkaian ayat tentang
puasa dan Ramadhan (al-Baqarah : 183-189), yaitu dalam bentuk ‘kalimat
harapan’ (la’alla) yang terdapat pada akhir beberapa ayat tersebut.
Dalam perspektif Bahasa Arab, la’alla, secara harfiah berarti
mudah-mudahan atau semoga, merupakan harapan faktual dan potensial,
yakni bahwa harapan itu berdasarkan fakta-fakta yang ada dalam diri
yang diharapkan dan karenanya sangat mungkin terlaksana.
Harapan pertama, (akhir ayat 183), la’allakum tattaqun, semoga kamu
menjadi orang bertakwa, dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah puasa.
Bahwa, shaimin dan shaimat diharapkan dapat meraih predikat ketakwaan,
tentu melalui proses aktif dan dinamis dalam suatu keberagaman yang
berorientasi pada sikap menjadi (to be) daripada sekadar memiliki (to
have).
Harapan kedua (akhir ayat 185), la’allakum tasykurun, semoga kamu
menjadi orang bersyukur, berhubungan antara lain dengan wahyu Al-Qur’an
yang diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan. Alquran adalah
hidayah ALLAH berupa petunjuk, nilai dan ajaran yang sangat penting
bagi manusia untuk mencapai derajat kemanusiaan tertinggi, karenanya
harus disyukuri melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an
tersebut.
Harapan ketiga, la’allahum yarsyudun, semoga mereka menjadi orang yang
terbimbingkan, dikaitkan dengan komunikasi intensif melalui doa kepada
ALLAH. Doa adalah medium yang sangat efektif untuk memperoleh tambahan
kekuatan dari sumber-NYA, yaitu Sang Pencipta yang sesungguhnya sangat
dekat dengan manusia ciptaan-NYA, bahkan lebih dekat dari urat nadinya
sendiri.
Harapan keempat (akhir ayat 187), la’allahum yattaqun, semoga mereka
menjadi orang bertakwa, merupakan pengulangan dan penekanan dari
harapan pertama, yang kali ini dikaitkan dengan pengindahan terhadap
ketentuan dan batas-batas yang telah ditentukan ALLAH dalam kehidupan
muamalat. Sikap ketaatan seperti inilah yang akan membawa kaum beriman
kepada ketakwaan.
Harapan terakhir (akhir ayat 189), la’allakum tuflihun, semoga kamu
menjadi orang yang menang dan berbahagia, berkaitan dengan sikap hidup
yang berorientasi kepada kebaikan dan kebenaran sebagai pangkat
kemenangan dan kebahagiaan.
Sumber :http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=134